Follow detikFinance
Jumat 21 Apr 2017, 08:53 WIB

Wawancara Menteri Keuangan

Kisah Sri Mulyani, Menteri Keuangan Perempuan Pertama di RI

Maikel Jefriando - detikFinance
Kisah Sri Mulyani, Menteri Keuangan Perempuan Pertama di RI Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Sri Mulyani Indrawati menjadi satu-satunya wanita yang menduduki kursi Menteri Keuangan Republik Indonesia. Bahkan terhitung dua kali sudah menduduki posisi yang sama pada pemerintahan berbeda, pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Wanita kelahiran Lampung, 26 Agustus 1962 tersebut diakui kepiawaiannya dalam bidang ekonomi tidak hanya di Indonesia, namun juga dunia. Lepas dari posisi menteri pada Mei 2010 silam, Sri Mulyani mendarat di Bank Dunia sebagai Managing Director.

Reputasi itu juga yang kemudian membuat Jokowi memboyong Sri Mulyani kembali ke tanah air. Dengan tugas pertama adalah mengembalikan kredibilitas dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sempat goyang dan diragukan banyak pihak.

Sri Mulyani menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia pada 1986. Lalu melanjutkan pendidikan ke University of Illionis Urbana Champaign, USA dan mendapatkan gelar Master of Science of Policy Economics dan meraih gelar Ph.D.of Economics dari universitas yang sama pada 1992.

Sebagai seorang perempuan, Sri Mulyani berbagi cerita secara khusus kepada detikFinance dalam rangka memperingati Hari Kartini, tentang bagaimana mengelola sekitar 72.000 orang pegawai Kementerian Keuangan. Mulai dari upaya agar bisa terhubung, menciptakan gerakan dan bisa saling menghargai.

Berikut kutipan wawancaranya.

Anda dianggap sebagai salah satu sosok yang berpengaruh di Indonesia. Bagaimana cara anda memimpin Kemenkeu yang mayoritas pejabatnya laki-laki?
Ya enggak laki-laki semua, di eselon I saya ada perempuan dua, di eselon II-nya juga minimal 30% untuk bisa dicapai.

Kepemimpinan itu sebenarnya enggak ada hubungannya dengan gender dulu ya, tapi kemudian gender di-mention itu bisa memperkaya. Saya rasa kalau kita memimpin satu organisasi, pertama kita harus punya connection dengan yang dipimpin. Jadi orang-orangnya. Kalau di Kemenkeu ada 72.000-an orang.

Orang-orang ini kan bukan sembarangan, mereka jadi bagian Kemenkeu karena dia punya tanggung jawab, punya tujuan organisasi. Kalau di Kemenkeu sudah sangat jelas, kita adalah penjaga keuangan negara. Jadi ada connection. Mereka tidak gerombolan liar, mereka punya tujuan punya fungsi dan tanggung jawab terhadap penerimaan negara, belanja negara, mengelola utang, dan aset negara.

Bagaimana cara anda menciptakan connection tersebut?
Kalau kita memimpin, kita harus punya connection. Pertama yang paling gampang adalah tujuannya sama enggak. Berarti pemimpin harus memahami tujuan organisasi itu supaya mereka juga, oh iya ngerti, cocok nih saya memang setiap hari masuk kerja berangkat jam 8 pulang jam 8. Yang saya kerjakan dengan yang diomongin menteri saya di sini, di situ, nulis di sini dan di situ kayaknya cocok. Jadi mereka connect. Mereka tidak punya pertanyaan si menteri itu punya tujuan yang sama enggak dengan kita.

Kisah Sri Mulyani, Menteri Keuangan Perempuan Pertama di RIFoto: Hasan Alhabshy


Apakah cukup kemudian hanya dengan connection?
Kalau dia punya connection, maka tahap selanjutnya adalah memotivasi, menciptakan suatu movement atau gerakan sehingga mereka itu menjadi ya tadi, kalau kita ingin Kemenkeu menjadi the best finance minister di dunia, saya mengatakan di dunia itu siapa? Ada 192 negara yang lain. Oke, yang paling bagus yang mana? Ada negara yang lebih maju. Oke, mereka itu seperti apa manusianya?.

Tugas pimpinan adalah bisa menciptakan gerakan motivasi sehingga orang punya sense tidak hanya purpose tapi juga progres. Kayaknya yang sekarang ini oke, tapi kayaknya kita bisa lebih baik lagi. Jadi ada beberapa value di sini, yaitu melayani, integritas, profesional, menuju kesempurnaan. Itu begitu saya masuk ke Kemenkeu, melihat lima nilai itu oke that's good. Saya pakai itu saja. Saya enggak usah bawa-bawa World Bank itu begini, dulu begini.

Oke, kamu kan punya value, let's talk about that value. Jadi saya ngomongin pakai bahasa mereka. Katanya kamu ingin integritas, ingin sinergi, jadi kalau lihat eselon satu ini mengusulkan yang satu, yang satu mengusulkan yang sana. Terus enggak ketemu, saya bilang di mana sinerginya? Nah mereka baru bilang oh iya ya. Begitu.

Kalau ada masyarakat komplain pelayanannya lelet atau di pelabuhan ada komplain mengenai barang-barang yang diperlakukan tidak benar, saya bilang pelayanan kamu bagaimana? Kita tugasnya menciptakan suatu environment berdasarkan value dan culture yang mereka sebetulnya sudah menyatakan. Sama seperti kalau begini, semua makhluk beragama, kalau yang Islam sholat lima kali terus bilang kamu baru sholat kok tingkahnya kayak begini. Kayaknya enggak cocok dengan yang kamu doain tadi. Jadi kita itu tugasnya adalah lead by example. Kalau mengatakan harus profesional ya kita harus profesional. Ya kalau kita harus efisien, ya harus efisien. Kalau ingin hemat ya penghematan.

Bagaimana cara anda menghadapi pegawai yang cenderung memuji secara berlebihan?
Kalau anak buah cenderung ingin melebih-lebihkan kita, kan senang menyenangkan bos seperti biasa. Kita yang harus bisa menahan diri, Sehingga mereka melihat konsistensi. Begitu konsisten, mereka percaya. Mereka merasa terkoneksi, percaya, mereka hormat, akhirnya mereka menjadi attach begitu dan tentu situasi seperti itu kita mengelola emosi dan motivasi dari anak-anak yang ada di sini.

Kisah Sri Mulyani, Menteri Keuangan Perempuan Pertama di RIFoto: Hasan Alhabshy


Jadi bagi anda, laki-laki atau perempuan sama saja sebagai pimpinan?
Rasanya laki dan perempuan enggak ada bedanya dalam soal kayak begitu ya. Kalau mereka tentu saja melihat kepada pimpinan perempuan agak berbeda, ini reseh enggak sih ? Kalau laki-laki ngomong sedikit perempuan ngomongin 10 atau lebih banyak. Si ibu ini lagi mood seperti apa, mungkin begitu kali ya.

Mungkin ada aspek seperti itu. Mungkin kalau cewek dandan lebih lama, kalau laki begitu. Kayaknya reseh banget, kalau baju kan biasa aja, kalau perempuan itu lebih masalah. Menurut saya yang seperti itu harusnya menjadi sisi positif saja bahwa anda memperkenalkan satu dimensi secara fisik, biologis, gender kita berbeda, namun secara profesional kita bergerak sama.

Hal lain seperti apa yang dibutuhkan oleh pimpinan?
Sebagai pimpinan, supaya anda efektif anak buah itu harus punya semacam respect. Itu bisa berasal dari macam-macam. Ada yang dipaksakan dengan mengintimidasi dan mengancam anak buah, kalau kamu enggak loyal saya pindahkan. Kalau kamu enggak lapor ke saya, saya ganti kamu. Jadi ada cara respect dan kewibawaan itu dibangun dengan cara intimidasi.

Ada cara yang anda dapatkan. Anda memperolehnya karena mereka mengakui. Caranya seperti apa yang tadi menurut saya, role model. Anda kalau ngomong A ya kerjakan A, jangan kalau di dalam Kementerian bilang A, di DPR B, di kabinet C, di media D. Waduh sudah kacau semua itu.

Konsistensi itu penting. Kemudian pengetahuan, ya mungkin kalau saya agak beruntung karena saya sudah pernah menjadi Menkeu, saya ada di Bank Dunia saya melihat banyak sekali banyak pengalaman dan kebijakan yang dilakukan. jadi anak buah melihatnya bukan karena saya ngawur, bukan dalam hal yang enggak-enggak.

Saya rasa itu saja. "Be connected and be part of it dan konsisten menjadi contoh". (mkj/wdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed