Follow detikFinance
Jumat 21 Apr 2017, 10:09 WIB

Wawancara Menteri Keuangan

Saat Sri Mulyani Sebagai Menkeu, Istri, Ibu Sekaligus Nenek

Maikel Jefriando - detikFinance
Saat Sri Mulyani Sebagai Menkeu, Istri, Ibu Sekaligus Nenek Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Cerita manis tentang Sri Mulyani Indrawati sepertinya tidak perlu diutarakan lagi. Semua orang rasanya bisa melihat perjalanan karirnya sebagai menteri yang kemudian berlabuh di Bank Dunia dan kembali lagi ke Indonesia sebagai Menteri Keuangan.

Tapi di balik itu, harus dipahami bahwa Sri Mulyani juga sebagai istri dari suaminya, ibu dari 3 orang anaknya dan juga nenek dari 2 cucunya.

Menjalani posisi tersebut ternyata bukan perkara mudah bagi seorang Sri Mulyani. Bahkan Ia menyebutkan, mengelola rumah tangga sama beratnya dengan Kementerian Keuangan. Kadang bisa lebih sulit.

Ia mengaku pernah dikritik oleh anak-anaknya karena tidak bisa menempatkan posisi, antara kantor dan rumah. Sri Mulyani juga sempat meminta anaknya agar bolos sekolah untuk ikut ke kantor. Banyak cerita unik lainnya.

Pada peringatan Hari Kartini, Sri Mulyani akan berbagi pengalamannya yang sukses melewati masa-masa sulit itu. Diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para wanita yang ingin menempuh jalur yang sama.

Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Sri Mulyani dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Saat Sri Mulyani Sebagai Menkeu, Istri, Ibu Sekaligus NenekFoto: Hasan Alhabshy

Ibu kan juga sebagai Menkeu dan juga istri serta ibu dan nenek. Bagaimana menjalankan itu semua?
Pertama mungkin kalau dibandingkan 10-20 tahun lalu yang waktu saya sekolah di AS ada suatu saat saya harus pisah dengan anak saya yang pertama, karena saya harus menyelesaikan disertasi.

Uhh zaman dulu itu menderita banget, karena belum ada internet. Anda cuma bisa kirim surat, suratnya datang 10 hari kemudian. Telepon itu mahalnya hampir memakan semuanya. Jadi kita punya jatah seminggu 7 menit, itu zaman dahulu kala. Itu penderitaan yang paling berat kalau bisa dikatakan. Tapi saya melalui itu. Alhamdulillah saya selesai disertasi, anak saya juga selamat saya pulang.

Kemudian ketika anak kita mulai sekolah dan tambah. Yang ini mulai sekolah, yang satu masih kecil, dan yang satu begini ya kalau di indonesia kita punya pembantu itu mungkin sangat mungkin dilakukan.

Apa bedanya ketika Ibu di Indonesia dan bekerja di Bank Dunia?
Kalau di Bank Dunia karena gajinya cukup besar, mereka biasanya juga bisa mempekerjakan nanny. Tapi mereka tetap tidak bisa melakukan managing rumah tanpa ada yang supporting, either punya nanny atau anda harus taruh anak di tempat penitipan anak. Tapi anda harus memiliki supporting, kalau nggak, ya nggak mungkin. Sehari 24 jam kalau anda di kantor 8 jam berarti anda harus somebody else yang melakukan management.

Bedanya di AS itu kalau pulang juga harus masak, laundry sendiri. Tapi nggak apa-apa, karena itu efisien dan manageable. Tapi itu sudah saya lalui masa-masa seperti itu.

Berat nggak Bu untuk melewati itu?
Ya berat, kurang tidur pasti. Tapi sebetulnya you can enjoy it. Artinya kalau kita menganggap anak-anak dikondisikan dari sisi karakternya mereka dari awal untuk bisa memahami kalau dua-duanya kerja, orang tuanya, waktu itu menjadi berharga. Jadi kita juga menjadi tenggang rasa. Anak-anak dibiasakan, kalau ini adalah family time, ya family time.

Bahkan kalau saya seperti saya sampaikan, anak-anak saya bawa ke tempat kerja supaya mereka tahu. Bagaimana pernah suatu saat mereka bolos sekolah saja, hari ini adalah ikut mama ke kantor. Jadi dia ikut saya ngajar diwawancara seperti ini. Kemudian dia heran si ibu ngapain kok ngomong terus. Dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Pulang dan mereka sudah tidur di mobil. Tapi dalam otak anak saya, oh ternyata kerja berat juga. Jadi kemudian mereka menghargai kalau mama pergi itu tidak main-main itu menurut saya bagus.

Apa itu cukup dilakukan sekali saja, atau bagaimana?
Saya rasa komunikasi dan pengertian. Tapi kamu tak bisa ekspektasi, apalagi kalau anak dari kecil kemudian menjadi gede, masalahnya beda-beda. Waktu balita, terus puberitas, remaja, berkeluarga. ada perbedaan dari itu. Ya selama itu harus dibuat mengerti.

Sebetulnya sama seperti tadi memimpin kementerian, connection itu harus di-establish and harus ada term-nya. Hubungan anak dengan ibu, anak dengan orang tua dan saya dengan suami itu harus ada kesepakatan. Sama suami harus ngobrol juga, ini acceptable atau tidak, kegiatan ini kayak gini, schedule-nya akan seperti ini. Jadi kadang-kadang saya harus keluar negeri, dia juga. Itu semuanya sangat transparan. sehingga dia juga tahu saya di kantor ngapain dan tahu schedule saya ngapain saja hari ini. itu yang menyebabkan kita bisa ya lebih dewasa untuk memahami.

Apa ada resep khusus untuk Ibu sendiri?
Kepada perempuan saya ingin menyampaikan, dulu saya pernah punya motivasi waktu muda. Waktu anak-anak saya masih kecil. Kalau saya keluar rumah kan ada perasaan guilty feeling ya. Duh anak saya. Coba kalau saya di rumah saya bisa ngajarin anak saya sendiri dan saya nyaman dengan anak saya bukannya saya ngadepin anak saya pusing gitu lho.

Berarti kan saya kalau pergi ke sekolah atau kerja itu saya menghukum diri saya sendiri. Makanya saya punya ambisi, kalau saya kerja saya harus bisa bertanggung jawab pada diri saya sendiri kalau yang saya kerjakan hari ini value-nya harus lebih besar, untuk men-justified guilty feeling saya.

Jadi kerjaan saya, kalau di kantor nggak cuma cengangas-cengenges gitu. Saya sampai bilang ke anak saya, jika kamu dapat kerjaan 10 dari bos, kalau bisa kamu kerjain 20. Bukan untuk menyenangkan dia, tapi untuk membayar guilty feeling tadi. Tapi di kantor kan kelihatan keren kan. Bosnya senang juga karena rajin banget. Makanya kemudian di-recognize. Makanya kemudian itu sesuatu yang tadi saya sebutkan me-manage guilty feeling ke arah yang positif.

Sehingga akhirnya, keluarganya bisa menghargai, kerja merasa puas dan kita coba manage melalui situasi yang transparan saja.

Bagaimana jenis komunikasi yang biasa Ibu lakukan?
Mereka juga tahu saya kerja di sini. Mama, how's your day today? Siapa yang paling nyebelin? Isu apa yang paling nyebelin? Siapa yang bikin mama ketawa? Terus berapa orang yang minta selfie hari ini?

Tapi kalau hari ini karena teknologi sangat mudah, kalau anda tanya soal kangen, saya tiap hari selalu komunikasi melalui whatsapp video, pake face time. Walaupun anak saya sekolah jauh di AS seminggu dua atau tiga kali kita ngobrol. Kamu makan apa hari ini? bagaimana sekolah kamu?

Jadi kayak kita dalam satu rumah saja. Cuma lewat teknologi. Dia juga kalau di rumah kadang-kadang juga di kamar ditutup. Sama saja lah. Cuma sekarang kamarnya jauh. di sana seberang laut.

Jujur untuk bilang kangen sama anak atau pasangan itu sepertinya sulit, bagaimana dengan keluarga Ibu?
Kalau bilang kangen ya bilang kangen, ya I miss u too. I think if you have a kind of relationship is what rewarding. Bentuknya bisa macem-macem, waktunya bsa macem-macem dan ekspresinya macam-macam, yang penting kan esensinya.

Anda punya nggak hubungan yang baik itu di antara saya dan anak saya dan suami. Saya bisa makan sama-sama, aku lagi malas ngomong ya capek banget, ya sudah diem. Coba dong salah satu bikin joke. Anda nggak perlu merasa pura-pura harus baik terus.

Tapi yang terakhir saya ingin sampaikan, dulu saya selalu menasehati diri saya sendiri karena saya pernah dikritik sama suami dan anak saya, Mom ini di rumah bukan di Kemenkeu, you are not playing as a boss gitu, saya ingin mama, bukan Menkeu. Oh ya sorry, sorry.

Jadi kadang-kadang kita juga harus self critical. Kalau di rumah kamu adalah Sri Mulyani. Kebetulan kalau dulu saya senang masak kalau di AS, jadi mereka begitu kalau sampai di rumah, she is my mom. Saya masak kita ngobrol, kita terus minta bantuan anak cuci piring. Terus ngomelin kenapa kok kamarnya berantakan. Jadi rumah sudah jadi ibu.

Jadi saya rasa itu saja. Yang penting jaga kita tahu perasaan masing-masing. Karena manusia kan at the end terdiri dari perasaan dan pikrian yang harus diperlakukan secara baik. Nggak ada bedanya jadi menteri atau jadi managing director. Esensinya kan apakah anda memahami perasaan di keluarga sehingga kita tetap merasa connect.

Anda menyaksikan video khas 20detik


(mkj/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed