Follow detikFinance
Rabu 19 Jul 2017, 08:18 WIB

Jelajah Calon Ibu Kota

Siapkah Palangka Raya Jadi Ibu Kota Baru RI?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Siapkah Palangka Raya Jadi Ibu Kota Baru RI? Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Memindahkan suatu ibu kota tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan dalam memilih lokasi saja, butuh kajian yang mendalam, dengan memperhatikan berbagai aspek yang akan ditanggung dalam beratus hingga beribu tahun ke depan.

Pulau Kalimantan menjadi pilihan terkuat lokasi calon ibu kota baru Republik Indonesia. Palangka Raya pun santer diberitakan bakal jadi pilihan, terlebih dengan adanya faktor historis yang dibawa dari Presiden Pertama Sukarno.

Lantas, seberapa siap sebenarnya Palangka Raya bila benar-benar menjadi ibu kota baru Indonesia?

Simak kutipan wawancara detikcom dengan Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran di Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Rabu (12/7/2017).

Sudah pernah ada rapat antara Pemprov dan Pempus?
Enggak ada. Belum ada. Cuma, waktu itu ada juga kunjungan dari Kepala Bappenas. Beliau menyampaikan, menanyakan soal kota Palangka Raya dan sekitarnya. Saya jawablah. Kalau memang jadi diletakkan di sini, di tiga daerah tadi (Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Gunung Mas), kami juga Kalteng punya laut.

Tapi juga Kalteng tidak seperti Provinsi lainnya yang pembangunannya pesat. Kalteng mungkin Provinsi yang paling tertinggal dari beberapa provinsi yang lain. Pelabuhan samuderanya kami belum ada. Jalan-jalan di daerah Kalimantan yang lain, kan mungkin karena sudah dieksploitasi tambang dan minyaknya, termasuk Kalsel. Lalu Kalbar juga yang berbatasan dengan Malaysia. Lalu Kaltim juga.

Jadi Kalteng itu ibarat raksasa yang belum dibangunkan. Alam masih terjaga. Cuma dulu ketika zaman reformasi, undang-undang kita tidak ada, memberikan izin-izin kebun itu tidak teratur.

Kalau begitu, apa Palangka Raya memang sanggup memenuhi syarat-syarat untuk dijadikan ibu kota baru?
Kalimantan Tengah kan enggak ada gempa bumi. Lalu kalau andai kata dibahas masalah asap, ini kan tergantung pimpinannya. Amerika saja di California bisa kebakaran. Itu kan tergantung manusianya. Yang penting kan budaya, manusia dan lingkungannya terjaga.

Siapkah Palangka Raya Jadi Ibu Kota Baru RI?Foto: Eduardo Simorangkir


Lokasinya sudah ada, bagaimana kesiapan infrastruktur di Palangka Raya?
Saya rasa, bicara soal pusat pemerintahan, membangun infrastruktur itu kan memang harus. Kan dipindah ke manapun kan infrastrukturnya juga harus dibangun. Kemungkinan, dulu kan ada transmigrasi. Kalteng kalau jadi ibu kota, kan tidak perlu transmigrasi lagi. Pemerataan ekonomi juga nanti kan rata antara tengah, timur, barat. Selama ini kan di Pulau Jawa terus. Sehingga DKI pun tidak layak lagi jadi pusat pemerintahan. Kemudian Jonggol, sama saja. Itu seperti ibu dan anak tiri aja di situ, sudah padat juga.

Risiko apa yang harus dihindari kalau ibu kota benar-benar pindah ke Kalteng?
Itu tidak ada resiko. Risikonya ya pemindahan ibu kota itu. Dananya? Kita mampu kok, kita bukan negara miskin. Emang negara ini miskin, cuma mencari uang Rp 100 triliun sampai Rp 200 triliun buat pindahin ibu kota? Kita ini kaya kok.

Bagaimana dengan ancaman lahan gambut dan air yang katanya tidak bersih?
Kita enggak usah jauh-jauh, lari saja ke sungai, itu sudah air semuanya. Namanya hutan itu, pasti sumber air tawar itu pasti ada dan besar. Tinggal sekarang kan keinginan-keinginan saja. Lagian kan bukan satu dua tahun memindahkan ibu kota. Ada waktu, supaya lahan yang ada itu bisa diamankan.

Palangka Raya berarti akan jadi kota penyangga?
Iya, penyangganya nanti.

Lantas bagaimana kesiapan Palangka Raya sebagai kota penyangga ibu kota baru nanti? Dari kesiapan infrastruktur dasarnya bagaimana, mulai dari jalan, listrik hingga air?
Ya makanya saya katakan tadi, dibangun saja itu pembangkit listrik mulut tambang itu kita ada batu bara. Pulau Jawa saja ambil dari Kalimantan untuk sumbernya. Kalteng juga punya, bisa kita bangun. Asalkan serius. Ini kan cuma soal keseriusan.

Kalau di Jakarta, kondisi begitu, Presiden itu bisa serius enggak kerja? Ini bukan masalah Patwal dan macetnya. Tapi sedikit-sedikit demo. Risiko itu di sini enggak ada. Penduduknya enggak ada. Presiden aman, umur panjang di sini.

Persiapan dari SDM di Kalteng dengan akan pindahnya ibu kota nanti bagaimana?
Kami kan tidak harus ada persiapan khusus. Kan yang mendesain kota dan sebagainya adalah pusat. Tentu kami selaku gubernur, akan meminta beberapa hal, seperti budaya dijaga. Tapi yang penting, supaya kami sendiri diberikan UU khusus, seperti DKI. UU khusus ini kan baru ada di 4 provinsi, Aceh, Papua, DKI, dan Yogya.

Masyarakat tanggapannya sejauh ini bagaimana?
Tentu ada yang setuju dan tidak. Sekarang anggaplah saya enggak setuju, tapi kalau memang Presiden menghendaki pindah ke Kalteng, suka tidak suka kami harus menerima. Yang penting, saya sebagai Gubernur meminta, jangan jadi seperti orang Betawi, malah lari ke pinggiran.

Saya cuma berpikir, andai kata terjadi pindah ke Kalteng, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, sendirinya pasti akan terbangun.

Ada kekhawatiran bahwa masyarakat asli akan terpinggirkan?
Ini kan tergantung orangnya. Bukan tergantung orang lain, tapi kita sendiri.

Ada arahan yang sudah diberikan ke masyarakat?
Belum. Kan belum, kami cuma menunggu.

Di masyarakat memang sudah ada euforia atau bagaimana?
Enggak terlalu, kami lihat di medsos juga enggak terlalu. Kami itu lebih banyak soal bagaimana makan dan anak-anak kami sekolah.

[Gambas:Video 20detik]

(wdl/wdl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed