Follow detikFinance
Jumat 21 Jul 2017, 12:01 WIB

Jelajah Calon Ibu Kota

Cerita Presiden Pertama Rancang Palangka Raya Jadi Ibu Kota RI

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Cerita Presiden Pertama Rancang Palangka Raya Jadi Ibu Kota RI Foto: Muhammad Abdurrosyid
Palangka Raya - Presiden Sukarno memiliki hubungan yang cukup emosional dengan Kota Palangka Raya. Kala memancangkan tiang pembangunan kota Palangka Raya pada tahun 1957, Sukarno bahkan harus menempuh waktu dua hari dua malam menyusuri sungai Kahayan.

Sukarno bahkan merancang desain tata kota Palangka Raya dari awal. Mulai dari tugu, Istana Isen Mulang, Bundaran Besar hingga ke-8 sumbu yang menyebar ke penjuru kota Palangka Raya. Palangka Raya katanya disiapkan sebagai Ibu Kota masa depan Indonesia menggantikan Jakarta yang pembangunannya banyak dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda.

Lantas, bagaimana sebenarnya mimpi Sukarno menjadikan kota Palangka raya sebagai Ibu Kota Republik Indonesia? Simak wawancara detikFinance berikut ini, dengan Pakar tata kota dan penulis buku 'Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya', Wijanarka saat ditemui di Palangka Raya, Kamis (13/7/2017).

Boleh diceritakan kondisi kota Palangka Raya secara historis bisa dikatakan Ibu Kota masa depan Indonesia?

Kalau kita bicara tentang Palangka Raya ada dua sudut pandang. Jadi Palangka Raya secara administrasi dan Palangka Raya sebagai kawansan terpadu. Secara administrasi wilayah Palangka Raya luasnya sekitar 2.400 km2. Nah di dalam wilayah tersebut, saat ini ada kawasan terbangun, terutama di sisi tenggaranya atau di sisi paling timur yang sekarang luasnya kira-kira baru 60 sampai 70 km2.

Di kawasan terbangun ini, di sini (Tugu Sukarno) ada embrio kota Palangka Raya, di mana pembangunannya ditandai dengan peletakan tiang pancang oleh Bung Karno pada tanggal 17 Juli 1957. Nah dari sini lah terbentuk suatu poros kota. Jadi titik ini kemudian di depan menuju poros, porosnya ke arah timur laut, itu ternyata kalau garis poros ini diteruskan menuju keluar Kalimantan, menuju keluar ke Pulau Jawa, sepertinya kok pas dengan Kota Jakarta. Jadi poros ini mengandung makna bahwa ini adalah (garis) imajiner yang menghubungkan antara Palangka Raya dan Kota Jakarta.

Kenapa harus di dekat Sungai Kahayan?

Jadi di sekitar sananya mungkin terkoneksi dengan Sungai Kahayan, di mana Sungai Kahayan merupakan sumber kehidupan bagi orang Dayak. Jadi dari titik ini lah pembangunan itu dilaksanakan. Secara konsep bahwa Kota Palangka Raya itu dirancang kota baru dan modern dengan luas 20 km x 60 km, bentuknya seperti persegi panjang. Jadi bentuk persegi panjang itu dalam budaya Palangka Raya itu adalah tempat yang suci. Dari luasan tersebut kawasan terbangunnya sekarang masih sekitar 60 sampai 70 km.

Apa makna jaring laba-laba yang dirancang Sukarno pada Bundaran Besar?

Secara rancangan kota, awalnya embrio ini menyerupai jaring laba-laba, ada bundarannya, ada bundaran silang 8. Angka 8 menunjukkan kepulauan yang ada di Indonesia. Bisa juga sungai yang ada di Kalimantan Tengah, bisa juga menunjukkan arah mata ingin. Nah berkaitan dengan rencana-rencana tata Ibu Kota, atau dijadikan Ibu Kota di sini, silang 8 mengartikan juga bahwa karena dulu Palangka Raya merupakan tengah-tengahnya NKRI. Jadi dari Palangka Raya itu maka pembangunan diharapkan silang ke seluruh penjuru NKRI.

Cuma, dalam perkembangannya jaring-jaring laba-laba tidak diteruskan dan hanya menyisakan embrio-embrio ini. Silangnya pun satunya belum terbangun. Jadi sekarang silangnya hanya 6 atau 7, kurang 1 yang belum terbangun.

Tata ruang kotanya sudah mengalami perubahan, tapi secara embrio kota masih bisa dilihat dari sumbu-sumbu ini. Ada rumah jabatan Gubernur, ada bundaran, itu semua satu poros. Dalam kaitannya dengan desain kota, biasanya kota-kota yang cosmic, biasanya Ibu Kota kerajaan, itu Ibu Kota selalu menampilkan poros-poros itu atau sumbu-sumbu itu. Seperti kalau di Yogyakarta itu punya poros Malioboro, nah di Palangka Raya ini ada poros jalan Yos Sudarso itu (Bundaran Besar).

Di Washinton DC juga ada porosnya, di Canberra juga ada porosnya, di New Delhi juga ada porosnya, jadi itu merupakan tanda-tanda memang embrio ini sudah disiapkan. Apa lagi dengan konsepnya tadi yang menyatakan bahwa kota ini adalah kota yang baru dan modern.

Secara konsep sudah ada, sekarang tugasnya kalau mau dikembangkan lagi apa masih bisa? Seperti apa nanti jika dikembangkan jadi sebuah Ibu Kota?

Kalau dilihat dari konsepnya tadi, kan sudah direncanakan memang seluas 60x20 km, sementara luas wilayah administrasinya sekitar 2.400 km2. Jadi ya kira-kira masih sekitar 1000 km2 lebih lahan yang kosong. Memang dalam kaitannya dengan tata ruang perlu direncanakan, tapi waktu itu direncanakan baru embrio ini, tapi seluas ini sudah disiapkan. Kita melihat juga bahwa Palangka Raya suatu kota yang wilayahnya terluas di Indonesia.

Apakah makna dari Monumen Tugu Sukarno ini? Kenapa pemancangan tiang, bukan peletakan batu pertama?

Sebetulnya ini kenapa harus namanya monumen tiang pancang, bukan peletakan batu pertama, karena dari kearifan lokal di sini membangun rumah itu harus ditancapkan tiang dulu. Nah, dari situ lah bahwa maknanya mungkin pembangunan kota di sini harus mengandung kearifan-kearifan lokal tersebut. Maka ya tadi, berupa rumah-rumah bertiang, walaupun perkantorannya tidak bertiang, jadi konsepnya itu modern.

Jadi ingin menunjukkan bahwa Palangka Raya waktu itu sudah modern dengan batu bata, tidak bertiang, ada gaya-gaya art deco. Nah itu seperti tower-tower itu, itu informasinya juga didesain dari Bung Karno. Jadi pada saat tahun 1959 pada saat Bung Karno datang lagi ke sini itu, Bung Karno melihat kantor-kantornya agak monoton, makanya disarankan untuk menambahi ornamen-ornamen tiang art deco itu supaya tidak monoton.

Kenapa art deco?

Bung Karno juga gemar dengan gaya-gaya art deco, Bung Karno juga gemar dengan konsep polivium, bundaran silang banyak. Bung Karno juga senang dengan Mal Washington DC. Jadi jalan Yos Sudarso itu seperti seolah-seolah Mal Washington DC-nya, di sini juga ada danaunya, dulu itu ada danaunya. Di Ibu Kota seperti Washington DC dan Canberra, itu memang dipadukan danau dan lahan basah dan lahan kering dan bangunan-bangunan. Nah ini juga memadukan itu.

Art deco itu dalam ilmu arsitek dari mana?

Art deco itu kan bayak sekali di Bandung, nah saya menduga, Bung Karno juga merupakan lulusan dari sana (ITB Bandung). Nah mungkin dia juga melihat gaya-gaya art deco seperti ada towernya itu. Nah dari situ lah mungkin dia juga terdorong. Dan ini konsepnya simetri.

Nama Palangka Raya selalu disebut-sebut jadi calon ibu kota, dari pandangan arsitektur apa yang membuat Palangka Raya bisa selalu jadi pilihan?

Dari sisi sejarahnya, memang Palangka Raya lebih populer karena dari dulunya ini persis berada di tengah-tengah, sekarang pun masih berada di tengah-tengah. Yang kedua, ini lahan kotanya masih sangat luas. Tadi saya sebutkan, bahwa wilayah administrasi kotanya sekitar 2.400 km2, jadi masih banyak sekali lahan yang kosong. Jadi seandainya nanti Ibu Kota pindah, itu kemungkinan besar adalah kota baru.

Kota baru pasti memerlukan lahan, pasti desainnya baru, sehingga memerlukan lahan yang baru lahan yang kosong yang bisa untuk direncanakan dan dirancang. Dengan luasnya Kota Palangka Raya ini, sepertinya Palangka Raya punya peluang untuk membangun kota baru. Cuma, mungkin tidak di embrio kota ini lagi, karena embrio kota ini tingginya sekitar 20 meter dari permukaan air laut. Sementara sekarang kan isunya ada kenaikan muka air laut, jadi perlu dicari lahan yang lebih tinggi dari 20 meter dari muka air laut. Nah di mana itu, ya ke arah barat sana di daerah Tangkiling (lahan 300 ribu ha yang telah disiapkan).

Kemudian ke arah Katingan dan arah Rakumpit itu kemungkinan itu tanahnya tinggi, dan kalau lihat secara peta lahan gambut, itu memang tidak seluruhnya Palangka Raya berlahan gambut, jadi di daerah Tangkiling ke atas itu, kalau dilihat peta lahan gambutnya, itu bukan lahan gambutnya, tapi itu mineral.

Apakah kearifan lokal suku Dayak dengan motif-motifnya nanti bisa dikembangkan?

Saya kira itu bisa. Jadi mungkin untuk penampilan arsitektural, mungkin untuk rumahnya harus nanti rumah bertiang, jangan sampai menapak ke tanah. Karena dengan bertiang, itu secara lingkungan membiarkan bumi bernapas, air bisa meresap ke dalam. Jadi itu juga suatu kearifan-kearifan yang mungkin harus dipertimbangkan juga, harus diakomodir juga kalau mau membangun kota di Palangka Raya.

Kelebihan Kalimantan Tengah dengan calon ibu kota lain?

Dari segi luasan kota memang Palangka Raya itu sangat luas, jadi mungkin Kalimantan Tengah mengusulkan, Kalsel mengusulkan, Kalbar mengusulkan, Kaltim mengusulkan, jadi mungkin tidak mengusulkan kotanya, tapi mengusulkan lokasinya. Lokasi yang masih kosong itu, nah itu yang perlu diperhatikan.

[Gambas:Video 20detik]

Tapi kondisi Kalteng dengan lahan gambutnya apa tidak rawan untuk pembangunan?

Jadi kalau kita melihat tren desain-desain ibu kota yang ada di luar negeri itu, selalu memadukan antara lahan basah dan lahan kering. Nah itu mungkin bisa dimanfaatkan sebagai hutan kotanya, sehingga itu memadukan antara arsitektur dan lingkungannya itu. Jadi mungkin akan lebih banyak danau-danau buatannya, sehingga ibu kota ini juga tidak hanya untuk sebagai temoat bekerja, tapi juga mengandung unsur rekreasi. Jadi orang bisa datang ke sini, bisa juga menikmati arsitektur kotanya. Tapi masalah desain itu kan nanti ya.

Katanya Ibu Kota baru nanti akan meniru Washington DC untuk penataan kotanya. Kira-kira nanti meniru Washington DC-nya seperti apa?

Memang Washington DC jadi tren ya. Jadi Washington DC itu banyak yang meniru, Canberra juga agak mirip-mirip, kemudian New Delhi juga agak mirip. Mirip polanya ya, jadi ada sumbunya, ada triviumnya, ada pola-pola danaunya. Nah itu juga mungkin bisa menjadi preseden karena memang Washington selalu menjadi (contoh).

Bandung pun dulu waktu Belanda mau memindahkan Batavia ke Bandung itu kan memang juga hampir mirip Washington ya, ada sumbunya, ada mallnya, ada mall lapangan terbuka, terus gedung sate itu. Jadi sepertinya memang mirip-mirip ke sana. Tapi ya kalau kita memang Indonesia ya sebaiknya cari yang lebih berkarakter Indonesia. Jadi tidak murni seperti Washington DC.

Syarat apa yang harus dipenuhi Kalteng jika mau jadi Ibu Kota dari pandangan seorang arsitek?

Ya kalau arsitektur itu kan inovasi ya, arsitektur itu kan tergantung pada lahannya mana. Arsitektur juga harus melihat karakeristik lahannya seperti apa, jadi maslah desain mungkin tidak bermasalah secara arsitektural, itu kan mungkin kan bisa dipecahkan dengan inovasi dengan teknologi.

Jadi syarat utamanya apa?

Syaratnya itu ya lahan yang masih kosong itu, itu yang harus disiapkan. Sebaiknya tidak di lahan gambut, meskipun lahan gambut itu mungkin gambut yang tipis, jangan terlalu tebal. (dna/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed