Follow detikFinance
Jumat, 25 Agu 2017 13:25 WIB

Dirjen Perikanan Tangkap KKP Buka-bukaan Soal Cantrang

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta - Usaha Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengusir kapal-kapal asing dari laut Indonesia mulai menunjukkan hasil. Berulang kali Ia menyebutkan bahwa potensi hasil laut Indonesia kini telah melimpah.

Hal ini pun membuatnya pede melakukan gebrakan lainnya dalam mendongkrak pendapatan nelayan melalui sumber daya perikanan di laut yang mulai melimpah. KKP juga melakukan pelarangan cantrang.

Guna membahasnya lebih detil, berikut wawancara khusus detikFinance dengan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Sjarief Widjaja di kantornya, Jakarta, Kamis (25/8/2017).

Potensi perikanan tangkap sekarang berapa?

12,5 juta ton. Dua tahun yang lalu 9,9 juta ton. Jadi kan 2016 itu 12,54 juta ton (diumumkan saat 2017). 2015 ada 9,9 juta ton, 2013 7,3 juta ton dan 2011 ada 6,5 juta ton.

Jadi bisa dilihat, dalam waktu 5 tahun naiknya hampir dua kali lipat. Otomatis, skala ekonominya kan naik. Tentu saja pedagang-pedagang, termasuk Perindo dan Perinus, ekspektasi kita bukan hanya naik 10-20%. Targetnya ya naik 300%. Meskipun itu skalanya sekarang masih kecil. Jadi kejar-kejaran.

Dorongan untuk swasta masuk sekarang bagaimana?

Dorongan swasta ya tinggi sekali. Terbukti mereka sekarang dalam dua tahun terakhir, permintaan izin-izin kapal baru meningkat. Mereka sudah tahu, ikan luar biasa. Bisnis perikanan jadi bagus, jadi sekarang ya semuanya pada tumbuh.
Kalau dilihat sekarang ada enggak nelayan antre BBM? Enggak ada. Nelayan sudah pada sibuk.

Apa artinya industri kapal perikanan dalam negeri tumbuh?

Tumbuh. Jadi sekarang dengan prinsip kedaulatan di awal itu sudah terjadi. Mulai dari persoalan melepas kapal-kapal eks asing keluar, combatting illegal fishing, kedaulatan ekonomi dan partisipasi masyarakat sudah mulai tumbuh.

Jadi sekarang langkah KKP selanjutnya apa?

Pencatatan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah KKP, kami baru mengumpulkan by name, by address kapal-kapal di Indonesia. Statistik mengatakan, 568 ribu kapal. Tapi barangnya kan enggak kelihatan di mana. Sekarang yang sudah mulai kita teliti, itu hampir 200 ribu. Betul-betul barangnya ada, ada di mana, punya nya siapa, ada.

Demikian juga nelayan. Kartu nelayan sudah mulai dinaikkan identifikasinya, nelayan sebagai profesi, itu hampir 1 juta kartu. Asuransi akhirnya mengikuti. Setelah itu permodalan mulai ikut.

Jadi sekarang kita ini ada tugas untuk memformalisasikan profesi nelayan. Yang dulu nelayan bisa siapa saja ke laut disebut nelayan, sekarang mulai diformalkan. Ini RT nelayan, profesi dan sebagainya. Pelan-pelan nanti kapasitasnya akan dinaikkan.

Bagaimana dengan kebijakan larangan cantrang?

Progresnya (pergantian) sudah mulai bagus. Kita pertama kali pegang data, ada sekitar 20 ribu unit. Setelah kita verifikasi, tinggal 11 ribu. Verifikasi lagi, tinggal 6.900 yang pakai Cantrang. Akhirnya sekarang kita sudah mulai pengadaan-pengadaan, pembagian-pembagian.

Mungkin di luar bayangan Anda, seperti jaring dan gillnet saja yang kita dorong ke nelayan, satu truk saja mungkin tidak lebih dari 10 unit. Jadi kalau kita bicara 6 ribu unit, bisa dibayangkan berapa truk itu.

Jadi sebetulnya itu kerjanya masif dan besar. Gede banget. Jadi sekarang bu Menteri mengarahkan pembagian alat tangkap diformalkan, dihadiri oleh pejabat, Gubernur, Kejaksaan, Kepolisian, kayak kita operasi miras atau narkoba. Diserahkan, yang lama ditarik, kemudian dimusnahkan. Misalnya seperti itu. Jadi supaya orang tahu.

Jadi alat tangkap cantrang yang sudah dikembalikan lalu dimusnahkan?

Sekarang pilihannya dimusnahkan. Karena kalau disimpan, terus bocor keluar, kepakai lagi, sama saja. Jadi kita harus ada solusi yang tepat untuk itu.

Sekarang kondisinya bagaimana?

Sekarang masih dikumpulin, masih ada di station-station kita, di pelabuhan maupun PSDKP.

Berarti 6.900 itu akan diselesaikan sampai Desember nanti?

Nanti akan ditarik. Targetnya begitu, kan arahan Presiden begitu. Mereka kerja sekarang.

Akan ada pelonggaran penggunaan cantrang lagi?

Enggak lah. Presiden sudah katakan kita harus move on. Jangan ngurusin Cantrang saja.

Target Desember bisa diganti semua?

Insyaallah. 6900 paket, macam-macam. Jadi kalau yang diganti 6.900, berarti alat tangkapnya ya 6.900 paket. Ada macam-macam. Nelayan itu rinci, dia misalnya minta gill net, yang pabrikannya ini, dari ini. KKP kan enggak bisa nunjuk gitu, lelang umum, ke siapa saja asal speknya masuk boleh. Tapi mereka minta yang spesifik mereknya apa misalnya. Tapi itu sama saja sebenarnya.

Subsidi solar nelayan mau dicabut bagaimana?

Konteksnya Bu Menteri jangan dipotong-potong. Pada waktu itu ke Pertamina, Beliau menyampaikan, bahwa bagi nelayan, mereka sanggup membeli solar dengan harga mahal. Kenapa? Karena tidak ada solar. Di daerah-daerah terpencil, itu kan saking begitu tidak ada solarnya sehingga dia solar harga berapapun dia sanggup membeli.

Artinya, sebetulnya kuncinya bukan di harga, tapi ketersediaan. Jadi beliau minta supaya Pertamina mendahulukan ketersediaan dulu. Harga enggak ada masalah. Karena nelayan di daerah-daerah ujung itu biasa membeli dengan harga mahal.

Artinya subsidi solar tidak usah ada?

Pada tahap berikutnya bisa begitu. Tapi tidak keduanya dipukul di depan.

Di mana saja wilayah yang nelayan masih susah ketersediaan solarnya?

Daerah kita (nelayan) itu kan enggak ada yang daerah kota. Nelayan itu di ujung-ujung, di mana suplai solarnya sulit. Kadang ada, kadang enggak, cuaca buruk susah.

Jadi ketersediaan dulu, baru subsidinya enggak usah. Kalau sudah tersedia, baru subsidi bisa dipotong. Karena harganya dibandingin dengan harga dia yang dulu. Dia bisa beli solar sampai harga Rp 30 ribu per liter. Dengan non subsidi mungkin Rp 10-11 ribu. (eds/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed