Follow detikFinance
Selasa 09 Jan 2018, 07:53 WIB

Wawancara Dirut Adhi Karya

Menanti Meluncurnya LRT Jabodebek

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Menanti Meluncurnya LRT Jabodebek Foto: Fadhly Fauzi Rachman
Jakarta - Pemerintah terus berupaya untuk menyediakan sarana transportasi massal untuk masyarakat. Saat ini, salah satu proyek yang sedang digenjot ialah pembangunan transportasi kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi.

LRT Jabodebek merupakan salah satu proyek transportasi terbesar yang digagas oleh pemerintah. Wajar saja, proyek tersebut juga masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi sebesar Rp 29,9 triliun yang belum lama diputuskan pemerintah.

Pengerjaan LRT Jabodebek dikerjakan dalam dua tahap. Saat ini, pihak PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor proyek sedang mengerjakan pembangunan tahap satu sepanjang 43 kilometer (km).

Saat ini, pembangunan tahap satu LRT Jabobedek tersebut telah mencapai sekitar 32%. Transportasi kereta ringan itu ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2019 mendatang.

Berikut ini petikan wawancara detikFinance dengan Direktur Utama Adhi Karya, Budi Harto, di Kantor Pusat Adhi Karya, pekan lalu membahas soal pendanaan proyek yang sempat berubah hingga perkembangan terkini dari proyek besar tersebut.

Bisa diceritakan bagaimana awal mula Adhi Karya mengerjakan proyek LRT Jabodebek?
Jadi LRT ini dibangun dengan penugasan dari Perpres (Peraturan Presiden) Tahun 2015, kemudian Perpres tahun 2016, dan paling baru Perpres tahun 2017. Yang intinya, pada saat itu, dari tiga Perpres itu menugaskan Adhi Karya sebagai kontraktor.

Perpres yang pertama dan kedua dulu semangatnya adalah proyek ini dari APBN (Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara). Kemudian yang berikutnya dikembangkan, dicari, untuk tidak menggunakan APBN, tapi dengan badan usaha. Akhirnya ditemuilah skema, PT KAI diberi PMN (Penyertaan Modal Negara) Rp 7,6 Triliun, Adhi Karya punya PMN Rp 1,4 triliun. Dari situ diminta mencari pendanaan dari perbankan, sehingga bisa mendanai Rp 29,9 triliun itu.

Dari situ pemerintah menjamin kelayakannya. Penjaminan kelayakan pemerintah itu melalui subsidi, kalau enggak keliru subsidinya itu selama 12 tahun, KAI-nya menerima subsidi, sehingga ini akan layak. Kemudian Adhi Karya sendiri karena sudah menerima PMN Rp 1,4 triliun, diminta PMN itu juga digunakan untuk investasi. Nah investasinya untuk Adhi Karya ini Rp 4,2 triliun dalam bentuk stasiun dan depo. Nanti akan dibeli atau disewa oleh KAI.

Dengan demikian, maka pemerintah tidak perlu mengeluarkan APBN Rp 29,9 triliun. Jadi cukup Rp 7,6 Triliun ke KAI, dan Rp 1,4 ke Adhi Karya, sudah jadi ini, dan ada subsidi selama 12 tahun.

Bagaimana akhirnya pemerintah bisa memutuskan nilai proyek ini Rp 29,9 triliun?
Itu begini, Rp 29,9 triliun itu asalnya Rp 23 triliun dari prasarana, kemudian sisanya itu sarana, rolling stocknya begitu.

Kenapa nilainya sempat berubah-ubah?
Enggak berubah-ubah sih sebenarnya, hanya berubah sedikit. Berubah sedikitnya itu karena ada tambahan stasiun, tapi enggak jadi, ada perubahan sistem sinyal saja.

Teknologinya berubah?
Iya teknologinya, jadi dengan sinyal yang baru ini headway-nya akan lebih pendek, sehingga kapasitas penumpang yang bisa dibawa oleh LRT lebih tinggi. Kita tunjuk LEN untuk itu, kemudian LEN akan kerja sama dari luar.

Kemarin juga sempat ingin buat perusahaan patungan, kenapa batal?
Perusahaan patungan itu tidak jadi, karena kereta api ini kan perlu penjaminan dari pemerintah untuk mendapatkan kredit pembiayaan. Kalau perusahaan patungan itu enggak bisa dijamin, itu harus BUMN. Kalau perusahaan patungan ini kan anaknya BUMN. Undang-undangnya begitu.

Pak Luhut dan Bu Sri Mulyani sempat mewanti-wanti agar tidak ada korupsi dalam proyek besar ini?
Saya kira itu saran yang bagus ya, jadi ini proyek besar, jangan sampai ada lubang-lubang yang membuat boros proyek ini, bukan hanya dikorupsi tapi juga tidak efisien. Jadi harus kita jaga betul supaya efisien, tidak ada kebocoran sana-sini.

Ada peningkatan pengawasan dari Adhi Karya supaya anggaran tepat sasaran?
Jadi pengawasan ada, kita meng-hire konsultan dari teman-teman BUMN juga, ada pendampingan dari TP4P, dari Kejaksaan. Ada pelaporan rutin kepada BPKP, jadi setiap akan melakukan, setiap tiga bulan ini dihitung volumenya oleh BPKP, kemudian nilainya berapa, baru dibayar.

Perbedaan LRT Jabodebek ini dengan LRT di negara-negara lain?
Ya pengalaman di negara-negara lain, LRT sebenarnya dibangun oleh pemerintah. Kemudian rolling stock-nya oleh swasta. Tapi kan kita juga hampir sama ini, ini dibangun oleh badan usaha, BUMN, tapi nanti dapat subsidi, tapi enggak selamanya hanya 12 tahun. Itu untuk tiket.

Progresnya sendiri sudah sampai mana?
Progresnya rata-rata sudah 32% ya, dari Cawang sampai Cibubur itu sudah 50%, kemudian Cawang-Bekasi Timur sudah 20%, Cawang-Dukuh Atas 15%. Itu tahap 1. Itu dikerjakan secara paralel panjang total 44 km.

Sekarang sedang fokus mengerjakan apa?
Sekarang kita memang sedang fokus pengerjaan sipil. Nanti bulan Maret kita sudah kedatangan untuk pasang rel. Pasang power supply, pasang sinyal. Girder-girdernya sudah sebagian besar.

Pemasangan rel rolling stock tunggu semua tersambung?
Pemasangan rel itu dilakukan bertahap. Ini sekarang sudah 7 km sudah bisa dipasang. Itu dikerjakan secara paralel.

Ada upaya percepatan pembangunan?
Ya kira-kira kita akan selesai di Februari-Maret, kemudian commisioning selama tiga bulan. Itu menunggu keretanya juga.

Berapa kereta?
Ada 32 set, datangnya bertahap. Itu dari PT KAI.

Kapan kira-kira kereta datang?
Yang jelas bulan Oktober itu sudah harus ada, karena untuk mengeset signal. Dua set harus datang.

Kalau untuk pembebasan lahan?
Pembebasan lahan sekarang yang besar itu 10 hektare di Bekasi Timur masih bertahap pengosongan. Kemudian yang mau belok ke Rasuna Said, masih ada satu titik yang belum bisa dikerjakan. Hanya tinggal masalah pembayaran, nilai kalau enggak salah.

Berapa anggaran pembebasan lahan?
Seluruhnya itu kalau enggak keliru Rp 1,6 triliun.

Berapa rata-rata harga tanahnya?
Beda-beda. Paling mahal itu ada yang Rp 30 juta mungkin ya di daerah-daerah Gatot Soebroto, itu enggak banyak tapi. Yang banyak di Bekasi Timur saja.

Waktu tempuh kalau sudah beroperasi?
Dari Cibubur sampai Dukuh Atas hanya 30 menit.

Keberangkatannya berapa menit sekali?
Sekitar lima hingga enam menit.

Berapa lama berhenti di setiap stasiun?
Berhentinya paling satu sampai dua menit lah.

Berapa kapasitas LRT ini dalam sekali angkut penumpang?
Sekali jalan kan bisa angkut sekitar 720 penumpang, dengan satu train set tiga sampai enam gerbong.

Berapa harga tiketnya?
Itu disiapkan dari pihak KAI, katanya sekitar Rp 12 ribu itu sudah subsidi pemerintah.

Tarif keekonomiannya?
Mungkin sekitar Rp 25 ribu- Rp 30 ribuan. Tarifnya flat.

Pembayarannya bagaimana?
Sudah modern, sudah cashless, ada kartu, tinggal tap saja.

Bedanya LRT Jabodebek dengan LRT Jakarta rute Velodrome Kelapa Gading?
Bedanya Jabodebek ini didanai oleh Pemerintah Pusat, kalau itu LRT Jakarta dari Pemerintah Daerah.

Nanti bisa tersambung dua LRT itu?
Nanti misalnya ada ketemu di stasiun, bisa bergantian. Nanti sampai ke Dukuh Atas semua, nanti bergantian di situ. Nanti di Dukuh Atas itu yang bangun macam-macam, gabungan.

Kesulitan dalam membangun LRT Jabodebek apa?
Ya mungkin dana ya haha. Kalau di kota besar itu musti kita karena keterbatasan lahan. Sehingga kita harus renovasi untuk membuat jaringan yang di atas. Kemudian seperti Jakarta ini, kita harus mengecek dulu di situ ada apa, misalnya ada pipa, ada kabel, macam-macam, jangan sampai merusak itu. Itu kan lama.

Kalau untuk di Indonesia bangun LRT cocok enggak sih?
Ya cocok, dari pada pakai bermacam-macam, berapa besar kan. Ini Rp 12 ribu sudah sampai Dukuh Atas. 30 menit doang, waktunya juga sudah bisa ditentukan.

Seberapa besar kurangi kemacetan lalu-lintas?
Nanti kan begini, sekarang pemerintah juga di samping menyediakan sarana transportasi masal, juga membangun pemukiman di sekitar stasiun, TOD. Jadi dengan demikian orang sudah enggak berkeliaran lagi, pulang kantor sudah masuk rumah.

Kalau TOD yang dibangun Adhi Karya bagaimana konsepnya?
Itu dekat stasiun, nanti misalnya jalan ke plasa, baru ada apartemen segala macam. Jadi penumpang enggak berkeliaran di jalan. Itu sudah mulai dibangun di Ciracas, di Cikunir. Ada lima yang sudah digarap, Ciracas, Jati Cempaka, Cikunir, Bekasi Timur.

Ada 16 stasiun untuk LRT ini, apa semuanya bakal dilengkapi hunian?
Mestinya harus ada TOD-nya, karena supaya penumpang bisa diarahkan ke situ. Nanti yang memungkinkan ada lahannya bakal dibangun hunian, kalau bisa 16 tempat itu ada semua.

Segmentasinya untuk siapa hunian itu nanti?
Itu segmennya, sesuai dengan arahan Bu Menteri BUMN (Rini Soemarno), bahwa setiap lokasi harus ada porsi untuk MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) sekitar 20% hingga 30%.

Berapa harganya?
Pe rmeter sekitar Rp 18 juta yang apartemen. Kalau MBR sekitar Rp 7 juta. Subsidi silang dari yg komersil kurang lebih. Tipenya studio, ada yang dua kamar.

Kembali lagi ke LRT, bagaimana pembangunan untuk tahap dua nanti?
Tahap dua 40 km. Jadi total dengan tahap satu itu sekitar 82 km hingga 83 km. Tahap dua Ini kami sedang merencanakan desainnya dari Cibubur ke Bogor. Tapi kan untuk memulainya harus tunggu aba-aba dari pemerintah terlebih dahulu.

Sudah ada proyeksi berapa nilai investasi untuk tahap dua nanti?
Mungkin sekitar Rp 15 triliun. Belum ada skemanya tapi.

Kapan dikerjakan?
Mungkin hampir selesai tahap satu, baru dimulai tahap dua.

Harapannya dengan proyek LRT Jabodebek ini?
Ya harapan kami LRT ini bisa selesai tepat waktu, kemudian bermanfaat. Bermanfaat dalam arti penumpang nyaman, murah, cepat, bisa mengurangi kepadatan lalu-intas juga. Bisa beralih ke transportasi umum. Saya kira nanti 2019 ini titik awal migrasinya masyarakat ke transportasi umum. Nanti ada LRT, ada juga MRT.

Optimis dapat selesai tepat waktu?
Januari 2019 itu kita lakukan uji coba, itu selama tiga bulan. Optimis, Mei-Juni 2019 itu bisa beroperasi penuh

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed