Wawancara Bos GarudaFood

Sudhamek, Korban Bully yang Jadi Orang Terkaya RI

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 09 Mei 2018 07:30 WIB
3.

Membesarkan GarudaFood

Sudhamek, Korban Bully yang Jadi Orang Terkaya RI
Sudhamek. Foto: Trio Hamdani/detikFinance

Selama membangun GarudaFood tantangan terbesarnya apa?
Bisnis itu sebetulnya adalah bagaimana kita bisa menjual, karena dengan menjual anda ada peluang untuk mendapat keuntungan, dengan dapat keuntungan anda punya peluang untuk diinvestasikan kembali, dengan diinvestasikan kembali bisa tumbuh lebih jauh lagi dan seterusnya.

Perusahaan itu tumbuhnya yang paling sehat, dananya itu bersumber dari profit, nomor satu. Nomor dua baru dana dari luar. Profit atau modal sendiri, ketiga baru pinjaman. Pinjaman itu pilihan terakhir. Jadi oleh sebab itu tantangan pertama adalah bisa menjual, dan untuk bisa menjual tergantung jenis industrinya.

Kalau di consumer goods (barang konsumsi), selama pengalaman saya di bisnis makanan minuman ini consumer goods ya untuk bisa menjual harus dibenahi distribusinya. Makanya distribusi itu yang asalnya itu adalah milik agen agen kami. Dulu istilahnya agen agen. Itu saya pelan pelan saya benahin sampai akhirnya menjadi bisnis kami. Tapi tetap masih bersama sama mereka. Pemilik pemilik yang lama yang masih tetap kepengin stay dengan kita sampai sekarang masih, kecuali yang memang sudah dijual lain ceritanya. Kalau distribusi itu partner kami cukup banyak.

Bagaimana tipsnya buat orang yang sudah punya produk tapi bingung menjualnya?
Makanya pertama itu distribusi dulu, bagaimana caranya menjual. Di Indonesia negara yang luas sekali 1,9 juta km persegi sehingga kawasan yang begitu luas ya bentangannya begitu panjang ya maka distribusi menjadi sebuah keharusan. Walaupun penjualan kita masih kecil di masing-masing daerah, tapi kalau itu bisa merata itu bukan hanya sebuah kekuatan, itu berarti juga omzet kan.

Nah setelah dapat omzet, dapat duit, ada profit dipakai untuk membangun merek ya, consumer goods. Kalau mau membangun merek berarti kita beriklan. Beriklan itu paling efisien itu adalah masuk di TV nasional. Jangan TV yang lokal. Kalau TV nasional itu menunjukkan produk kita sudah merata distribusinya. Jadi ini kalau telur sama ayam harus dimulai dari mana dulu, saya tetap akan mengatakan distribusi.

Suka duka membesarkan GarudaFood?
Ini kan perusahaan keluarga ya. Perusahaan keluarga selalu ada family issuefamily issue, ada bisnis isu. Bagaimana tantangannya adalah dua hal ini bisa terjadi aligment kan, bisa disinkronisasikan antara family issue dengan business issue. Kebetulan saya ini anak paling kecil jadi memang bukan tugas yang mudah sekali buat saya untuk meng-address dua persoalan ini. Kalau saya seandainya orangtua kan gampang, dia anak saya, saya bilang 'no' selesai sudah. Nah ini nggak bisa. Saya adalah youngest in the family. Itu salah satunya.

Kemudianan yang kedua juga dalam konteks itu juga bagaimana melakukan aligment antara pemilik dengan profesional. Jangan dikotomikan pemilik itu selalu benar, profesional juga nggak selalu benar. Yang selalu benar itu adalah kepentingan perusahaan. Makanya semua orientasi semuanya harus ke situ.

Nah saya disiplin dalam soal itu. Saya disiplin sekali. Selama saya menjabat CEO belum pernah saya mendapatkan satu sen pun, mendapatkan income dari GarudaFood kecuali dari gaji dan dari dividen. Jadi pemimpin itu harus jadi role model, memberikan contoh, sehingga waktu ngomong itu kita didengar. Credibility itu adalah sebuah kekuatan yang terbentuk melalui sebuah proses yang panjang dan konsisten. Panjang tapi kalau nggak konsisten juga nggak kebentuk. Itu membutuhkan disiplin pada akhirnya gitu.

Dari family issue mungkin sempat ada semacam perselisihan dengan kakak?
Perselisihan pasti ada tapi di keluarga saya itu seperti anak kecil, berantem abis itu rukun lagi. Itu adalah kekuatan dari ibu saya. Ibu saya selalu menanamkan nilai persatuan. Walaupun kadang kadang ada crash yang kadang tidak mudah, berat, tapi dengan nilai yang ditanamkan pelan pelan akhirnya bisa kita nomor duakan, akhirnya selesai dengan sendirinya.

Tapi biasanya kan yang terbentuk di masyarakat kalau bisnis keluarga yang mengendalikan itu anak pertama, sementara Anda anak terakhir. Itu nggak ada semacam benturan?
Makanya saya ini sebenarnya ada di pimpinan ini its not by design. Saya anak paling kecil. Saya nggak pernah dipersiapkan oleh ayah saya. Bahkan saya lulus, nggak lama ayah saya meninggal dua tahun kemudian. Jadi sebetulnya saya ini nggak pernah dipersiapkan oleh ayah saya apalagi jadi pemimpin.

Dulu saya sama ayah saya mau dibukain bisnis di Rembang tapi saya nggak mau karena pemikiran saya 'sudah lah, saya itu sudah disekolahkan sampai dapat dua gelar, kok masih membebani orangtua lagi' ayah saya itu betapa lelahnya menyiapkan pekerjaan untuk anak-anaknya yang jumlahnya 11 itu kan. Saya terus putuskan kerja ikut orang.

Keunggulan GarudaFood bisa bertahap sampai saat ini apa sih?
Setiap bisnis itu ada yang namanya IKSF/industry key success factor. Menerjemahkannya tidak sesimpel itu. Yang pertama adalah adanya teknologi mastery, penguasaan terhadap teknologi dan innovation. Jadi teknologinya harus dikuasai dan kemudian innovation. Teknologi utamanya kepada quality dan productivity. Innovation pada dasarnya untuk membangun sebuah keunggulan ada unique value differentiation/uvp-nya. Itu pertama.

Kedua adalah brand value karena ini kita di consumer goods, you have to built your brand. Brand itu pertanyaannya adalah how is you brand. Brand value dan itu membangun itu tidak hanya butuh uang banyak, butuh waktu yang panjang, butuh kecerdasan tersendiri. Kreativitas lah lebih tepatnya.

Ketiga adalah distribution network itu. Makanya dulu yang saya benahin pertama di situ, distribution network. Tanpa punya distribution network, anda nggak akan bisa memenangkan persaingan itu. Ketiga itu kemudian diturunkan sampai jadi activity plan dan diukur dan itu diukurnya dari waktu ke waktu.

Klik next untuk melanjutkan