Blak-blakan Si 'Menteri Segala Urusan'

Wawancara Khusus Menko Maritim

Blak-blakan Si 'Menteri Segala Urusan'

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Jumat, 20 Jul 2018 17:35 WIB
Blak-blakan Si Menteri Segala Urusan
Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Sosok sensasional Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan selalu menjadi perhatian. Dengan sikapnya yang tegas dan penuh ceplas-ceplos, setiap pernyataan yang keluar dari mulut jenderal bintang empat ini selalu menarik untuk disimak.

Kepada detikFinance, pria kelahiran Balige, Sumatera Utara, 70 tahun yang lalu ini menjawab sejumlah isu yang menghampirinya belakangan. Luhut berbagi seputar perannya sebagai ketua pelaksana agenda akbar IMF-World Bank Annual Meeting di Bali, Oktober mendatang.

Luhut menjawab tudingan mengenai sosoknya yang kerap disebut 'menteri' segala urusan, dan tanggapannya soal divestasi Freeport yang disebut proyek pencitraan pemerintah saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, lulusan terbaik Akademi Militer Nasional angkatan 1970 ini juga berbagi kesan mengenai dominasi China di Indonesia hingga pilihan Cawapres yang tepat untuk pasangan Presiden Joko Widodo pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Berikut wawancara lengkapnya:

Ketua Pelaksana IMF-World Bank Annual Meeting

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Rachman Haryanto
Terkait super menteri sepertinya juga bukan goyon. Kalau kita lihat, contohnya gelaran IMF. Banyak orang mikir itu harusnya yang urus Menko perekonomian, kok Menko Maritim?

Nggak juga sih. Sebenarnya kan saya itu kan bukan ketua substansi dari materinya. Saya kan ketua penyelenggara. Penyelenggara kan bagaimana mengorganisir dari berbagai macam institusi supaya bisa cepat, padu, baik. Karena kan menyangkut nama kita kepada 189 negara. Kalau substansi, itu kerjaannya Ibu Ani (Menteri Keuangan) dengan Gubernur BI Pak Perry. Saya ikut karena saya juga ngertilah ekonomi dikit-dikit.

Dan jangan lupa, di maritim itu kaitan ekonominya besar loh. Faktor laut itu kita punya US$ 1,3 triliun potensi ekonomi per tahun yang harus bisa kita kelola. Tapi kita selama ini kan baru 8% yang kita kelola. Jadi saya paham juga bagaimana mengelola ekonomi dengan baik. Presiden juga perintahkan saya akan itu, dan saya rasakan betul manfaatnya. Karena saya juga harus koordinasikan TNI/Polri, BIN. Mungkin karena latarbelakang saya tentara, sehingga Presiden mikir, ya Luhut ini ngerti ekonomi, ngerti tentara, ya suruh dia saja deh yang ngurus.

Persiapannya sejauh ini?

Kita sudah 85%. Dan ini juga dipuji Presiden World Bank dan Direktur Eksekutif IMF, kita selalu ahead of schedule. Dan mereka menganggap persiapan terbaik yang mereka lihat.

Dananya cukup besar sampai Rp 800 miliar. Untuk apa saja?

Memang alokasinya Rp 810 miliar, tapi kami gunakan Rp 566 miliar. Kira-kira Rp 500 miliar itu untuk persiapan macam-macam, dan yang sebagiannya juga itu akan kembali juga ke negara, karena pesertanya juga akan bayar juga. Yang Rp 66 miliar juga untuk perbaikan infrastruktur yang juga itu akan menarik wisata pada Indonesia.

Tapi dampak sebenarnya nanti, kita nggak sadar ini. Terus terang saja, dengan adanya IMF-World Bank ini memboost ekonomi kita juga. Kenapa? Karena kita terpaksa memperbaiki apron di Denpasar sehingga sekarang penumpang mulai September ini bisa naik 1,2 juta orang.

Dan itu akibatnya penerimaan negara bisa naik US$ 1 miliar lebih dan peningkatan okupansi hotel naik dari 60-70% ke 80%. Jadi efeknya sangat-sangat banyak. Jadi kalau ada orang yang bilang malmatiana (?), saya juga pengen lihat orang itu ngomong sama saya. Biar kita duduk.

Saya kan pernah berdagang. Jadi saya ngerti, jangan dilihat karena saya tentara. Saya ngerti juga angka-angka. Jadi kalau hanya dengan perbaikan apron saja, itu US$ 556 miliar itu sudah balik. Sudah tambah untung. Jadi yang ngomong itu kebetulan orang-orangnya saya lihat nggak ngerti dagang sih.

Kesiapan 85%. Tapi ada dua hal yang harap-harap cemas. Pertama gunung agung dan kedua terorisme. Meskipun kita tahu polisi kerja keras di mana-mana. Itu bagaimana?

Ya kalau gunung agung, itu memang ada erupsi di September. Sejak itu kita terus terang agak panik. Tapi kemudian dengan jernih kita lihat, coba dibuat simulasi di komputer, kalau dia seperti di tahun 1963 (benchmark terbesar di tahun 1963), maka yang terjadi adalah, itu hanya 12 km radiusnya saja yang terpengaruh. Sedangkan tempat event kita itu ada 78 km dari itu, dan angin kebetulan bertiup ke barat, dan acara ada di sebelah timur. Jadi nggak akan ada pengaruh.

Sekarang malah kita berpikir, itu jadi tourist attraction juga, membuat seperti di Hawaii. Jadi itu nggak jadi issue lagi buat kita. Kita cuma mengelola pemberitaannya saja.

Menyangkut terorisme, memang sepanjang yang kami tahu, kita sudah melakukan langkah-langkah yang sangat hebat di situ. Tapi apakah ada yang bisa menjamin? Nggak adalah. Siapa sih negara yang bisa katakan dia imune terhadap terorisme? Nggak ada. Tapi saya pikir karena ini kepentingan nasional, ya kita berdoa semuanya baik-baik.

Tentara kan selalu ada rencana cadangan. Kalau semua perhitungan sudah oke, tapi tiba-tiba ada hal yang tak sesuai rancangan, bagaimana?

Ya kami buat contingensi plan. Kita semua buat, karena saya juga tentara, di otak saya, saya buat contingensi-contingensi seperti itu. Kita sudah mulai gladikan. TNI sudah lakukan, dengan polisi, dengan BIN, sudah kita lakukan terintegrasi.

Saya pikir saya quite optimist dengan teman-teman dari Polri, Densus juga dengan BIN maupun TNI, mereka kerjanya sangat kompak. Kita berdoa.

Terkait efek domino tadi, jaminan untuk pengusaha menengah ke bawah bagaimana?

Ya kita UKM, UKM itu justru sangat merasakan. Karena semua merchandise yang ada di sana, kita coba UKM yang menyelenggarakan. Bukan hanya di Bali, juga seperti di Lombok, Labuan Bajo, Banyuwangi, Borobudur dan Danau Toba, kita dorong mereka, kita train mereka. Sehingga ini nanti bisa berlanjut terus setelah selesai IMF-World Bank meeting ini.

Kisruh Freeport

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Rachman Haryanto
Soal Freeport, dulu katanya Bapak di tahun 2015 menolak yang soal beli saham Freeport. Sekarang posisi bapak sebenarnya seperti apa?

Ya sekarang posisinya sudah posisi ini dong. Kita kan bisa beda pendapat, tapi at the end, kita sekarang pada posisinya saya pikir sudah bagus. Negosiasinya dengan Ibu Rini, Pak Jonan, sudah baik. Ini HoA sudah dicapai. Bahwa ada di sana sini masih kurang, ya sambil jalanlah.

Saya kira nggak akan ada orang mau pengen ramai-ramai. Kan kalau ramai-ramai juga, sahamnya Freeport juga makin terjun bebas nanti. Jadi orang terus melihat negatifnya saja. Kadang-kadang saya mikirnya juga melihat, kok republik kita ini berpikir negatif terus sih. Kan nggak mau dong si Richard Arkinson mau sahamnya turun. Kalau dia ribut, pasti turun sahamnya. Pastilah mereka akan cari solusi kalaupun masih ada sedikit-sedikit perbedaan di sana sini.

Sekarang kalau perusahaanmu kau bikin ribut, kau sebenarnya membunuh dirimu. Kenapa? Sahammu turun. Saham turun mau jadi apa? Jadi dia musti memoles bahwa suasananya kondusif.

Benarkah bahwa Freeport yang sebenarnya pengen cepat-cepat divestasi. Tapi selalu diurusi urusan politik? Karena banyak benalu-benalu?

Iya, betul.

Seperti apa benalu itu?

Saya nggak maulah nyinggung itu. Pasti banyaklah. Dulu kan bebas merdeka tak jelas itu. Sekarang sudah zaman Pak Jokowi. Pak Jokowi itu very clear, mau semua dilakukan transparan. Jadi transparan ini penting dilakukan sehingga tidak ada main-main di dalamnya.

Makanya kalau orang bilang, kita bikin koridor 1, 2, 3, 4 untuk investasi itu. Kita tawarin China. Bukan hanya China saja, dari bulan pun kalau ada yang mau, silakan, asal dia memenuhi kriteria kita.

Tiongkok itu saya beri tahu, harus memenuhi kriteria kita. Pertama, ramah lingkungan. Kedua, menggunakan tenaga Indonesia sebanyak mungkin. Kalaupun kau masih kurang, awal-awal tiga-empat tahun, oke, tapi kau harus bikin pendidikan supaya ini (tenaga kerja) bisa diganti. Yang ketiga, harus terapkan teknologi transfer. Yang keempat, harus turun ke hilir. Kita nggak mau lagi dong hanya ekspor raw material. Jadi kalau kau mau investasi, harus dilihat nilai tambahnya.

Kan baru sekarang dieksekusi. Bertahun-tahun nggak pernah. Sekarang anda lihat Morowali, sekarang sudah sampai kepada carbon steel. Halmahera Utara kita akan mau sampai ke lithium baterai.

Soal Tiongkok, sebagian masyarakat kita kayaknya alergi dengan Tiongkok. Bagaimana?

Nggak juga. Tiongkok itu masih investasi nomor tiga atau empat di Indonesia. Nggak ada yang aneh itu.

Bapak dulu kan diplomat. Sebetulnya ada problem apa dengan Tiongkok?

Kita menurut saya bego. Pak CT (Chairul Tanjung) itu bilang sama saya, Pak Luhut, duit yang paling murah itu dari Tiongkok, Pak. Beliau yang bilang sama saya. Kita kok ribut-ribut.

Tapi duit itu kan nggak ada Tuhannya, nggak ada negaranya. Di mana dia bisa berdagang dengan baik, nah itu yang kita proteksi. Asal jangan sampai kita bikin perjanjian yang merugikan dengan Tiongkok. Itu saja. Amerika saja ambil dari Tiongkok.

Sekarang mereka malah trade war. Kita lihat ada peluang. Peluangnya, kita ekspor kelapa sawit banyak ke sana. Kalau kelapa sawit dari kita dibeli, harganya naik, 44% petani-petani kecil kita menikmati karena China membeli.

Pilihan Cawapres Jokowi

Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Rachman Haryanto
Soal Pilpres, Pak Jokowi sudah menyebut beberapa nama. Tapi kok nama Pak Luhut nggak masuk ya?

Saya nggak lah. Saya sudah mensyukuri apa begini, dan saya lihat bahwa Presiden Joko Widodo itu seorang figur yang bisa melakukan perubahan-perubahan buat Indonesia. Saya kenal semua calon-calon yang ada itu. Saya kenal sekali.

Jadi saya pikir dari apa yang ada di Presiden Jokowi sekarang, dan itu diakui oleh Presiden World Bank maupun Lagarde (IMF), dia seorang Presiden yang sangat bisa menjadi contoh pada presiden-presiden di negara-negara lain. Beliau itu paling fokus pada pekerjaan-pekerjaan saja, tidak ada yang lain-lain. Dan itu saya pikir menguntungkan buat Indonesia.

Bapak mengenal semua calon, pasti Bapak bisa bisiki dong Pak Jokowi. Bisikin apa Pak?

Nggaklah. Presiden itu juga banyak kupingnya. Beliau makin lama makin paham peta politik ini dan buat saya sangat baik buat Indonesia.

Pertimbangannya lebih ke mana, tantangan ekonomi atau elektabilitas?

Saya pikir soal Presiden, menurut saya, dia akan pilih orang yang bisa dekat dengan komunitas Islam, kedua tentunya bersih, mungkin dia ngerti ekonomi bisa juga, tapi ya tentunya yang cocok dengan pribadi juga. Diendorse oleh partai-partai politik yang koalisinya.

Jadi bukan berarti harus orang partai?

Bisa ya, bisa tidak. Yang penting kecocokan pribadi paling penting. Dan sekarang Beliau dengan pengalamannya yang bagus, dengan network yang makin luas, beliau sudah punya pilihan-pilihan itu.

Balik lagi soal Freeport, Bapak kan paham juga peta bisnis dan benalu-benalunya. Soal menangkis benalu-benalu itu, ada kesiapan dari Bapak untuk tetap di kabinet?

Saya nggak pernah pikirin begitu. Saya kan sudah umur 70 tahun, jadi saya sudah punya semua. Saya kalau bisa mengabdi, ya mengabdi. Kalau tidak, ya saya bisa kerja di tempat lain. Saya nggak terlalu pikirkan itu. Makanya saya selalu senang-senang saja, happy-happy saja.

Halaman 2 dari 4
(eds/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads