Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 25 Jul 2018 17:45 WIB

Wawancara khusus

Bos Freeport Ungkap Fakta-fakta Kesepakatan Lepas 51% Saham

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Pemerintah dan Freeport McMoRan inc menyepakati divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia (PTFI). Kesepakatan ditandai penandatanganan Head of Agreement (HoA) antara PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum dengan Freeport McMoRan.

Kesepakatan ini memicu kritik. Ada yang bilang HoA tidak mengikat sehingga berpotensi untuk batal. Bahkan ada yang menilai kesepakatan itu pencitraan lantaran dilakukan dalam tahun politk. Di 2018 ada pemilihan kepala daerah (pilkada) dan persiapan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres) 2019-2024.

Menjawab kritikan ini, Direktur Eksekutif PTFI Tony Wenas membeberkan kesepakatan divestasi 51% saham perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. Wawancara berlangsung di kantor PTFI JL HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Berikut petikannya:

Freeport melihat HoA yang sudah ditandatangani seperti apa?

HoA ini lebih membicarakan soal divestasi baik struktur maupun harganya. Namun ini satu paket dengan isu lainnya yakni soal perpanjangan izin operasi sampai 2041, pembanguan smelter, stabilitas perpajakan dan stabilitas hukum. Ini tentunya semuanya memberikan kepastian operasional ke depan untuk PTFI

HoA ini tidak mengikat, masih mungkin batal, komitmen Freeport seperti apa?

Komitmen kami tetap kesatuan paket ini perlu dijalankan bersama dengan pemerintah. Kalau dibilang mengikat atau tidak, saya contohkan misalnya beli rumah real estate, IMB-nya belum dipisahkan, HGB-nya masih induk, sehingga tidak bisa perjanjian jual beli. Setelah dokumen lengkap baru perjanjian jual beli, kira-kira seperti itu. Kewajiban moralnya ada di situ. PTFI intensinya untuk menyelesaikan ini. Pokoknya harus bisa selesai.

Divestasi ini kan jalannya panjang, ada yang bilang divestasinya ribet, sebenarnya komitmen Freeport untuk divestasi seperti apa?

HoA sudah ditandatangani. Ini menunjukkan niat kami untuk divestasi 51%. Apapun yang terjadi di masa lalu nanti kita berpolemik tidak berkesudahan. Intinya kami sudah siap divestasi. Ini kan hal yang baik. Niat baiknya sudah jelas terlihat.

Ada yang singgung terkait pembelian hak partisipasi Rio Tinto yang dibilang rumit, sebenarnya seperti apa?

Sebenarnya lebih mudah, dengan adanya Rio Tinto di situ dan dia mau jual akan lebih mudah dan buktinya memang iya. Rio Tinto itu memang jadi partner kami di proyek Grasberg dari tahun 1996, perjanjiannya berdasarkan persetujuan pemerintah. Jadi pemerintah juga tahu.

Selama itu dari 1996 sampai sekarang dalam laporan kami selama ini juga ada Rio Tinto di dalamnya, semua laporan ada. Jadi dengan Rio Tinto yang mau keluar dan ketika pemerintah mau ambil 40% hak partisipasi Rio Tinto jadi lebih mudah. Lalu juga ada saham Indocopper yang menjadi 1 paket sehingga pemerintah bisa dapat 51%.

Jadi divestasi ini lebih mudah dan lebih murah?

Iya, karena proses juga ini sudah dilalui dengan berbagai macam pendapat dari institusi keuangan, penasihat keuangan dan lain sebagainya.

Setelah divestasi selesai nanti strukturnya PTFI seperti apa?

Jadi ini kan partnership antara Freeport dengan Inalum, tentu dilakukan bersama-sama dengan catatan bahwa yang me-manage operasional Freeport. Karena kami juga investasi US$ 8 miliar di tambang bawah tanah itu. Semua dilakukan sesuai dengan long term investment plan yang sudah ada sekarang dan disepakati bersama. Jadi kuncinya adalah satu partnership antara Freeport dan Inalum.

Total investasi berapa?

Total investasi US$ 15 miliar- US$ 20 miliar sampai dengan 2021

Apakah biaya itu akan ditanggung dengan Inalum juga?

Sedapat mungkin itu dibiayai oleh PTFI sendiri. Kalau memang kurang uangnya ya ujungnya minta ke pemegang saham. Tapi intinya ini akan dilakukan sesuai dengan rencana long term investasi yang dibuat.

Progres pembangunan smelter sudah sejauh apa?

Keseluruhannya ini memang 1 paket, tapi memang sudah dilakukan kesiapan lahan, engineering desain, detil desain, pemaparan lahan siap. Bahkan kami juga sudah membelanjakan lebih dari US$ 100 juta untuk persiapan itu. Tapi semuanya tergantung paket kerja sama itu. Lokasinya ada di Gresik tapi ada alternatif lain kami akan kerja sama dengan Amman Mineral.

Rekomendasi lingkungan seperti apa?

Kami sedang intensif diskusi dengan Kementerian LHK dan dalam pertemuan reguler mencari bagimana jalan keluar khususnya mengenai pengelolaan talium. Ini perlu dibuat site spesifik mengingat kondisi cuaca dan kondisi alam di Papua khususnya di Grasberg, curah hujannya tinggi, dengan tebing sangat curam.

Bayangkan tambangnya ada di 4.000 meter di atas permukaan laut. Pabrik ada di 3 000 meter di atas laut, kota Tembagapura ada di 2.000 meter di atas permukaan laut dan tempat pengendapan talium kira-kira 50 meter di atas permukaan laut. Jadi jarak yang ada kira-kira sekitar 80 km dan ada ketinggian 4.200 meter di atas laut, ini sangat unik.

Citra Freeport di mata publik negatif, sebetulnya seperti apa kontribusi Freeport untuk negara?

Kalau kami dibilang kontribusi sedikit katakanlah oh royalti emasnya cuma 1%. Tapi kenyataannya bukan 1%, ada double royalti yang disepakati di 1997, royalti tembaga 3,7% bahkan ada double royalti juga. Jadi keseluruhan penerimaan negara ini besar sekali, dari pajak penghasilan badan, kalau perusahaan lain hanya bayar 25% Freeport itu bayar 35% karena kontrak karyanya bicara seperti itu. Kemudian ada pajak-pajak lainnya, pajak daerah dan royalti yang jumlahnya keseluruhannya miliaran dolar.

Jadi kalau dari pendapatannya Freeport katakanlah 100% revenuenya, 60% itu penerimaan negara masuk ke Freeport 40%. Itu sekarang, kedepannya setelah bersama Inalum bisa lebih lagi, barangkali 75% untuk negara, 25% untuk Freeport.

Katanya Freeport dan Pemerintah sama-sama capai untuk proses divestasi ini, kenapa?

Ya kalau soal cape, ya memang letih juga. sudah cukup lama kami melakukan negosiasi selama 1,5 tahun, cukup intens dengan berbagai macam hal. Tentu sangat melelahkan, saya yakin timnya pemerintah dan Inalum juga lelah. Tapi saya yakin keputusan ini baik untuk semua pihak. Ini juga harapannya baik untuk masyarakat, khususnnya untuk masyarakat Papua. Jangan lupa pemerintah provinsi juga dapat saham. Jadi ini hasilnya baik, walaupun letih tapi kalau hasilnya baik saya senang, malah letihnya jadi hilang.

Berapa sebenarnya potensi keuntungan PTFI ke depannya?

Cadangannya memang masih sangat besar kalau tidak salah tembaga 38 miliar pound, cadangan emas 38 juta ounce. Bahkan mungkin tambang ini masih bisa dikelola sampai di setelah 2041. Itu masih di tempat yang sama. Jadi ini masih menjanjikan. Tambang Grasberg ini tambang kelas dunia, jadi sangat baik bagi pemerintah dan Inalum ikut di dalamnya. Bagi kami juga baik ada partner.

Banyak yang curiga kesepakatan divestasi saat ini karena pencitraan politik?

Kami si tidak ikut berpolitik, yang jelas kami menganggap ini hal yang baik, dilakukan lebih cepat, ya lebih baik. Kami bahkan berharap selesai tahun lalu. Saya dengar ini timing-nya saja kebetulan jatuhnya sekarang, apalagi kita juga sudah cukup letih.

Intinya Freeport happy tidak dengan kesepakatan ini?

Ya kami happy, saya senang. Ini win-win buat semua pihak. Kita bisa punya partner dengan inalum, dan juga ada kepastian operasional sampai 2041. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com