Follow detikFinance
Kamis, 16 Agu 2018 12:23 WIB

Ke Indonesia, Mendag Malaysia Ajak RI Kerja Sama Mobil `Masa Depan'

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance
Jakarta - Malaysia baru saja memiliki kabinet baru di bawah kepemimpinan Perdana Menteri (PM) Mahatir Mohamad.

Sebanyak 13 menteri dilantik di hadapan Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V di Istana Negara, awal Juli 2018. Dengan demikian lengkap sudah jajaran kabinet Mahathir yang memimpin sejak 10 Mei.

Misi yang dibawa adalah kepastian keberlanjutan investasi dan semangat baru penciptaan regulasi yang lebih transparan.

Demikian setidaknya yang disampaikan Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell dalam sebuah sesi wawancara khusus dengan detikFinance dan sejumlah media dia Jakarta belum lama ini.

Dalam kesempatan tersebut, Darell juga menyampaikan rencana kerja sama dengan Indonesia dalam menciptakan industri otomotif baru berupa mobil masa depan.

Berikut petikan wawancaranya:


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Apa tujuan Anda datang ke Indonesia?
Ini adalah kunjungan official looking visit. Kementerian saya datang ke Indonesia dan saya bangga dan kagum bahwa kita sudah berjumpa dengan beberapa pemimpin di sini, dengan Bapak Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan juga Bapak Menteri Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong.

Saya telah berbincang beberapa hal bilateral dengan mereka, kita telah mendapati beberapa perkara (hal) dimana kita bisa mengeratkan kerja sama kita antara Malaysia dan Indonesia.

Kemudian juga, ini menjadi satu langkah tindak lanjut kami. Ini merupakan satu permintaan dari Perdana Menteri Malaysia saat dia bertemu dengan Presiden Jokowi kemarin. Soal pembangunan mobil nasional yang akan dibentuk dalam kerja sama kebijakan publik.

Apa langkah nyata yang dilakukan untuk mewujudkan kerja sama tersebut?
Dari hal ini kita punya rancangan untuk Mobil Asean. Dengan dibentuknya Institute Otomotif Indonesia (IOI) dan Malaysia Otomotif Institute (MOI) telah bergabung dengan satu perjanjian untuk menghadapi industri 4.0

Berkenaan soal kerja sama untuk mengeratkan hubungan otomotif antara Indonesia dan Malaysia melalui nota kesepahaman, di mana kita kolaborasikan kerja sama dengan Malaysia dan juga Indonesia. Mungkin setelah itu kita membuat suatu cadangan (saran) kepada pemerintah untuk membuat kebijakan mengenai mobil baru.

Kalau tersedia dan dapat direalisasikan ya, karena ini bukan murah, rancangan ini bukan murah.

Tapi mungkin kita ada ahli yang lebih pandai untuk mencari suatu kolaborasi untuk menumbuhkan ataupun membina mobil Asean ini.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Jenis mobil seperti apa yang akan dikembangkan dalam Program Mobil Asean ini?
Kita berbicara juga soal mobil ini, apakah mobil ini hybrid? Karena kita punya minyak dan gas.

Kemudian juga ini (minyak dan gas) akan ditinggalkan karena juga membuat masalah pada alam sekitar kita karena banyaknya emisi yang dikeluarkan.

Di sektor otomotif, Indonesia sudah mendorong penciptaan mobil nasional berupa mobil listrik hingga penerapan bahan bakar nabati dimulai dengan program B20. Bagaimana dengan Malaysia?
Kita pun ada yang sama, dalam kolaborasi yang baru antara institut otomobil Indonesia dan Malaysia otomotif institut kita sudah berbicara untuk mecari suatu mobil baru dimana IVE ini atau next generation of Vehicle, Vehicle (kendaraan) yang akan mengambil alih. Selain itu mobil ini juga akan lain daripada yang lain.
Dengan adanya kerja sama ini kita akan dapat membina dan membuat mobil yang tidak terlalu mahal. Kita dapat menjual pada masyarakat dan menawarkan mobil canggih yang tidak mahal.

Setelah IOI dan MOI menjalin kerja sama, apa langkah selanjutnya?
Ini adalah saran, ini adalah satu kemungkinan, sebab kita tahu satu langkah selanjutnya setelah perdana menteri Malaysia dan Indonesia telah berbicara.

Kemudian kita melakukan langkah selanjutnya dimana IOI dan MOI akan sudah menandatangani suatu perjanjian. Bahwa mereka akan menyarankan seperti ini dan meraka akan membuat proposal ke pemerintahan. Setelah itu kita akan melihat apakah ini akan bekerja dan bisa tersedia. Dan apa kamu tahu, untuk membangun sebuah mobil itu sangat mahal.

Jadi untuk melakukannya anda harus mengubah pola pikir. Apakah kita akan memecahkan permasalahan ini dari dasar? Atau menggunakan merek mobil yang ada dan membangun teknologi yang kami punya dengan komponen yang kami miliki dan ide yang kami punya serta desain yang kami miliki.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Apa kerja sama ini bisa terwujud?
Ya, kita harap lah, saya berharap. Dua negara (RI dan Malaysia), mereka memiliki visi yang sama. Memang tidak dapat dijangkau hari ini.

Saya tahu itu bukan hal yang mudah, bukan senang untuk menumbuhkan industry mobil, jujur ini sulit bukan senang. Jadi kita akan coba melakukan hal yang terbaik.

Ini adalah kolaborasi baru untuk menemukan teknologi yang paling paling terjangkau. Tetapi sekali lagi saya katakan, kepada Anda soal masalah apa saja soal membangun industri mobil.

Apakah kerja sama ini akan mengarah ke penyediaan mobil listrik. Apa kendaraan generasi baru yang anda sebut IVE itu akan sepenuhnya berbentuk mobil listrik?
Kalau kita ambil full IVE, pasti industri lain akan terkena dampak. Kita harus realistis, mungkin teknologi mobil akan berpengaruh pada industri biodisel, minyak dan gas. Untuk kita di Malaysia, pada saat yang sama kita harus seimbang.

Jadi kita tahu hybrid vechicle social, itu sepenuhnya IVE, jadi kita perlu melakukan studi yang kita perlukan untuk memastikan bahwa perkembangan mobil baru tidak mempengaruhi industri kita (yang sudah ada).

Kenapa tidak sekalian dibuat sepenuhnya mobil listrik?
Ketika kami mempengaruhi semua industri lain seperti Anda semua yang ada di di Indonesia, itu menjadi lebih sulit. Karena kelapa sawit anda sangat luas.

Dapatkah Anda bayangkan, Anda menggunakan listrik sepenuhnya dan tiba-tiba industri sawit Anda mati dan kita harus menemukan keseimbangan (penggantinya).

Tentu saja suatu hari orang nanti akan bicara apakah Anda akan baik baik saja di masa tua jika harus menatap sambil menderita. Industri ini menderita.

Saya tidak tahu semua orang muda seperti Anda, apakah Anda ingin kendaraan listrik atau Anda memang memiliki kendaraan listrik hidro karbon.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Apa pertimbangan lain dalam penciptaan kendaraan jenis baru ini?
Saya pikir dunia akan memilih mobil hemat negeri. Tapi kita tidak tahu bahwa kehidupan baterai bisa bertahan. Misalnya kamu harus mengisi baterai. Berapa lama? Akan dikenakan biaya? semua ini masih pertanyaan.

Kadang mau masih kita masih menggunkan minyak (BBM) pun, kadang kita juga lupa untuk isi bensin. Ini apalagi isi listrik.

Apa kerja sama penciptaan mobil Asean bisa terealisasi tahun ini?
Ini saran ya kepada kita, tapi belum lagi sampai tahap yang realisasi. Jadi seperti yang saya bicarakan tadi, soal baterai mobil. Saya belakangan lihat ada mobil listrik dan batrainya sebesar kursi penumpang.

Jadi apa itu efisien?
Oh iya ini efisien, tapi kita belum tahu berapa lama baterai itu akan bertahan.
Kita belum tahu berapa kilometer batarai itu akan tahan, ini akan menjadi konsentrasi penelitian kita.

Saya beri tahu, ini perlu solusi, apakah nanti kita akan tetap dengan minyak atau seperti handphone kalau mobil mati bisa diisi dengan powerbank.

Berapa lama kita bisa merealisasikan mobil Asean ini?
Itu saya nggak boleh jawab sementara ini. Sebab ini dalam kadar awal dan juga ide. Apa yang saya katakan, inovasi dalam satu prakata itu adalah soal inovasi yang terdiri dari 99% persiapan 1% inspirasi. Jadi inspirasi ada tapi persiapannya lebih banyak. Harus ingat itu yang perlu kita usahakan. Kemudian kita harus datang dengan ide yang sangat cemerlang, seluruh dunia dan juga saya juga percaya di Indonesia.

Beranjak ke topik selanjutnya. Negara Anda, Malaysia, baru saja memiliki kabinet baru. Termasuk anda pun adalah menteri Baru di Kabinet baru. Misi apa yang ingin dicapai?
Kementerian ini sudah lama ada di Malaysia dan kita tahu dia punya kebijakan dia punya kerja baik.

Hanya saja dalam kerajaan (kabinet) baru Malaysia, kita ingin menjaga isu yang lama dan ingin membawa kepercayaan diri yang baru pada seluruh dunia.

Karena kita tahu, Indonesia pun tahu hal-hal yang sebelum ini. Dimana kondisi kerajaan sebelum saat ini sistem pemerintahannya, telah membawa kebimbangan kepada negara lain. Sehingga investor pun khawatir dan takut menanamkan invetasi ke Malaysia.

Hal tersebut terjadi karena adanya sistem yang tidak transparan. Masalah yang kita tahu, jangan bilang kita tahu. Kalau kita punya bapak atau ibu yang jauh di kampung pun tahu soal 1MDB.
Berkenaan dengan ketidak cocokan kerajaan pada waktu itu dan sekarang ini kita menghadapi satu jabaran dimana kita memberikan suatu kepercayaan diri baru.

Kita ingin warga Malaysia dan juga pada negara yang lain seperti Asean dan seluruh dunia, khususnya di Indonesia, tahu bahwa pasar kami terbuka.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Jadi itu salah satu tujuan anda datang ke Indonesia? Untuk menyampaikan optimisme baru Malaysia?
Karena itu lah saya datang, kemudian sebelum saya datang para menister (para menteri) kami juga datang, perdana menteri kami datang. Kita ingin memberi satu penegasan Malaysia masih sama dalam pembangunan investasi.

Pasar kita juga terbuka dan kita bersedia untuk menolong siapa saja yang ingin berinvestasi di Malaysia.

Kita harap dan saya dapati juga angka, bahwa investor Malaysia ini banyak menanamkan modalnya di Indonesia, tapi investor Indonesia masih kurang untuk menanamkan modalnya di Malaysia.

Kemudian kami juga membawa ini kepada bapak-bapak menteri. Kita berharap Indonesia dan akan memberikan satu suntikan (dorongan) kepada para investor untuk berinvestasi di Malaysia.

Apa yang negara Anda tawarkan agar investor Indonesia mau menanamkan dananya di Malaysia?
Tetap, kita harus ada visi baru juga itu datangnya dari Perdana Menteri kami. Dimana beliau juga sudah mengesahkan bahwa orang Indonesia orang Malaysia datangnya sama rumpun.

Kita juga sudah kerja sama dan beberapa diantaranya sudah dekat. Kita percaya bahwa Presiden Jokowi dan Pemerintah Indonesia senantiasa akan kerja sama dengan Malaysia. So visi baru Malaysia adalah untuk membawa kerja sama bisnis yang lancar.

Kita akan membuka dan memberikan lagi banyak kelonggaran.

Oleh karena itu Indonesia pun harus memberikan kelonggaran pada investor-investor kita yang ada di Indonesia. Kemudian hal serupa juga akan kami lakukan di Malaysia, dengan memeberikan kelonggaran pada investor investor Indonesia.

Kemudian Perdana Menteri kita juga sudah bicarakan, dia ingin adakan suatu kolaborasi. Apakah kalian tahu, kalau kita punya pulau namanya Sebatik dimana ada satu rumah yang bagian dapurnya ada di kawasan Malaysia dan raung tamunya ada di Indonesia. Kita sampai sedekat itu. Jadi jangan sampai ada kesalahpahaman yang membuat kita jauh. Caranya yaitu dengan berkolaborasi.

Kemudian bagaimanakah kita berkolaborasi, adakah kita biarkan begitu saja ataukah kita boleh membawa suatu kerja sama bahwa dia bawa manfaat yang bagus kepada keduanya.

Kalau kita itu ada di Sabah, juga saya tidak akan mundur. Tentu saya akan membawa suatu peluang orang kami dari Sabah dan orang Indonesia untuk kerja sama dalam jaminan investasi. Bisa bermacam macam ada investasi kesehatan dan investasi jaminan sosial. Karena di Sabah ini kami masih punya udara yang bersih.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Dari kunjungan Anda ke Indonesia, apa keunggulan Indonesia yang anda lihat?
Baru tadi saya dengar dari Pak Menteri Enggar dia bicara bahwa Indoneisia akan melaksanakan B20. So ini bukan senang dan diterima begitu saja, tapi mereka sedia untuk menghadapi jabaran dari sosial dari pada konsumen jadi kita juga ingin menunjukkan cadangan (saran) IVE (mobil masa depan) untuk mobil ini.

Ada banyak jabaran dari pada industri minyak sawit. Kemudian Industri LNG memiliki masa depan yang sangat rentan, dapat dilepas dan karena masih berjalan pada tahap awal.

Saya ingin bicara satu hal, Indonesia dan Malaysia sangat dekat. Sehingga kita harus memastikan kolaborasi ini, melanjutkan pemikiran baru mengenai masa depan kita. Kita tidak akan berhasil dalam 5 tahun, saya ingin melihat perkembangan dalam 3 tahun sampai 4 tahun. Akan sangat menyedihkan jika kita terus berbicara hal yang sama dengan apa yang kita bicarakan sebelum ini.

Bicara soal pemerintahan baru, Indonesia di 2019 akan melaksanakan pemilihan Presiden. Bisa jadi Indonesia akan dipimpin presiden baru. Apa harapan Anda?
Saya percaya setelah April tahun depan mungkin presiden, kita tidak tahu dia presiden baru atau lama? Tapi dia harus melanjutkan hubungan baik ini dengan Malaysia.

Sekadar pembanding, bisa ceritakan optimisme baru di negara anda dengan adanya kabinet baru?
Ini baru bagi kami. Kami mengubah pemerintahan. Kami mengubah kehidupan politik di Malaysia. Kita saat ini punya pemimpin-pemimpin baru yang kooperatif dan Malaysia berada di tangan yang aman.

Situasinya sangat menarik, pemimpin politiknya yang sangat muda. Anggota kabinet muda, ini masa depan Malaysia. Saya bisa melihat pejabat di sana ada di usia pertengahan lah.

Kita adalah orang baru di pemerintah dan kita mencoba yang terbaik untuk memastikan Malaysia akan punya masa depan baik. Sebagai menteri perdagangan internsional kami dapat lebih banyak mengundang investasi, karena kami sangat perlu penanaman invetasi modal di Malaysia dan membawa kepercayaan baru bagi Malaysia.

Di kabinet baru ini, apa tantangan utama yang paling menjadi perhatian Anda?
Malaysia adalah pusat dari banyak negara, Anda dapat melihat Malaysia adalah pusat rute bagaimana orang china datang ke beberapa negara. Kemudian kami tengah meninjau mengenai proyek pembangunan one belt one road.

Mengapa kami meninjau, karena kami tidak tahu mengapa kami tidak setuju dengan proyek itu. Ada hal yang kami tidak ketahui keputusan itu dibuat secara tidak transparan. Jadi mungkin China ini transparan atau mungkin pemerintahan yang kami yang tidak transparan? Kita tidak tahu.

Jadi kita harus menemukan alasannya demi masa depan yang lebih baik.

Hal lain ini adalah sebuah pemerintahan baru apa yang harus dilakukan.

Dan pertanyaan tentang perdagangan internasional yang kita tidak ingin lagi mempertanyakan bagaimana Malaysia akan berjalan dalam menginvestasikan uang kita ke Malaysia.

Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa kami terbuka untuk perdagangan. Kami akan memastikan bahwa setiap investor dapat berinvestasi dengan percaya diri dan pemerintah kami akan melakukan penilaian kemudian jika mereka memerlukan asesmen.

Kami juga ingin menyambut banyak investor indoemsja yang menanamkan modal ke Malaysia.

Tadi anda sebut Malaysia sudah banyak berinvestasi di RI. Berapa besar angkanya?
Kami mencatat total investasi kami sejak 2004 terakhir totalnya sekitar US$ 17 miliar dengan nilai itu kami berikan kepada perekonomian Indonesia.

Malaysia adalah 3 negara besar Investor ke Indonesia selain Vietnam dan Thailand? Apa alasannya?
Ya benar kami adalah investor besar, karena kami mempercayai Indonesia. Dan kami berbagi sejarah bersama.

Saya sudah berbicara dengan pak Thomas Lembong (kepala BKPM) saya tahu banyak untuk masalah yang kita butuhkan. Koordinasi ini sebetulnya lebih dari sekadar invetasi atau uang banyak.

Contoh saja kolaborasi sederhana seperti penyanyi lagu kita dulu seperti Sheila Majid, di sini kerja sama dengan atrtis artis di Indonesia. Mereka menghabiskan uang tapi itu memiliki semangat antara masing-masing.

Seperti Anyer dan Jakarta, jadi semua hal yang kita dekat satu sama lain bagaimana kita harus bekerja sama.


Menteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius DarellMenteri Perdagangan dan Industri Internasional Malaysia Ignatius Darell Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance

Beralih ke soal ekonomi global. Kita tengah dihadapkan pada tantangan perang dagang. Apa yang bisa dilakukan Indonesia dan Malaysia?
Ini merupakan sebuah peluang tidak hanya Malaysia-Indoensia tapi juga dengan semua negara Asia.

Kita bersama untuk mengeratkan kita punya ekonomi sesama. Ekonomi kita antara kita dan asia itu sekitar 640 juta orang yang besar.

640 juta itu banyak orang sehingga kami lebih baik untuk bersiap untuk itu. Siapa tahu setelah kolaborasi dari hasil membantu hubungan antar negara, Malaysia dapat menunjunkkan ke belahan negara lain untuk berinvetasi dan akhirnya akan membeli barang barang yang kita punya.

Misalnya saja dari hasil kolaborasi ada mobil asia, atau e-comerce itu soal ekonomi digital.

Bayangkan jika Asia 640 juta orang bekerja di ekonomi digital. Katakan saja setengah, tidak misalkan hanya 200 juta saja orang memanfaatkan hal ini. Ini besar.

Bila kita ada 600 juta orang, kamu bisa bayangkan berapa konten yang kamu punya. Dan bayangkan sekarang e-comerce.

Seperti China, 1 miliar orang. Setiap orang, kalau dia pakai satu dolar, dia (China) sudah satu miliar dilar.

Jadi dalam bisnis 640 juta bayangkan jika kita berbisnis. Ini kesempatan besar dan ini visi telah dimulai oleh perdana menteri yang sekarang saat dia telah perdana menteri yang dahulu. Dimana beliau memiliki saran bahwa Asia adalah hal yang penting untuk kita cari. Orang malah sibuk mencari pasar ke luar asia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed