Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 08 Sep 2018 10:31 WIB

Wawancara Khusus Presiden Direktur BCA

Dulu Tukang Sewa Kaset Video, Kini Jahja Jadi Bos BCA

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja memulai karir bankirnya dari nol. Saat masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) pada 1979, Jahja sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan akuntan bernama Publik Pricewaterhouse.

Ia bekerja di kantor tersebut atas rekomendasi kakak kelasnya di UI bernama Idrus Munandar. Saat itu Jahja mendapatkan gaji Rp 60.000 setiap bulan, ya memang ia saat itu menduduki posisi sebagai junior accountant.

Gaji sebesar Rp 60.000 dirasa Jahja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu ia juga mencari penghasilan tambahan dengan menjadi tukang sewa kaset video milik seorang anggota Komisi Pembantu Setempat (KPS) Penabur. Ia menawarkan kaset tersebut ke teman sekolah dan kuliahnya.

"Saya hubungi teman-teman yang berminat sewa kaset. Setelah sepakat saya datang bawa banyak kaset video supaya mereka pilih. Satu minggu lagi saya datang dan mengganti kaset baru, begitu terus," ujar Jahja kepada detikFinance.

Kegiatan inilah yang membawa Jahja kenal dengan salah satu Direktur PT Kalbe Farma Rudy Capelle yang saat ini sudah almarhum. Ia adalah pelanggan tetap Jahja, siapa sangka Rudy mengatakan jika Kalbe Farma sedang mencari karyawan.

"Pada 1980, saya akhirnya pindah ke Kalbe Farma. Nah di situ awal karir saya menjadi asisten manajer," kenang Jahja.

Setelah bekerja di Kalbe Farma, Jahja berhenti menjadi tukang sewa kaset video, karena kebutuhannya sudah mampu terpenuhi dari gaji kantornya yang baru ini.

Di Kalbe Farma, Jahja mendapatkan banyak kesempatan untuk belajar dengan mengikuti kursus-kursus terkait keuangan dan manajemen. Hingga akhirnya ia sadar, ia harus menyelesaikan skripsi yang selama ini tertunda. Pada 1982, setelah ia merasakan terjerat 'kenikmatan bekerja', Jahja menyelesaikan skripsi lalu mengantongi gelar Doktorandus (Drs.).

Dia menceritakan, dua tahun kemudian ia mendapat promosi naik jabatan menjadi manajer keuangan sampai tahun 1988. Lalu saat usianya memasuki 33 tahun, Jahja diangkat menjadi direktur Keuangan Kalbe Farma.

Satu tahun kemudian, Jahja pindah kantor lagi ke Indomobil dan masih menjabat sebagai Direktur Keuangan. Tak disangka pada Oktober 1990, Jahja diminta pindah ke BCA.

Saat pindah, Jahja diberitahu oleh pemilik BCA, jika bank ini lebih besar daripada perusahaannya yang dulu. Sehingga saat itu ia menjabat sebagai wakil kepala divisi atau setingkat general manajer, bukan direktur.

"Mereka menjanjikan satu tahun kemudian diangkat sebagai kepala divisi. Saya tunggu, sampai 1995, baru akhirnya diangkat jadi kepala divisi," ujar dia.

Awal Januari 1996, Jahja sudah menduduki kepala divisi treasury sampai 30 April 1999. Kemudian ketika BCA diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Jahja diangkat menjadi direktur.

Ia mengemban jabatan direktur hingga 2005 dan ia diangkat menjadi wakil presiden direktur.

"Saya diminta bantu pak Setijoso untuk jadi wakil. Kemudian 2009 pak Setijoso memutuskan jadi Komisaris Utama saja, saya diminta jadi Presiden Direktur dan resmi menjabat pada 2011 sampai sekarang," imbuh dia.



Lima Keseimbangan

Jahja menceritakan, sebagai manusia ia harus memiliki lima keseimbangan. Pertama, ketuhanan ini sesuai dengan prinsip beragama dan ber Tuhan. "Percaya Dia yang mengatur semuanya yang terjadi," ucap Jahja.

Kedua, komunitas. Karena sebagai mahkluk sosial, manusia harus memiliki teman yang harus dijaga. Ketiga adalah keluarga, menurut Jahja ini sangat penting karena keluargalah orang yang selalu ada.

"Harus diutamakan, anak, istri, suami atau cucu, harus ada waktu untuk mereka," kata Jahja.

Lalu kesehatan, menurut Jahja dalam bekerja jangan sampai lupa diri sehingga kesehatan terabaikan. Namun juga jangan terlalu santai. Terakhir adalah keuangan, yang harus dijaga kewajarannya, jangan sampai salah mengatur keuangan dan terlampau konsumtif.

"Semuanya harus dijaga agar seimbang dan mencapai ekulibrium yang baik bersama. Saya mencoba gaya hidup seperti itu, jangan ngoyo kerja, jangan hura-hura. Main sama keluarga, jaga kesehatan itu penting karena kesehatan tidak bisa dibeli kalau sudah sakit mau Rp 1 M atau Rp 1 T itu nggak bisa didapatkan," ujarnya.



Jaga Kesehatan

Setiap hari, Jahja rutin berenang selama 30 menit. Kemudian ia juga saat ini sedang mempelajari meditasi untuk melatih pernapasan dalam, minimal satu jam ia lakukan untuk melancarkan pernapasan.

Tak hanya di rumah, meditasi juga ia lakukan saat ada perjalanan jauh baik di mobil maupun di pesawat. Menurut dia, meditasi yang dia lakukan ini bisa menyegarkan kembali tubuhnya usai lelah bekerja.

"Bisa reparasi organ kita sendiri, seperti di recharge. Guru saya bilang, fisiknya juga harus dilatih. Makanya saya renang dan golf sekalian sosialsiasi juga. Daripada saya temenin istri saya dorong troley di super market, mending saya main golf," candanya.

Menurut Jahja, golf adalah olahraga yang penuh tantangan. Beda dengan olahraga lainnya, seperti tinju, bulu tangkis, silat atau karate yang kalau sudah memukul lawan maka ia yang menang.

Jahja bercerita, dalam golf ia harus berkompetisi untuk memperbaiki diri.

"Kalau lawan saya bagus, ya saya harus lebih bagus, caranya bukan dengan cara menjatuhkan lawan. Makanya saya mau BCA itu seperti golfer, selalu memperbaiki diri tidak sikut kiri kanan," ujarnya.

Seperti golf juga, BCA menurut Jahja harus memberikan pelayanan yang terbaik. Karena jika sudah terbaik maka bisa lebih unggul dalam kompetisi yang sehat dalam persaingan.



Quality time dengan keluarga

Keluarga adalah segalanya untuk Jahja. Ia saat ini selalu berupaya untuk membahagiakan anak dan istrinya. Caranya adalah dengan menyempatkan setiap waktu luang untuk bisa bersama mereka.

"Kebetulan anak saya sudah menikah dua-duanya dan saya punya dua cucu laki dan perempuan. Kalau hari sabtu saya pagi golf sampai siang, lalu pulang dan makan di rumah. Malamnya kondangan atau pergi berdua sama istri atau anak-anak. Minggu kami pergi ke gereja," kata dia.

Jahja mengaku sedih, ia tak bisa maksimal membahagiakan kedua orang tuanya. Ibu Jahja meninggal pada 1983 silam sebelum ia menikah. Kemudian sang ayah meninggal pada 1995.

"Saya sedih, dulu hanya bisa mengajak dia jalan-jalan ke puncak, tapi memang waktu itu kemampuan saya segitu karena saya mulai dari zero. Itu juga saya baru selesai melunasi utang KPR dulunya papan sejahtera, harus bereskan itu semua. Jadi saya belum terlalu bisa menyenangkan mereka, kalau sekarang mungkin saya bisa ajak mereka keluar negeri atau ke mana saja yang mereka mau," kenang dia.

(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed