Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 02 Nov 2018 10:29 WIB

Wawancara Khusus Dirut CMNP

Nostalgia Eks Bos BEI Kembali ke Bisnis Jalan Tol

Eduardo Simorangkir - detikFinance
1 Geliat Bisnis CMNP
Halaman 2 dari 3
Foto: Eduardo Simorangkir Foto: Eduardo Simorangkir

Bagaimana rasanya mengemban jabatan baru di perusahaan tol?

Saya di Citra Marga sejak tahun 1995. Tahun 1992/93, pada saat saya masih di Pentasena, mengeluarkan revenue sharing bond Rp 272 miliar untuk pembiayaan jalan ini (tol Cawang-Pluit). Jadi jalan ini saya yang cari duitnya. Waktu itu saya sama Mbak Tutut. Tahun 1994 saya diminta jadi direktur utama bursa paralel, 1995 saya diangkat jadi direktur keuangan Citra Marga sampai 1999.

Kemarin juga 29 Juni saya langsung diangkat jadi Direktur Utama Citra Marga. Balik lagi. Jadi saya hapal ini, duitnya, kilometernya, hapal semua saya. Yang Jakarta dan Surabaya saya tahu projectnya.

Berapa total panjang tol yang dioperasikan CMNP saat ini?
Kilometer kita rendah, tapi kan dalam kota, jadi traffic lebih banyak. Jadi untuk jalan tol, untuk konsesi, Citra Marga cuma punya satu. Yang lain dimiliki anak perusahaan, yang punya partner orang lain.

Saham mayoritas mana saja?
Ada empat. Pertama, Surabaya (Simpang Susun Waru-Bandara Juanda Surabaya) 99,5% kedua Citra Waspputhowa di Desari (Depok-Antasari) 69%, ketiga Cisumdawu 51%, lalu Soroja (Soreang-Pasir Koja). BORR (Bogor Outer Ring Road) kita punya 30%.

Visinya CMNP ke depan?
Citra Marga itu public listed company. Kita berbicara city and greater city toll road. City and greater city yang pertama dilihat adalah harbour road/Jakarta. Kedua, kita punya Depok-Antasari, itu radialnya empat, sejajar sama Bogor. Ketiga, kita punya jalan tol airport di greater Surabaya. Cisumdawu juga akan menjadi tol ke arah airport juga. Yang terakhir, adalah di Bandung (Soroja), akan masuk kota Bandung. Jadi city and greater city toll road.

Apa saja proyek prestisius CMNP saat ini?
Perusahaan ada kas Rp 3 triliun untuk memulai project-project baru. Yang paling menarik salah satunya adalah pelebaran tol dalam kota Jakarta (Harbour Road 2). Kemudian tol kota Bandung. Di Bandung kan kita punya Soreang-Pasir Koja, nanti sampai ke kota Bandung, Pasopati.

Tol Harbour Road 2?
Jadi sekarang itu, Ancol Timur-Kemayoran-Pluit itu sudah penuh banget. Jalan tol sudah macet sekali di sana. Padahal itu jalan utama, karena bagaimana dari port to airport.

Bayangin, nanti itu pembangunannya jalannya itu di atas kali. Bagaimana cara bangunnya nggak ada tanah? Kita harus bangun lagi di pinggir kali, dengan hanya ada tanah setengah jalur mobil ini. Bagaimana cara bangunnya? Kita bangun ke atas. Panjangnya 9,2 km.

Yang kita bangun akan menjadi terpanjang di dunia untuk double decker.

Biaya investasinya?
Rp 13 triliun. Dan tingginya itu bisa 30 meter. Bayangin nanti sudah ada jalan tol, terus kita harus bangun lagi di kiri dan kanannya, tanahnya kecil.

Yang Bandung kapan groundbreaking?
Pengennya insyaallah Februari-Maret sudah groundbreaking. Itu tengah kota.

Jakarta kapan?
Insyaallah pertengahan bulan depan (November).

Tol Desari seksi selanjutnya yakin bisa kelar tahun depan?
Sawangan tahun depan April-Mei sudah selesai. Sampai Salabenda Bogor kita targetkan 2021.

Persoalannya di pembebasan (lahan). Membangunnya on time kok. Sekarang pembebasan praktis sudah oke sampai Sawangan. Kalau nggak salah tinggal 1 km lagi. Tapi itu sudah rapi, sudah rata semua. Cuma memang masih ada lagi kan perpanjangan sampai ke Salabenda, Bogor.

Ada rencana IPO anak usaha?
Kita rencana ada 1-2 anak usaha yang Tbk.

Yang mana?
Ntar. Nggak boleh. Masih rencana.

Lini bisnis yang mana?
Kemungkinan 1 tol dan 1 kontraktor.

Ada incaran proyek jalan tol di lokasi lain saat ini?
Bukan soal incar atau nggak nya. Tangan kita cuma dua. Ini saja empat project kita jalanin sudah banyak. Jadi baru Jakarta, Bandung, Surabaya.

Di pulau lain?
Sementara belum melihat. Karena kalau ini jadi saja, Citra Marga akan cukup besar sekali. 2022 bakal selesai semua (empat proyek: Desari, Cisumdawu, tol Harbour Road 2, tol Bandung) ini. Kalau 2022 itu, konsolidasi kita bisa di atas Rp 7 miliar per hari revenuenya. Tapi utangnya jangan tanya, puluhan triliun juga utangnya. Dan utang itu tidak APBN ya, pure swasta. Utang kita bisa mencapai Rp 15-17 triliun kira-kira.

EBITDA CMNP?
Stand alone Rp 750 miliaran. Tapi kalau konsolidasi, lihatnya susah. Karena kan baru jalan setengah-setengah.

Pendanaan apa yang terdekat?
Kita melihat secara total. Harbour road 2 membutuhkan Rp 13 triliun, north south link Bandung butuh hampir Rp 9 triliun. Cisumdawu butuh Rp 8,4 triliun. Penambahan penyelesaian Antasari itu sekitar Rp 2,5 triliun. Jadi kira-kira memerlukan tambahan pendanaan sekitar Rp 32 triliun, di luar dari yang sedang berjalan (Desari kebutuhannya Rp 4,9 triliun).

Dari mana kita dapat? Di dalam (kas perusahaan) itu ada uang sekitar Rp 3 triliunan. Memang saya menghadiri shareholder yang tidak pernah mau dividen tapi tetap bangun terus. Nah saya mengusulkan ada rights issue untuk nambah equity, kalau nggak, nggak kuat.

Kapan?
Tahun depan. Kira-kira Februari-Maret RUPS, tiga bulananlah (setelah RUPS).

(eds/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com