Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 11 Jan 2019 18:41 WIB

Wawancara Khusus Dirut Kereta Api Indonesia

Menanti Hidupnya Rel Mati Banjar-Pangandaran

Puti Aini Yasmin - detikFinance
1 Menghidupkan KA Pangandaran
Halaman 2 dari 5
Foto: Dok. KAI Foto: Dok. KAI

Apa latar belakang peluncuran KA Tasik dan Pangandaran? Apa salah satunya untuk menarik wisatawan? Atau ada hal lain?
Betul kemarin tanggal 26 Desember itu KAI meluncurkan kereta dari Bandung, Cibatu lalu Tasikmalaya untuk masyarakat Bandung, masyarakat Garut dan masyarakat Tasikmalaya. Dan itu dari 26 Desember sampai 25 Januari itu gratis. Jadi tidak membayar apa-apa karena ini sedang percobaan.

Lalu pada tanggal 2 Januari itu KA ke Tasik lalu tanggal 2 Januari KAI meluncurkan produk baru tapi itu sambungan dari Jakarta-Bandung kemudian meluncur ke Tasik baru Banjar. Nah dari Bandung-Banjar itu gratis, eh sorry Rp 1. Juga dari Banjar menuju Bandung.

Alasan utamanya yaitu di Jawa Barat banyak jalur trek zaman dulu yang tadinya beroperasi dan sekarang jadi jalur mati termasuk stasiunnya. Sekarang bahkan potesi Jawa Barat ini luar biasa, termasuk masyarakat dan alamnya seperti Garut itu kerajinan kulit terkenal dan kemudian hasil susu, kambing, tak lupa dodol itu kalau bisa dengan mudahnya diangkut dari Garut-Bandung-Jakarta itu kan luar biasa.

Dan satu lagi, menuju ke Pangandaran. Itu menuju Pangandaran itu luar biasa, itu cantik sekali pemandangannya dan jalur kereta api itu juga bisa dinikmati sebagai fasilitas pariwisata

Hanya saja untuk menuju Pangandaran ada empat terowongan, yang mana salah satu terowongan terpanjang di Indonesia terowongan Wilhelmina itu satu kilometer lebih. Terus ada lagi terowongan Hendrik, Wilhelmina jadi nama Belanda semua. Terowongan Philip

Itu menambah indah pemandangan kalau mau darmawisata. Tapi percobaan ini sudah kita lakukan, dari Bandung ke Garut kita berikan gratis kita kasih dari Bandung ke Cibatu kita kasih angkutan sambungan dari Cibatu-Garut.

Antusiasme itu mau uji coba saja atau animo?
Bagus pertanyaannya, memang kita harus uji apakah animonya tinggi atau tidak bayar.

Kalau feeling saya ini animonya tinggi, karena masyarakat Garut tunggu angkutan bebas macet kemudian kedatangan dalam estimasi waktu itu pasti dibandingkan angkutan darat jalan raya itu juga seperti itu termasuk Banjar-Pangandaran

Reaktivasi ini ada investasi baru ada nggak?
Yang pasti untuk jalurnya kan kita nggak perlu investasi karena, jalurnya masih ada, sampai jembatan masih ada. Tapi harus kita periksa ada 300 meter panjang kita periksa kekuatan baik badan jembatan nampaknya harus diperbaharui tapi itu tidak masalah. Dan saya berharap cost atau biaya tidak terlalu signifikan untuk jalur-jalur ini.

Intinya ada kepentingan yang lebih dalam supaya masyarakat bisa bangkit karena kondisi alam yang indah, penghasilan yang luar biasa. Kalau Pangandaran kena, itu penghasil ikan bisa naik, ikan luar biasa.

Jalur puluhan tahun nggak kepakai kan diduduki rumah-rumah. Nah, bagaimana proses pembebasan?
Untuk sejauh ini dari Cibatu-Garut itu sih sebagian besar malah sawah. Tapi ada rumah-rumah secara persuasif kita kepada masyarakat supaya masyarakat tidak merasa dibuang gitu saja. Bahkan kita sudah ketemu Pak Gubernur Jawa Barat sehingga kita carikan jalan keluar supaya masyarakat-masyarakat dicarikan tempat.

Ada jalur baru yang mau direaktiviasi, pembiayaan itu full dari KAI atau pemda saja?

Kalau pembiayaan itu nanti itu konsultasi dengan Kemenhub dan BUMN tetapi pemda juga bisa chip in membantu misalnya dalam tahap penertiban bukan pembebasan karena itu kan tanah KAI tapi penertiban sehingga nanti jalannya penertiban ini lebih baik, manis. Tapi yang pasti ada sawah, dan pohon-pohon ada pemiliknya itu akan kita selesaikan secara baik dan musyawarah.

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed