ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus Menteri PPN

Menjawab Pernyataan Prabowo soal Air Laut Masuk Bundaran HI

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 16 Jan 2019 09:52 WIB
Menjawab Pernyataan Prabowo soal Air Laut Masuk Bundaran HI
Foto: Muhammad Iqbal

Apa benar Indonesia krisis air bersih?
Ya mungkin, sebetulnya tidak seluruh Indonesia. Masalah air bersih yang harus diberikan perhatian khusus adalah Pulau Jawa. Satu, karena penduduknya besar, kepadatannya tinggi, kegiatan ekonomi juga tinggi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup stabil 5-6% di Jawa ya otomatis, pendirian bangunan segala macam, kegiatan aktivitas ekonomi makin besar, jadi otomatis permintaan air bersih tinggi.

Padahal, di sisi lain sumbernya makin terbatas, karena ya kita harus akui dalam waktu yang lama air bersih kurang mendapat perhatian. Sehingga, masyarkat di kota besar terutama bergantung tidak berasal dari air bersih yang berasal dari pipa, tapi sumur.

Padahal sumur itulah yang nanti berpengaruh pada salah satunya penurunan muka tanah, penurunan muka tanah itu yang nanti bisa membuat banjir rob terjadi terutama pantai utara Pulau Jawa. Jadi, fokus adalah di Pulau Jawa dan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang kita susun untuk 2020-2024 kita memberi perhatian khusus pada penguatan pasokan, distribusi, air bersih di Pulau Jawa.

Kalau pulau-pulau lain, selain pemakaiannya belum terlalu tinggi, sumber airnya masih banyak, yang masih harus perlu diperkuat, distribusinya. Kalau Pulau Jawa isunya tidak hanya distribusi tapi sumbernya.

Gambaran pemenuhan air bersih saat ini seperti apa?
Ya, karena ngomongnya Indonesia, air bersih Indonesia, proyeksi kita kebutuhan air baku di 2024 kebutuhan domestik rumah tangga itu 582,5 m3 per detik, industrinya 79,79 m3 jadi kalau dijumlah 660 m3 lah per detik.

Yang ada, distribusi yang ada dari pipa PDAM hanya 143 m3 per detik, padahal kebutuhan 660 m3. Ini Indonesia kita ngomong ya, memang yang paling besar Jawa, jadi ini mewakili Jawa pada intinya.

Tapi kita memahami, bahwa tidak mungkin, paling tidak dalam kondisi 5 tahun ke depan seluruh air bersih itu datang dari PDAM. Jadi kita target baurannya 35% dari PDAM, sumur bor 30%, kemudian karena isunya juga air minum, air minum kemasan 20%, sumber lainnya mata air, air sungai, air hujan 15%.

Katakan PDAM 35%, maka otomatis dalam 5 tahun kapasitas PDAM harus ditambah 90 m3, PDAM saja 35% kali 660 sekitar 200 m3. Padahal kita punya 143 tambah 90 m3.

Kondisi pemenuhan air saat ini?
Sekarang jauh, sekarang ini porsi PDAM jauh daripada ideal. Karena orang masih pakai sumur. Di Jakarta aja deh, orang pakai sumur. PDAM hanya pelengkap aja. Itu yang membuat berbahaya untuk Jakartanya sendiri.

Intinya masih dibutuhkan investasi yang besar untuk sumber air bersihnya dan distribusinya. Sekarang maupun 5 tahun ke depan. Cuma kan nggak bisa bicara tahun ini aja.

Kenapa air tanah?
Karena nggak tersedia, ya sekarang kamu punya rumah, kamu perlu air, kalau nggak ada pipa PDAM kamu apa, ya terpaksa gali sumur dan itu yang masif di Jakarta, agak sulit mengendalikan karena PDAM-nya selain debit nggak cukup, distribusi belum rata.

Kalau lihat peta Jakarta, Jakarta bagian barat banyak yang belum ada sambungan pipa air minum, otomatis ambil dari sumur. Jadi makai sumur nggak ada PDAMnya.

Jakarta kan hanya tergantung Jatiluhur, di luar Jatilihur yang harus dicari lagi, saat ini dibangun Waduk Karian.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT