Lika-liku Nasib Pos Indonesia Berkelit dari Kematian

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 21 Feb 2019 14:04 WIB
2.

Pulang Kampung untuk BUMN

Lika-liku Nasib Pos Indonesia Berkelit dari Kematian
Foto: Pradita Utama

Sebelum di Pos dulu Bapak sempat di Shafira (perusahaan busana muslimah) lalu Philips, dan Merril Lynch, itu bagaimana ceritanya?
Ketika saya kembali ke Indonesia, memang ada misi untuk menyelamatkan Shafira, saya bersama teman-teman membangun tahun 1989, ketika dalam keadaan yang oleng dan kita sudah punya karyawan cukup banyak, pengrajin cukup banyak, akhirnya pengurus Shafira datang ke rumah saya waktu saya masih di Manila, di Merril Lynch, mereka menyampaikan bahwa masalah yang sudah tidak sanggup lagi, waktu itu saya sudah serahkan teman yang urus Shafira, tapi pada akhirnya ada panggilan hati, siapa lagi yang akan menyelamatkan karyawan, akhirnya saya putuskan pulang tahun 2008 ke awal, alhamdulillan Shafira baik bahkan beranak, dan menjadi bisnis yang cukup signifikan.

Di 2008 mulai menggagas salah satu yang menjadi new driver ekonomi Indonesia adalah menjadikan Indonesia sebagai kiblatnya islamic fashion, munculah inisiatif-inisiatif bahkan kita buat blueprint dan disambut sangat baik, di situ terjadi kenaikan animo masyarakat untuk menggerakan sektor industri ini.

Ketika tahun 2013-2014 sudah saatnya saya serahkan melepaskan diri, dalam arti ya saya masih mengawasi tapi tidak punya rule. Saya melakukan hal lain termasuk otomotif, kita suplai sparepart Daihatsu untuk bodypart, jadi dari situ kemudian berinteraksi kembali dengan teman Indonesia, networknya kembali, sampai muncul tawaran bantulah kita punya BUMN yang perlu disehatkan.

Artinya bapak dipanggil karena reputasi Bapak?
I belive so, setidaknya waktu saya di Philips pun dari saya me-manage sebuah pabrik kecil di Surabaya sampai saya di Asia Pasific kan.

Yang menarik begitu masuk PT Pos malah ada aksi dan yang Desember 2018 bukan yang pertama, apa yang terjadi dengan pegawai Pos ini?
Kita melihat industrinya, apa yang terjadi dengan Pos. Pos itu punya 2 core bisnis, yang pertama adalah good kurir dan kedua adalah penyedia jasa keuangan layanan. Dulu pernah ngerasaian zaman wesel, bagaimana mengirimkan uang, jadi wessel yang available, kemudian muncul ada bank, muncul distruption, bank ini berlanjut melakukan distruption, dengan teknlogi, dengan regulasi. Yang paling berat buat Pos di jasa layanan keuangan itu pada tahun 2014 OJK buat aturan lakupandai, jadi bank itu boleh punya cabang tanpa harus ada bangunan, itu lah yang muncul lakupandai, layanan keuangan tanpa gerai.

Tahun itu tahun yang membuat pola kerja bank bisa mempunyai agen, bisa mempunyai siapa saja yang melakukan layanan terbatas memang tapi layanan bank tanpa invetasi, investasinya hanya deposit, kemauan mereka untuk melakukan layanan, jadilah muncul namanya agen seluruh ada di Indonesia, kalau tadinya layanan keuangan di rule area, bank nggak ada, satu-satunya Pos. Bahkan ketika pemerintah melakukan distribusi jalurnya hanya Pos, itu kemudian yang membuat akhirnya posisi Pos tidak jadi the only player, tapi menjadi one of player sampai ada yang namanya Alfamart, Indomaret, mereka kan juga bisa lakukan layanan pembayaran. Contohnya ada agen BRILink ada di mana-mana, nah itu tahun 2015 penetrasi makin dalam, ekspansi serius, nah bisnis layanan jasa keuangan Pos yang biasanya the only player itu menjadi banyak pesaingnya.

Saat itu Pos terlena?
Ada dua hal, iya kita terlena karena kita tidak menyiapkan diri menjadi semacam startup, bank itu juga terganggu dengan startup fintech. Kalau seandainya Pos sudah bertransformasi menjadi fintech-nya maka situasinya berbeda, tapi iya kita tidak mencoba, kita terdistrupsi tapi diem. Jadi di jasa keuangan itu bank, regulasi, dan teknologi namanya fintech, di fintech yang namanya wesel sudah relatif tergantikan, banyak aplikasi yang bisa mentransfer uang tanpa biaya, apakah Pos bisa? Ya bisa tapi basis kita berbayar, kalau tidak berbayar fixed cost kita siapa yang bayarin?

Saya punya 28.000 orang yang tentu menjadi beban fixed yang tidak ringan juga. Dari sisi jasa layanan keuangan distruption sangat tinggi, yang ini belum selesai, karena fintech juga baru mulai yang usianya relatif muda di Indonesia.

Dari sisi kurir, kita itu kan kurir lebih spesifik lagi infrastruktur kita dibangun untuk surat, untuk kartu pos, tetapi kita tidak membangun infrastruktur kita untuk melayani parsel, paket,. Ini dua hal yang berbeda karena dari sisi cara penanaganannya berbeda, bahkan behavior pasar pun berbeda, kalau surat yang tahu sudah sampai atau tidak yaitu yang kirim, kalau parsel yang menerima karena dia mengeluarkan uangnnya barangnya mana, nah ini dari sisi paradigma berfikir berbeda, teknologi yang dipakai harus berbeda.

Dari teknologi dan infrastruktur kita terlambat iya, bahwa ini hampir terjadi di seluruh industri Post Card di dunia iya, kecuali yang lebih awal bertransformasi adalah Pos German DHL, dibantu dengan Deutschbank mengakuisi sebuah perusahaan yang tadinya kecil DHL, dan dikembangkan menjadi perusahaan logistik nomor 1 di dunia sekarang.