Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 01 Jul 2019 13:43 WIB

Wawancara Khusus Dirut LinkAja

Mimpi LinkAja Saingi GoPay dan Ovo

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Dok Link Aja Foto: Dok Link Aja
Jakarta - Sejumlah perusahaan BUMN meramaikan industri financial technology dengan membangun LinkAja, yakni sebuah layanan sistem pembayaran berbasis QR code. LinkAja merupakan aplikasi hasil migrasi dari sejumlah uang elektronik milik BUMN seperti Mandiri E-cash, T-money, T-CASH, T-bank dan UnikQu. Kehadiran LinkAja diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk mendapatkan layanan sistem pembayaran yang mudah dan efisien.

Selain itu, LinkAja juga diharapkan bisa mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Sempat direncanakan meluncur pada awal April 2019, LinkAja berkali-kali mundur peluncurannya akibat alasan yang tak menentu. Namun, kini LinkAja diluncurkan dan siap bersaing dengan GoPay dan OVO.

Berikut wawancara khusus detikFinance dengan Direktur Utama Fintek Karya Nusantara, Danu Wicaksana.

Bisa dijelaskan kenapa peluncuran LinkAja selalu mundur dari jadwal yang sudah ditentukan?
Secara operasional, LinkAja sebenarnya sudah bisa dinikmati masyarakat Indonesia sejak awal Maret 2019. Sampai saat ini sudah jutaan masyarakat Indonesia yang menggunakannya. Hanya saja, seremoni peresmiannya yang sempat tertunda beberapa kali. Ada beberapa pemikiran di belakang keputusan ini, antara lain pertimbangan aspek keamanan pengumpulan massa di tengah masa kampanye Pemilu Presiden dan pemberian izin dari pihak berwenang, serta beberapa pertimbangan lainnya. Pada akhirnya, launching LinkAja dilakukan pada hari Minggu, 30 Juni di Jakarta.

Saat LinkAja pertama kali rilis dan ada di google playstore kan sempat ramai banyak pengguna yang gagal login dan gagal transaksi, boleh diceritakan apa yang terjadi saat itu? Kemudian butuh waktu berapa lama untuk proses penyesuaiannya?
Pada saat awal LinkAja di-release sebagai aplikasi baru di awal tahun ini, terdapat antusiasme pengguna yang signifikan, dan di sistem tercatat beberapa pengguna mengalami kendala layanan yang bersifat anomali dalam penggunaan LinkAja. Hal tersebut segera diatasi pada kesempatan pertama melalui penyesuaian yang efektif dan terukur guna memastikan layanan dapat kembali digunakan secara luas tanpa kendala.

Hingga saat ini sudah berapa banyak yang menggunakan LinkAja?
Hingga saat ini, terdapat sekitar 25 juta pengguna terdaftar yang berada di seluruh Indonesia.

Dulu kan LinkAja disebut-sebut sebagai pesaing GoPay dan OVO? Bagaimana sebenarnya?
Bagi kami, tantangan terbesar masih datang dari tingginya presentase penggunaan uang tunai dalam bertransaksi yang mencapai sekitar 76% dari total transaksi yang terjadi di Indonesia. Meskipun demikian, kini kami melihat semakin banyak masyarakat yang memahami dan menggunakan uang elektronik dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah memang LinkAja didesain untuk menyaingi mereka?
Pemain uang elektronik lain sebenarnya merupakan partner kita untuk saling bahu membahu mewujudkan masyarakat non-tunai. Ke depan, kami tentunya mengharapkan LinkAja tentunya bisa menjadi penyedia layanan uang dan dompet elektronik terbesar di Indonesia. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com