Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Nov 2019 09:59 WIB

Wawancara Khusus Dirut Jiwasraya

Buka-bukaan Dirut Jiwasraya Hadapi 'Sakitnya' Perusahaan

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Halaman 1 dari 5
Foto: Rengga Sancaya/detikcom Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta - PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menjadi perhatian. Perusahaan asuransi pelat merah tersebut terbelit persoalan keuangan yang belum juga usai.

Jumlah aset Jiwasraya pada kuartal III/2019 hanya Rp 25,6 triliun, sementara utangnya Rp 49,6 triliun. Artinya, total ekuitas atau selisih aset dan kewajiban Jiwasraya minus Rp 23,92 triliun.

Bisnis perusahaan ini tak bisa lagi menopang kerugian yang menyentuh angka Rp 13,74 triliun per September 2019. Sebab, premi yang dikumpulkan Jiwasaraya tergerus habis-habisan untuk pembayaran bunga jatuh tempo serta pokok polis nasabah.

Sementara Jiwasraya harus segera membayar klaim dua jenis asuransi yang sudah jatuh tempo dengan total kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan hingga mencapai Rp 16,3 triliun.

Menjawab permasalahan tersebut, Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko pun buka-bukaan dengan detikcom. Hexana membeberkan awal mula serta penyebab BUMN asuransi ini bisa terbelit masalah keuangan hingga saat ini.

Selain itu, Hexana yang baru menjabat masuk ke perusahaan pada pertengahan 2018 ini juga memaparkan seperti apa cara yang akan dilakukannya untuk membuat kondisi Jiwasraya kembali pulih, hingga cara menuntaskan kewajibannya ke nasabah. Berikut wawancara selengkapnya:

Bagaimana kondisi terkini Jiwasraya?
Jadi perusahaan kita ini, kami tuh masuk banyak yang tidak tahu ya (keadaannya). Kami masuk itu kan sudah dalam keadaan bermasalah. Terus kami ini tingkatnya sebenarnya sudah penyelamatan perusahaan.

Oleh karena itu kami berpikir namanya penyelamatan itu lebih ke bagaimana memikirkan, orang yang tahu itu mesti retstrukturisasi perusahaan, dalam keadaan perusahaan yang sedang sakit ya. Bukan hanya normatif, kalau cuma menjalankan pekerjaan saja, ya akan banyak yang tertarik, paling tidak, banyak orang yang bisa.

Jadi secara fundamental perusahaan ini sebenarnya sakitnya sudah serius, dan sakit serius sebuah perusahaan itu bukan membalik tangan mendadak. Sebenarnya pemegang saham dikira tidak tahu sama sekali itu, enggak. Dengan kecurigaan-kecurigaan sebelumnya makanya diambil sikap. Jadi selama ini orang mendiskreditkan pemegang saham tiba-tiba begitu justru dari kecurigaan. Karena tidak GCG (Good Corporate Governance) di perusahaan, sehinggga laporan pun itu tidak benar. Agak dimanipulasi laporannya.

Sehingga kan yang namanya pemegang saham itu berdasarkan laporan. Tapi ketika dicurigai, maka kemudian diganti manajemen. Waktu itu sementara Plt 6 bulan kan, terus baru Pak Asmawi masuk.

Ketika Pak Asmawi masuk kami melihat, kelihatan dari balance sheet-nya, neracanya, perhitungan cadangannya, itu kurang. Padahal dalam asuransi itu, cadangan itu merefleksikan pengakuan besarnya liabilities. Terus kemudian di sisi aset kok saya melihat aset-aset tidak bagus. Ketika pasar turun, kok dia jalan sendiri di atas. Mulai tak lihat, wah ini aset-aset yang bukan, sulit mencari tahu kenapa mempunyai aset itu. Mempunyai investasi itu.

Kalau di understanding saya, ketika orang mau melakukan investasi di finansial instrumen, nomor 1 yang dilakukan itu adalah kredibilitas analisis. Kredit risk analisis itu nomor satu bagi setiap orang yang mau analisis. Kenapa berani berinvestasi di instrumen itu, iya kan. Fundamentalnya tentu harus dilakukan, perusahaannya sehat atau tidak, terus wajar atau tidak, harganya sahamnya dicek wajar atau tidak, dia bergerak di bidang apa. Kemudian sustanability industrinya, dia lagi sunset atau tidak.

Kedua setelah itu magnitudenya, dia beli itu berani berapa. Perusahaan yang bagus tentu berani beli dengan jumlah yang besar. Tapi itu juga mengukur kemampuan ke dalam, kan ada modal. Maka ada namanya concentration risk segala macam. Di sini intinya tidak menerapkan portofolio investmen yang bagus.

Terus di sini ada satu greediness atau panik. Menurut saya, kerakusan atau panik. Dua hal yang hampir nggak bisa dibedakan. Kerakusan itu karena nafsu ingin mencari yang tinggi, tapi panik itu dipaksa mencari yang tinggi karena punya liabilities yang mahal. Jadi saya lebih kepada yang panik. Jadi memburu apapun instrumen, nggak peduli apapun ratingnya, dicari yang potensi, hanya potensi loh, upsidenya tinggi.

Tapi saya tanya, bagaimana melindungi dari downside? nggak ada. Jadi investasinya telanjang, naked. Sehingga ketika pasar jatuh ya ikut jatuh.

Buka halaman berikutnya>>> (fdl/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com