Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 26 Jan 2020 07:00 WIB

Wawancara Khusus Presdir OVO

Buka-bukaan soal OVO Masih Rugi Meski Patok Biaya Isi Ulang

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Presdir OVO Karaniya Dharmasaputra (Sylke Febrina-detikcom)
Jakarta -

Beberapa hari lalu, OVO mengumumkan akan memberlakukan biaya sebesar Rp 1.000 untuk setiap kali isi ulang melalui channel instan seperti perbankan. Tarif isi ulang ini mulai dikenakan pada 2 Maret 2020 mendatang. Namun, OVO menyebut untuk isi ulang melalui pengemudi Grab gratis alias tanpa biaya.

Kepada detikcom, Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra blak-blakan terkait alasan pengenaan tarif tersebut. Berikut kutipan wawancaranya:

Terkait biaya saat isi ulang yang berlaku pada 2 Maret 2020, apa alasan OVO akhirnya mengenakan biaya tersebut?
Begini, sejak pertama kali OVO berdiri kita belum pernah kenakan charge (ongkos) kan. Ya memang seperti yang saya bilang itu, pasar ini kan baru. Dua tahun lalu orang belum kenal e-wallet, tapi e-money kan sudah begitu juga e-toll, jadi memang e-wallet sesuatu yang baru.

Sebelum ini, kita memang fokusnya melakukan edukasi kepada pasar dan masyarakat. Mengenalkan e-money itu bisa membuat layanan pembayaran menjadi lebih mudah dan murah itu paling penting. Karena jika lebih murah akan lebih mudah menjangkau masyarakat. Sekarang transaksi menggunakan cash itu masih sekitar 90%.

Segala macam transaksi keuangan itu ada backbone, ada infrastruktur dan kita kerja sama dengan mitra, pasti ada biayanya. Selama ini karena untuk kepentingan edukasi costnya kami yang tanggung. Karena itu, sekarang setelah masyarakat teredukasi dan regulator juga mengharapkan supaya industri fintech bisa tumbuh jadi bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Nah karena itulah kita mulai kenakan charge.

Kenapa Rp 1.000 biayanya?
Pertama, kita mau yang termurah karena sudah jelas saat ini fintech berhasil mendemokratisasi industri keuangan nasional yang dulu sangat elit. Kami selalu cari cara bagaimana nih supaya lebih murah dan terjangkau dan membantu menurunkan transaksi menggunakan uang cash.

Apalagi pemerintah kan selalu bilang inklusi keuangan, esensinya di situ. Kalau dari kami angka 27-28% dari pengguna ovo itu adalah kalangan unbank dan underbank.

Memang biaya itu harus tetap terjangkau, tapi di sisi lain kami juga masih ada biaya yang harus ditanggung. Misalnya, ada pengiriman uang lewat OVO itu agar terkirim ada biayanya, kami dicharge oleh bank, oleh perusahaan switching dan sebagainya.

Nah Rp 1.000 ini yang saya ingin tekankan. Kami tidak ambil untung sama sekali nggak ambil profit. Bahkan ada beberapa komponen biaya yang nggak bisa diserap, saya nggak bisa disclose. Kasarnya saya nggak ambil untung, ini cuma membuat untuk mengurangi cost gitu.

Yakan setiap bisnis harus pertama edukasi, growing the market, ya kita harus tumbuhlah sebagai bisnis yang sehat. Jadi Rp 1.000 itu kalau dibandingin saya kira itu sangat kompetitif dan sangat murah dibanding biaya serupa lainnya. Tapi tujuannya itu jadi kita harus mulai menuju ke arah bisnis yang suatu saat bisa profit.

lanjut ke halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com