Wawancara Ketua Kadin

Siasat Pengusaha Bertahan di Tengah Kemelut Corona

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2020 14:52 WIB
Ketua Umum Kadin Rosan P. Roeslani
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani. Foto: Citra Nur Hasanah / 20detik
Jakarta -

Virus corona terus meluas wabahnya di Indonesia, hampir sebulan dilanda wabah sudah ada lebih dari 1.500 catatan kasus positif corona. Namun, bukan cuma menyerang kesehatan masyarakat, virus ini juga menyerang perekonomian.

Tak heran, pengusaha pun mulai teriak kesulitan di tengah wabah yang makin meluas. Mulai dari masalah kesulitan keuangan karena seret pendapatan, kesulitan bahan baku, bahkan sampai sulitnya membayar THR disuarakan pengusaha.

Selain kesulitan, pengusaha juga meminta sederet insentif kepada pemerintah untuk tetap bertahan. Di samping itu pengusaha juga mencoba mengulurkan bantuan sosial di tengah wabah pandemi corona di Indonesia.

detikcom pun mengulik kondisi dan jurus para pengusaha yang bertahan hidup di tengah wabah. Simak wawancara lengkap bersama Ketua Umum Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani di bawah ini.

Bagaimana gambaran kondisi pengusaha kita setelah sebulan dilanda pandemi di tanah air, lalu sektor apa yang paling terdampak?
Kondisi pengusaha sekarang tidak mudah, berat. Terutama di industri yang sangat terdampak langsung bahkan dari awal, kayak pariwisata, restoran, kalau kita kemana-mana kan sekarang sepi. Transportasi juga penerbangan, airline, kita lihat penerbangan saja sudah berapa aja di dunia yang shut down nggak melayani penerbangan ya.

Belum lagi industri manufaktur, teman-teman manufaktur menurunkan kapasitas produksinya. Belum lagi pasokan untuk bahan baku itu juga mulai terkendala, karena kan kita banyak mengambil dari China kan impornya. Meski sekarang sudah mulai jalan lagi.

Tapi ya elektronik, bahan baku tekstil dan lain-lain itu kebanyakan diambil dari China. Lalu, untuk mencari penggantinya itu nggak gampang gitu. Pertama mungkin speknya nggak cocok, ditambah lagi negara lain membutuhkan hal yang sama. Jadi perebutan juga, ini hal yang sangat tidak mudah kondisinya.

Kalau ditanya industri apa saja, saya katakan semua industri udah kena dampak semuanya ya. Ini perlu ada sesuatu kebijakan, baik yang bersifat fiskal maupun moneter, kebijakan riil, dan penguatan UMKM dalam rangka menghadapi coronavirus yang kita nggak tahu nih sampai kapan ada di Indonesia ini. Sehingga mesti ada kebijakan yang komprehensif.

Pemerintah kan sudah sampaikan relaksasi tapi baru sampai ke UMKM dan pengusaha kecil, apakah kalangan usaha menengah atas butuh juga?
Semua butuh sekarang, semua butuh. Karena, kita ini sekarang moodnya untuk bertahan lah, bertahan dulu, yang paling penting apa? Adalah jaga likuiditas, jaga cash, kalau nggak ada likuiditas ya company ya udah nggak bisa apa-apa juga. Bisa terjadi PHK juga, dan itu sangat kita hindari ya.

Oleh sebab itu pemerintah juga sudah mengeluarkan beberapa kebijakan itu juga termasuk masukan dari kami, dari Kadin. Saya terima kasih direspons cepat Bapak Presiden, dan juga oleh pemerintah. Tetapi ini perlu diperluas lagi, tidak hanya untuk manufaktur saja, kan sekarang sudah manufaktur atau pariwisata saja. Ini harus diperluas kebijakan ini ke semua industri baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung karena semua pasti terdampak sekarang ya. Maka kita minta ini diperluas.

OJK kan juga sudah mengeluarkan kebijakan, sebetulnya itu bukan hanya UMKM lho. Saya perlu klarifikasi kebijakan OJK itu belum lama ini saya minta ke Pak Wimboh. Pak ini kapan keluarnya? Begitu keluar dia langsung kasihkan peraturannya ke saya dikasih lihat. Itu sebetulnya bukan hanya Rp 10 miliar atau treshold untuk UMKM saja. Itu juga untuk pengusaha menengah dan besar, jadi bukan hanya untuk UMKM saja jadi itu perlu diklarifikasi. Memang fokusnya ke UMKM tapi dampaknya bisa ke kita juga.

Kita sudah rilis juga ke Kadin, kita melakukan overscroll bersama dengan beberapa bank BUMN, Pak Wimboh dan jajarannya, serta asosiasi industri di kantor kami. Kita dapat keterangan langsung ini bisa berlaku untuk semua.

Poinnya mayoritas ke kredit dan suku bunga, khusus perusahaan menengah ke atas, selain itu, poinnya apa lagi?
Saya kira bisa dilihat ke cashflownya nanti, kalau sangat berat ya bisa saja penangguhan berbentuk bunga termasuk pokok iya, selama setahun. Bisa bunga saja pembayarannya. Jadi bisa dilihat cashflow dari masing-masing. Dan dalam masa restrukturisasi itu debiturnya tidak dianggap sebagai kredit macet. Karena penting juga buat perbankan, kalau itu misalnya jadi call macet perbankan harus siapkan cadangan. Sedangkan perbankan juga menghadapi masa yang tidak mudah saat ini.

Dunia perbankannya sendiri bagaimana, apakah siap?
Itu juga kan sudah terpikirkan, pemerintah sudah komunikasi juga dengan kita. Perbankan juga nanti di-inject pemerintah kurang lebih Rp 400 triliun, dalam bentuk recovery bond. Jadi pemerintah akan berikan recovery bond, yang akan dibeli oleh BI, BI punya cadangan kurang lebih US$ 130 miliar. BI sebenarnya tidak boleh membeli langsung itu ada undang-undangnya. Makanya sekarang dibikin Perppu-nya. Perppu-nya sudah disiapkan dan sudah ada. Lalu itu memang harus ada persetujuan dari DPR.

Perppu-nya sudah diminta, jadi nanti Rp 400 triliun ini pemerintah akan salurkan ke bank-bank. Lalu bank bisa berikan kepada dunia usaha dan pengusaha dengan syarat, bahwa yang menerima uang ini tidak boleh lakukan PHK lebih dari 10% dari pekerjanya. Ini juga sedang didiskusikan terus, kurang lebih seperti itu, jadi kita ikuti kok.

Ini dunia usaha, ini UMKM-nya, ini dunia usahanya, ini kenanya kemana ini ke siapa, oh perbankan. Perbankan penanggulangannya ke mana, oh recovery bond. Recovery bond mana, oh BI ada dananya. Daripada BI hanya SBN, kita kan sebagian besar SBN itu dimiliki asing, hampir 40%. Sedangkan negara Asean lain hanya 20%-an.

Dan mereka sempat tekanan ke mata uang besar kan. Karena SBN kita hampir 40% dibeli asing, BI ambil kan, sehingga tekanan ke rupiah begitu besar. Nah memang ini agak turun. Tapi itu kan BI harus membantu dari dalam juga. Itu yang lagi dibicarakan juga sehingga semuanya bisa ada satu kebijakan yang menyeluruh dan komprehensif gitu.

Untuk recovery bond ada syarat akan diterbitkan kapan, mengingat virus corona makin meradang?
Ini secepatnya, ini kan perubahan sangat cepat mungkin tiga minggu atau sebulan lalu mungkin corona belum ada di kita. Sekarang sudah lebih dari seribu, dan ini kemungkinan besar dengan adanya test kit masuk banyak berarti yang dites kan makin banyak. Sekarang aja kalau saya tidak salah, kurang lebih 6 ribu ya yang dites. Ini aja udah seribu berarti kalau test kit makin banyak otomatis kenaikannya akan lebih cepat gitu. Ini yang harus diantisipasi bersama, ini tugas kita semua lah.

Soal PHK, ini kan kondisinya darurat. Apakah PHK dilakukan langsung atau pegawai hanya dirumahkan saja?
Saya dapat laporan sekarang sih mereka PHK final sih nggak, itu kan mereka mesti bayar pesangon juga. Yang mereka lakukan, terutama perhotelan lah paling gampang. Itu mereka merumahkan, dan bayar gaji 50%. Ada yang berat cuma bayar 30% itu juga ada. Kalau PHK langsung itu nggak, karena mesti bayar pesangon. Jadi daripada mereka memberhentikan, ya mungkin mereka kurangi gajinya.

Lanjut ke halaman berikutnya ada pembahasan soal THR

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Pasar Domestik Kini Jadi Sasaran Pengusaha Furnitur"
[Gambas:Video 20detik]