ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus

Dirut Holding Perkebunan Bicara Hikmah di Balik Pandemi Corona

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2020 07:00 WIB
Dirut PTPN III Mohammad Abdul Ghani
Foto: Dok. PTPN

Di awal kepemimpinan Pak Erick Thohir, direksi BUMN kerap kali dirombak, bagaimana tanggapan bapak? Apakah sebagai Dirut di BUMN juga bapak juga siap ketika harus dicopot?
Beliau kan punya visi dari Presiden. BUMN itu kan besar, peran BUMN terhadap PDB nasional itu besar. Kedua, Pak Erick itu berpikir bukan BUMN-sentris, tapi Indonesia incorporated. Jadi dulu itu kalau kerja sama harus BUMN sama BUMN. Jadi Pak Erick itu ekosistem nasional, jadi kita bisa berkolaborasi dengan siapa pun, dan beliau kan ingin men-deliver visinya Presiden. Perombakan itu kan bagi siapa pun itu suatu keniscayaan, disesuaikan itu perombakan. Karena sekarang itu seperti beliau yang saya tahu, beliau kan sekarang diamanahkan Presiden Kepres 40 itu beliau mau melakukan re-klasterisasi industri.

Contohnya PTPN itu nanti jadi 1 klaster, yaitu klaster pangan. Itu shahih. Ketika kita melakukan konsolidasi itu kan memperhatikan supply chain. Dari hulu ke hilir, dari bahan baku, satu produk, sampai ke pemasarannya, terus supporting, sumber bahan baku, berkaitan itu, jadi dijadikan supply chain. Jadi pendekatan klaster industri, dari 27 menjadi 12 itu, pendekatannya supply chain.

Contohnya PTPN menguasai gula, sekarang gulanya dijual, Bulog yang jual gula kami. Sampai mungkin kalau bisa ke ritel-ritel juga ikut, kan sekarang ada BGR. Nah kenapa begitu? Ketika negara tidak memiliki kapasitas untuk mengendalikan ekonomi secara business to business dikendalikan oleh spekulan. Sekarang sudah kejadian gula, sudah diimpor harga tetap naik juga. Nanti kalau PTPN yang sebagai produsen gula, lalu gulanya masuk ke Bulog disimpan untuk kebutuhan 1 tahun, maka nanti harga di mana pun bisa dikontrol. Seperti Pertamina itu, Premium itu di mana-mana harganya sama Rp 5.500/liter. Jadi pendekatan beliau itu.

Isu ke depan itu kan food and energy terpenting. Nah pemerintah melalui BUMN ingin meningkatkan kapabilitas di food and energy. Food kan salah satunya minyak makan, gula, bahkan nanti kita akan coba kolaborasi dengan private sector mengenai daging. Daging itu kita impor masih banyak. Padahal PTPN itu punya namanya bahan silasis, itu dari pucuk tebu yang dicacah itu manis untuk hewan, bisa jadi pakan ternak, disimpan itu bisa 2 tahun. Kita punya bungkil kelapa sawit, itu bisa untuk 250.000 ekor dalam 1 tahun. Kita punya tetes, kita tinggal cari investor. Jadi Pak Erick berpikir begitu. Sekarang kita semua ini kan impor, gula impor besar-besaran, ternak impor. Kalau suatu saat terjadi apa-apa di dunia kita susah. Maka pangan harus mandiri.

Jadi Pak Menteri visinya seperti itu, ya tentu harus dirubahlah strukturnya. Dan PTPN itu sebenarnya bukan dari Pak Menteri langsung, bukan. Kami menterjemahkan, kami mengusulkan, beliau setuju.

Tapi saya diberikan wewenang itu kan harus tanggung jawab. Nggak usah diberhentikan saya akan lapor, Pak saya gagal. Kalau sudah diberi tanggung jawab kaan begitu, buat apa memaksakan. Kalau nanti kita nggak bisa ya lapor, kan ada buktinya juga, itu jelas, itu profesional.

Mengenai klaster pangan apakah sudah dibahas dengan BUMN lain seperti Bulog dan RNI seperti yang sudah dinyatakan Pak Erick?
Belum, kami baru sama Perhutani lagi dibahas. Itu urusan kementerianlah. Saya hanya bagian yang melaksanakan. Yang jelas instrumen legalnya beliau sudah dapat Kepres 40 tahun 2020 itu, kewenangan Pak Menteri itu besar. Menutup perusahaan, me-merger, itu dari Menteri. Dulu kan pakai PP, lama. Itu kan ada tim pengarah dan ketua, jadi kalau ada tim pengarah tinggal teken saja. Jadi cepat, dan perlu kecepatan itu. Karena kan momentum. Jadi saya yakin BUMN akan berubah.

Supply chain kan begitu. Kalau saya produksi beras, lalu sudah ada warung makannya, jadi rantainya nggak panjang. Artinya supply chain itu akan mengefisiensi rantai distribusi, saya yakin.

Bagaimana kinerja ekspor produk perkebunan di tengah pandemi? Produk apa yang mengalami peningkatan ekspor?
Kelapa sawit trennya meningkat, sampai April bagus sekali. Tapi Mei agak turun, ini balik lagi. Ketika terjadi uncertainty itu orang menunggu. Cost-nya itu ya akhirnya semua menunggu. Transaksi kan jadinya menurun. Maka agak turun di bulan Mei, tapi sudah naik lagi. Paling tidak sawit meningkat, ya nggak berpengaruh.

Kalau melihat neraca perdagangan dibanding tahun lalu itu kan sawit yang menyelamatkan, malah di atas tahun lalu. Jadi kuartal I kalau tidak salah sawit US$ 3,5 miliar. Padahal ini pandemi, tapi sawit naik. Kalau yang lain ya habis, apalagi tekstil. Karet memang agak turun sedikit. Gula kan memang dalam negeri.

Nah gula ini potensi sekarang. Gula itu secara komoditas, itu lebih bagus dari sawit sebenarnya, karena gula itu pasarnya dalam negeri. Nah kalau kita bisa mengefisienkan, gula itu per hektare-nya profitabulitasnya itu bisa 2 kali lipat dari sawit. Maka ke depan kita akan fokus gula.

Nah gula itu PTPN masih rugi. Makanya ada 4, untuk perusahaan jadi untung, untuk negara kemandirian pangan, untuk petani harganya jangan terlalu rendah, untuk konsumen harga beli sesuai. Kita akan berusaha.

Nah ekspor sawit, PTPN itu juga tinggi. Kalau tahun lalu, harga paling Rp 7.000/kg, nah kemarin Rp 8.500/kg. Ini demand tetap, ya agak naik sedikitlah. Sekarang kan orang mengutamakan pangan dengan harga murah. Sawit kan minyak makan juga, tapi harganya murah. Nah itu kita diuntungkan. Ketika harga menyusut, orang memprioritaskan kebutuhan fisik dengan harga paling rendah. Tapi beda dengan orang kaya, yang melihat bukan hanya kualitas, bahkan volume. Kalau semakin ke bawah kan orang mengutamakan volume. Jadi dengan volume sama cari harga yang lebih murah sawit itu. Ekspor terbesar sawit kita itu ke India, Bangladesh, China. Nah China ini memang agak turun kemarin karena ada lockdown.

Tapi kalau perdagangan tidak terlalu terdampak, apalagi komoditas tidak terkena pembatasan. Tapi agak melambat karena yang menjalankan manusia, ya agak lambat sedikit.

Menjelang musim giling, berapa target produksi PTPN?
Tahun ini hampir 1 juta ton, naik hampir 200.000 ton. Ya 970.000 ton sekianlah.

Bagaimana PTPN mengantisipasi anjloknya harga gula saat panen?
PTPN itu kan BUMN. Jadi kami sekarang sedang gencar-gencarnya mengembangkan ritel gula. Jadi ritel kan HET Rp 12.500/kg. Jadi sebagian besar Pabrik Gula (PG) itu produksinya diritelkan. Kita sudah punya perizinan, punya fasilitas. Dengan diritelkan kan harganya tidak turun. Tapi yang kedua, dengan tender fight itu, asal tidak dibanjiri. Tapi gula itu kan sebenarnya masih kurang. Kalau tidak dibanjiri impor, saya kira pemerintah juga nggak mungkin gila-gilaan mengimpor. Tapi kita perlu seimbang juga, mencari ekuilibrium. Artinya harga jual itu di sisi petani tetap menarik, di sisi konsumen tidak terlalu tinggi.

Tapi tentu saja pengaruh yang banyak kan kebijakan pemerintah, public policy. Kalau pemerintah mengimpor gula banyak-banyak pasti kita nggak bisa juga. Ini kan mekanisme pasar, ini kan perusahaan. Tapi untuk mengerem itu kita banyak menjual dengan cara forward selling, ya jangka panjang. Jadi artinya untuk mengurangi risiko. Kalau harga spot kan fluktuasi. Tapi kalau dijual jangka panjang kan ada kepastian delivery, maka terjaga harganya. Tapi yang kedua adalah itu tadi, meritelkan.

Kita kan punya beberapa meltan PG kita. Jadi dikemasi per 1 kg. Kita melalui jaringan distribusi yang kita miliki atau melalui swasta, itu kan rantainya pendek. Dari pabrik langsung ke distributor, lalu ke Alfamart dan Indomaret misalnya. Itu salah satunya memotong rantai distribusi, jadi jangan dijual ke pedagang. Jadi melepaskan diri dari dominasi pedagang itu. Kita penjualan dari tebu rakyat juga partai-partai kecil misalnya 1.000 ton. Supaya mekanisme persaingan ditender itu lebih baik. Kalau jual sedikit-sedikit, nggak banyak kan pembelinya ingin sedikit. Kalau jual daging 5kg mungkin semua bisa beli, tapi kalau minimal 100 kg nggak mungkin semua bisa beli.

Bagaimana mekanisme penjualan gula jangka panjang tadi? Apakah untuk mengantisipasi kekurangan stok gula di masa-masa ketika tak ada panen?
Kita kan mungkin sampai bulan 10 barangkali. PTPN itu karena dari Sabang sampai Merauke beda-beda gilingnya. Seperti Sumatera Utara itu bulan 2, sampai mungkin bulan 6 habisnya. Habis itu Lampung, baru sekarang Jawa. Nanti terakhir Sulawesi, mulai giling bulan 7. Jadi 1 tahun yang kosong nggak giling mungkin November-Januari yang nggak produksi gula.

Apakah PTPN ada rencana membuka toko e-commerce sendiri untuk menjual gula? Sehingga ketika harga tinggi masyarakat bisa langsung beli dari PTPN?
Karena ada supply chain, kan ada distribusi seperti Bulog, ya kita nggaklah. Kita kan produsen. Artinya kita kerja sama dengan Bulog, dengan BGR yang perusahaan logistik. Jadi dia menjual gula sama minyak di sekitar Jakarta itu berapa ribu outlet, kita yang supply. Ya kita jangan sendiri. Paling kalau sendiri kita jual ke operasi pasar dan ke karyawan. Kalau ritel kita ambil alih distribusinya kan nggak gampang. Kita kolaborasi, sama Bulog kita sudah kerja sama.

PTPN mau fokus menggenjot produksi gula ke depannya?
Jadi kebijakan komoditas kita itu 4 saja, pertama gula, minyak sawit, karet kita kurangi luasnya, teh kita kurangi luasnya. Nanti semua kita akan ke hilir, ke downstream industry, baik sawit, gula, maupun teh akan ke downstream saja.

Lahan tebu ini mau diperluas ke mana saja?
Jadi gula ini ada dua sumber lahannya. Pertama lahan HGU, lahan HGU itu lahan milik sendiri, itu 60.000 Ha, saya akan tambah paling tidak 80.000 Ha. Dari mana? Ada seperti Sumatera Utara itu kan yang dulu daerah-daerah yang digarap rakyat kita ambil alih, kemarin ada 4.000-an Ha, yang diambil rakyat itu. Kemarin kita kerja sama dengan aparat negara, dengan polisi, akhirnya kita kasih ganti rugi mereka, hampir 4.000 Ha kami ambil alih.

Lalu seperti di Lampung, atau Sumatera Selatan, kemudian Jawa Tengah, Jawa Timur itu mungkin karetnya kita kurangi. Karena karet itu kan untuk ekspor, ekspor itu kan uang. Tapi gula kan kebutuhan dalam negeri, kan lebih bagus kita membela kebutuhan rakyat kan. Jadi kita akan konversi ke gula.

Target 80.000 Ha itu dalam berapa lama?
5 tahunlah paling lama. Kalau produksi kita tahun lalu 800.000 ton. Tahun ini hampir 1 juta ton. Paling cepat dalam 2 tahun kita bisa 1,8 juta ton. Caranya tadi, diperluas lahan tebu sendiri, ditingkatkan produktivitasnya dengan teknologi baru, full mekanisasi untuk areal HGU.

Lalu petani itu kan tidak bisa dipaksa. Total lahan petani itu mungkin 125.000 Ha. Kalau kita bisa memberikan paket teknologi, memberikan pembinaan kepada petani sehingga produktivitas petani meningkat. Petani itu kan 125.000 lahan yang jadi tebu. Padahal di Jawa kalau tidak salah ada 6 juta Ha petani sawah. Artinya kalau tanah petani 125.000 Ha, bisa naik katakanlah 200.000 Ha, ditambah 80.000 punya kita kan jadi 280.000 Ha.

Nah itu 280.000 Ha kalau rata-rata produktivitas 8 ton per Ha, sekarang kita masih 5,5 ton per Ha. Kalau di luar negeri itu 10 ton per Ha, kita nggak perlu 10 ton tapi 8 ton saja, itu kalau dikali 280.000 kan sudah 2 juta ton. Itu baru PTPN, ada lagi RNI, swasta keci;. Katakanlah mereka bisa produksi 500.000 ton. Kan sudah 2,5 juta ton. Kebutuhan kita memang 3 juta, tapi kurang sedikit kan? Indonesia kalau belum swasembada, setidaknya, seharusnya mengurangi impor gula kalau kita mengembangkan teknologi, intensifikasi, saya optimistis bisa. Karena semua ada.

Jadi kita mengembalikan kapasitas seperti di zaman dulu. Di zaman Belanda itu, saya punya catatan sejarah. Tahun 1929 itu produksi gula Indonesia 3,5 juta, di Jawa semua itu, di Sumatera nggak ada. Sekarang hanya 2 juta. Dulu jumlah PG itu di Jawa 187 pabrik, sekarang tinggal 43. Itu artinya kita dalam sejarah kita pernah produksi sampai 12 ton per Ha. Jadi gula itu sebenarnya punya kebesaran masa lalu.



Simak Video "Penyaluran Dana BLT Minyak Goreng Capai Rp 7,2 T"
[Gambas:Video 20detik]

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT