Wawancara Khusus Dubes RI untuk China

Dubes Djauhari Blak-blakan Mesranya Hubungan Dagang RI-China

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 24 Jun 2020 17:05 WIB
Dubes RI untuk RRC Djauhari Oratmangun
Foto: Edi Wahyono


- Lalu dengan adanya pandemi ini apakah mengubah semua capaian hubungan perdagangan dengan China itu?

Perdagangan kita di tahun 2019 naiknya itu signifikan, total volume perdagangan dengan China tahun 2019 itu kalau saya nggak salah ingat mendekati US$ 78 miliar. Menariknya di kuartal pertama itu untuk pertama kali perdagangan kita dengan China kita surplus. Jadi nilainya itu lumayan. Periode Januari, sampai April itu total nilai perdagangan Indonesia dan Tiongkok itu mencapai US$ 24,1 miliar, memang dibandingkan periode tahun lalu itu turun sedikit, tetapi dalam konteks ini kita itu ekspornya US$ 12,7 miliar. Jadi kita dibandingkan dengan mereka, kita ada surplus US$ 1,3 miliar. Pertama kalinya kita ada surplus.

Ternyata kalau saya bedah lagi itu sektor-sektor yang menonjol merupakan dari produk-produk makanan. Ada sarang burung walet, kemudian kerupuk udang dan produk-produk makanan lainnya. Produk makanan kita cukup laku di sana, juga itu produk-produk perikanan dan kelautan. Ikan-ikan segar segar dan juga ini satu yang menarik ini produk buah-buahan tropis. Jadi kesimpulan sementara bahwa ternyata UKM kita itu luar biasa, mereka kreatif pada saat pandemi seperti sekarang itu ekspor meningkat ke Tiongkok.

- Bagaimana ceritanya produk sarang burung walet Indonesia diminati di China?

Waktu saya pertama kali masuk KBRI sana itu eksportir sarang burung walet Indonesia ke China ternyata banyak yang ilegal, jadi yang berizin itu hanya 4 karena nilainya yang tinggi. Sarang burung walet itu di sana dikenal sebagai makanan kaisar, yang kedua ada yang menyebutnya sebagai caviar dari timur, karena itu harganya mahal. Menurut profesor-profesor yang melakukan riset itu memang mengandung kolagen. Khasiatnya kan untuk untuk kesehatan kulit dan lain-lain, jadi penggemar burung walet itu 75% wanita dan dari situ lebih dari 75% itu wanita yang sedang hamil. Itu dipercaya dan sesuai penelitian juga, itu akan meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan intelektualitas dari janin yang dikandung.

Nah sekarang itu eksportir yang berizin dari Indonesia itu sudah 21 eksportir, kemudian 3 eksportir akan menyusul. Jadi lumayan sudah 24 eksportir sekarang. Jadi kita itu sudah kuasai pasar sarang burung walet China sekarang sudah 74%.

Nah kenapa mahal ya karena tadi itu memang mahal sekali. Jadi dia bisa dijadikan makanan, bisa dibikin sup dan lain-lain. Kalau yang bentuknya telungkup utuh itu memang mahal sekali. Nah tapi yang sudah hancur itu ternyata masih bisa dimanfaatkan juga. Ada yang kreatif, yang hancur juga bisa dibikin kue.

Ada UKM kita namanya Rudi, dia punya apa rumah burung di Kalimantan pabriknya itu ada di Bogor. Kan kue bulan laku disana, dia buat mooncake bird nest, kan jadi laku itu. Kedua dia buat minuman, itu kalau dijual di pasar ritel 6 botol kecil kalau dirupiahkan Rp 4 juta, mahal kan. Juga ada yang mie instan. Memang makanan ini membuat naik gengsi, karena di sana dipercaya itu sebagai makanan raja-raja atau kaisar-kaisar dulu.

Ada yang lain juga misalnya kerupuk udang dari Jawa Timur. Orangnya ada di China, dia kirim dari sini. Dia jual pakai influencer dan di sana iklan di influencer paling lama 6 menit. Nah waktu dia muncul 6 menit pertama itu terjual 5 kontainer. Kemudian beberapa hari kemudian dia muncul lagi pakai influencer yang sama telah terjual itu 6 kontainer. Kemudian percobaan yang ketiga itu 4 menit sudah 8 kontainer. Nah, total nilai rupiah dari yang dijual itu di atas Rp 12 miliar. Keunikan produk ini di packaging-nya. Dia coba lagi coba lagi pakai bintang film terkenal di sana, eh malah nggak menjual sebanyak influencer.

Sebelum saya kembali ke sini kita sudah buat kerja sama juga dengan beberapa platform-platform digital di sana untuk mempromosikan produk Indonesia. Saya mau bikin festival belanja produk Indonesia pakai platform di sana itu mulai 17 Agustus sampai dengan 1 Oktober. Tanggal 1 Oktober itu hari nasional mereka. Ya begitulah harus kreatif memang berdagang sama orang China ini.

- Berapa banyak produk RI yang tenar di China?

Kalau dilihat dari struktur ekspor kita kesana paling besar masih mineral batubara, kedua itu palm oil kita signifikan juga di sana. Baru kemudian ke produk-produk elektronik, furniture, produk produk kehutanan berikutnya baru produk makanan. Tapi produk-produk makanan ini kan banyak UKM jadi daya serap tenaga kerjanya lumayan juga.

Untuk makanan misalnya kopi, itu berbagai jenis tapi yang leading di sana Kapal Api. Kemudian ada kerupuk, sarang burung walet, buah naga, mudah-mudahan kemudian protokol buah nanas juga dalam waktu dekat, karena kan kita luar biasa enaknya itu. Nah yang agak susah durian, durian itu yang kuasai pasar di China itu Thailand dan Malaysia. Nilai ekspor durian dari Thailand tahun lalu ke Tiongkok US$ 2 miliar, itu durian saja. Padahal durian kita varietas kan banyak banget, tapi kan belum industri kita.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Sara Djojohadikusumo: Politik Perempuan, Anak, dan Keluarga"
[Gambas:Video 20detik]