Wawancara Khusus Dirut TransJakarta

Buka-bukaan Soal Halte Jadi Korban Kericuhan Demo Omnibus Law

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 06:00 WIB
Dirut Tj, Sardjono Jhony
Foto: Dirut Tj, Sardjono Jhony (Dok.TransJakarta)
Jakarta -

Transjakarta sebagai salah satu moda transportasi publik terbesar di Provinsi DKI Jakarta tetap beroperasi di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), dan juga di tengah aksi demonstrasi tolak Undang-undang (UU) Omnibus Law Cipta Kerja.

Kedua hal itu punya dampak signifikan pada kinerja perusahaan. Dari sisi pandemi, jumlah penumpang Transjakarta yang jadi sumber pendapatan utama perusahaan menurun drastis.

"Kalau penurunan Maret-April-Mei itu drastis, penumpang kita tinggal 15%," ungkap Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo dalam wawancara khusus dengan detikcom, Selasa (27/10/2020).

Belum lagi pengeluaran perusahaan yang membengkak hampir dua kali lipat karena banyaknya tambahan keperluan untuk pencegahan virus Corona di perusahaan.

Ditambah lagi dengan demonstrasi besar-besaran menolak Omnibus Law Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020 lalu yang sampai merusak puluhan halte, dan sebanyak 6 halte dibakar pendemo sampai hangus. Perusahaan pun harus menelan kerugian miliaran rupiah.

"Karena tidak bisa dipakai, dan kerugian asetnya, kan ada yang terbakar, tidak bisa dipakai. Padahal baru setahun, seperti Tosari itu. DIbakar sampai sedemikian rupa, sampai bajanya melenting. Nah itu kerugian total Rp 65 miliar," ujar Sardjono.

Namun, perusahaan tetap berusaha 'unjuk gigi' dengan menjalankan sederet rencana kerjanya, mulai dari program Langit Biru yakni memperbanyak armada bus listrik, hingga melanjutkan halte integrasi.

Selengkapnya, dalam wawancara detikcom dengan Dirut Transjakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo:

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4