Blak-blakan Menkeu Sri Mulyani Indrawati

Sri Mulyani di Antara Utang, Pandemi, dan Manusia Setengah Dewa

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 09 Des 2020 14:27 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono

Kalau terkait cukai rokok sudah ada keputusan?

Kita setiap tahun memang menerima banyak masukan dari berbagai penjuru kepentingan dalam hal ini. Dari industri saya sudah tahu bahwa kalau mereka tahu pemerintah membuat keputusan akan muncul banyak sekali aspirasi. Jadi yang usaha sangat kecil dari pengusaha rokok kelas 3 sampai perusahaan yang besar banget, dan di sisi lain saya juga menerima banyak sekali petisi bahkan tidak usaha pakai surat, di Instagram saya, di dalam media massa digital, mereka katakan Bu Sri Mulyani kapan naikin ini banyak orang yang sudah merokoknya meningkat pada anak-anak. Jadi saya itu dapat dari petani, dari buruh, dari industri, dari mereka yang konsen kesehatan, mereka semua nulis surat, mereka menggunakan semua jalur untuk menyampaikan pentingnya.

Jadi memang harus terus hadapi, jadi memformulasikan cukai rokok itu saya tahu betul ada yang konsen kesehatan dari prevalensi merokok pada anak dan perempuan dan itu sudah ada di RPJMN. Kemudian dari petani tembakau mereka yang konsen apakah hasil tembakaunya ditampung dengan harga fair. Ada dari pekerja pabrik rokok yang manual masih tangan, ada dari perusahaan besar. ADa juga termasuk Pemda yang di mana industri rokoknya banyak mereka juga konsen.

Ada hal lain yang barangkali nggak dilihat, kalau cukainya tinggi banget maka orang akan melakukan produksi rokok ilegal, kalau bikin rokok mesinnya itu bisa diangkut di pick up kecil lah, jadi bisa pindah ke rumah-rumah dan itu produksinya tidak hanya 100 batang tapi bisa ratusan ribu bahkan juta. Saya instruksikan kepada DJBC, ini rokok ilegal jangankan bayar cukai, tapi dia bisa beredar karena bikin rokok itu gampang banget.

Jadi kami pasti akan umumkan pada saatnya kalau kita sudah melihat aspek ini secara matang sekali dan kita akan melihat oh dampaknya di sisi kesehatan, terhadap petani, buruh, terhadap penerimaan negara, terhadap rokok ilegal seperti apa, dan ini yang kita instruksikan kepada DJBC, saya mau policy yang merefleksikan keseimbangan yang memang sulit untuk diseimbangkan itu. Nanti akan kami umumkan kalau kami sudah menghitung.

Ibu masak ayam Kalkun, itu ibu yang masak atau ibu cuma pejeng saja?

Foto itu dibuat tahun 2015, saya masih hidup di Amerika Serikat, saya hanya tinggal berdua sama suami saya tidak punya pembantu. Kalau ditanya itu pakai pembantu, itu cara berpikirnya orang yang ada di Indonesia yang biasa di rumah ada yang bantuin. Saya tinggal berdua sama suami saja, karena anak saya sudah ada collage, ada yang berkeluarga, jadi kami istilahnya emptiness, istilahnya sarang burungnya sudah kosong tinggal berdua. Jadi kalau thanksgiving saya masak sebetulnya setiap hari masak karena aku nggak suka makanan beli itu, dan saya senang memasak karena itu relaksasi.

Relaksasi itu gini, masakan itu benar-benar membuat rileks, karena kalau seumpamanya saya masak ayam, maka saya harus keluarkan dari freezer dari beku menjadi tidak beku, kemudian bumbunya saja jejerin, bawang merah, bawang putih, kalau orang jawa brambang, bawang, salam, laos itu basic aja. Di luar itu kita bisa tambahin, jadi kalau mau tambah ketumbar, kunyit, ada nambahnya dan saya itu belajar masak semenjak saya sekolah di Amerika dulu, dulu juga saya tidak pernah ke dapur waktu di Indonesia, karena sekolah nggak punya duit karena beasiswanya tipis pas-pasan jadi kita harus benar-benar ya memasak, dan karena bahan baku relatif murah di Amerika, ayam murah, telur murah, bumbu sedikit mahal kalau impor di Asia.

Jadi aku mulai senang masak dari hampir 30 tahun lalu, kalau sekarang melihat saya masak kayanya kaget ya, itu relaksasi. Masak itu is Asik, itu relaksasi, saya kalau masak bisa asik banget. Tadi kalau Kalkun kadang-kadang saya bikin ayam kodok, ayamnya harus dikuliti dagingnya dikeluarin tapi nggak boleh sobek, kemudian dagingnya dicacah, jadi tinggal kakinya tulangnya tetap di dalam kemudian kita kasih bumbu, dalamnya kita kasih telur kemudian dijahit lagi and than kita masak di steam. Its delicious.

Anak saya sukanya mereka suka bebek sambal ijo, mereka sukanya lidah, enak lah diapa-apain, mau disemur, sambal ijo enak.

Kalau Pak Toni favoritnya?

Pak Toni itu gampang-gampang susah, waktu saya di Amerika dia pengen bakmi GM, jadi harus belinya bakmi telur, tapi bikin mie ayamnya itu ayam, jamur, dan membuat rasa manis kecap dan banyak, dan kita masih harus pangsitnya itu kan harus pakai sauh merah ada rasa jahenya. Saya harus bikin bagaimana penampakannya ada rasanya sedikit. Masak itu menyenangkan dan semua otak kita, lidah kita konsentrasinya bisa berubah sama sekali tidak usah memikirkan angka, nggak usah memikirkan pertanyaan yang susah dari detikcom.

Pandemi berarti jadi lebih sering masak?

Nggak juga, kalau pandemi dari pagi sampai pagi kita zoom terus. Kalau saya masak itu ada occasion (kesempatan), saya umumkan ke anak-anak, saya mau masak hari ini, jangan makan siang ya karena kalau mereka sudah makan dia nggak makan saya ngambek.

Sehari maksimal bisa berapa kali zoom?

Ya tergantung lama, bisa 6-8 kali tergantung lamanya. Sebetulnya itu agak kurang manusiawi sih karena kalau seperti saya kan topiknya berubah terus. Bayangkan tadi pagi saya mulai bicara dengan memberikan sambutan Tempo, untuk Muhammadiyah. Siang ada lagi, ya otaknya di-switch kurang manusia, belum kalau ngomong ke bahasa inggris ke indonesia. Kaya waktu dulu di Amerika pakai bahasa inggris, otak kita lama-lama panas seperti handphone yang sering hangat baterainya, karena kerja dua kali, jadi kalau saya lagi ngomong rapat bisa keluar bahasa jawa saya karena alam sadar saya senang bahasa jawa kaya relaxing, bahasa masa kecil saya. Jadi kalau kita bisa bicara ngomong bahasa jawa rasanya perasaan kita seperti istirahat saja. Ya zoom itu terus menerus membuat agak hangat otak.

Ibu ini kalau untuk busana ada yang desain khusus?

Nggak, saya membeli yang ada, tapi saya juga punya ada kakak ipar saya punya butik kecil, dia selalu membikinkan saya baju-baju kalau saya mau pakai baju baru. Kakak ipar saya punya butik kecil di daerah Bintaro, beliau yang suka bikinin namanya Nena Collection, ada juga ya kadang-kadang dari teman-teman, atau istrinya teman yang mungkin mereka punya dan mereka ingin menyampaikan dan senang kalau dipakai sama saya kemudian muncul di Instagram.

Karena saya pejabat kan saya nggak boleh melakukan endorsement jadi ya sudah, kalau mereka tahu kalau ini adalah produknya mereka, saya rasa saya senang kalau saya bisa membantu usaha kreatif di Indonesia, karena bentuk apresiasi kita dan orang Indonesia itu luar biasa kreatifnya, bahan bisa dipindah, diganti kombinasinya luar biasa, itu merupakan apresiasi luar biasa. Itu kan sama seperti seni mencipta, kreativitas dalam membangun dan membuat baju-baju itu, saya rasa saya senang mengapresiasi itu tapi karena sebagai pejabat tidak boleh endorse jadi tidak apa-apa kita pakai saja supaya beliau senang dan tidak gratifikasi ya, jadi kami tetap kalau KPK kan bilang harus Rp 1 juta harus lapor, jadi kadang-kadang kalau saya ada yang kirim ya saya lapor, kan KPK mengatakan kalau mau dimiliki ya kita beli saja, jadi saya harus membayar dan saya rasa etika itu bagus sih.

Jadi saya juga sampaikan kalau ada yang mau kirim kemudian saya mengatakan itu harus dilaporkan dan yang memberikan kepengin kasih banget, dan pengin dipakai kalau memang harganya di atas Rp 1 juta ya kita bayar pada mereka.

Busana termahal seorang Sri Mulyani berapa?

Saya pakai yang biasa saja, berapa ya kalau busa, tergantung kalau dari desainer kan kadang-kadang karena itu proses kreativitas mereka bukan karena bahannya dan hal-hal yang kita hargai, sama seperti seniman, creator-nya, yang mesti kita hargai adalah daya cipta mereka, kreativitas mereka, biasanya yang itu agak mahal, tapi most likely saya beli yang sudah ada di toko, bahkan saya sering pergi ke mana, di Pondok Indah di pinggiran bukan toko gede.

Sama kadang-kadang saya pakai baju kembaran sama orang lain, oh sama jadi senang juga jadi seleranya sama. I Think it's ok, senang lah.

Ada rencana liburan keluarga akhir tahun?

Nggak, kalau dalam COVID nggak, dan menjadi Menteri Keuangan kita tidak liburan Desember karena tahun tutup buku. Jadi saya biasanya sama seluruh jajaran Kementerian Keuangan justru kumpul pada tanggal 31 itu, dan kita tutup. Kalau masa biasa tutupnya bisa jam 9 malam. Itu seluruh uang masuk terakhir, sebelum midnight saya sudah dapat oh berarti keuangan negara penerimaan sekian belanja sekian. Pagi-pagi subuh saya sudah kirim surat ke Presiden posisi APBN ditutupnya sekian, namun nanti dihitung lagi setelah diaudit. Ya kalau Menteri Keuangan tidak libur sih akhir tahun, kalau dulu di Bank Dunia saya libur akhir tahun, kalau sekarang nggak. Setiap tahun begitu.

Banyak yang temenin kok, media juga nggak pernah libur. Jadi itu masalah mindset saja. Tergantung cara melihatnya saja.

Untuk teman-teman yang terkena PHK yang ingin menjalankan usaha, resolusi 2021, ada tips dari Menteri Keuangan Sri Mulyani?

Ya pertama untuk mereka yang alami dampak negatif saya sampaikan simpati saya, namun sama seperti semuanya untuk bangkit, kita pasti ada tanggung jawab. Untuk tahun 2021 kita akan lihat kalau kembali vaksin menjadi game changer, kalau vaksin sudah ada, masyarakat punya konfiden maka aktivitas masyarakat mungkin secara bertahap menjadi normal, nah berarti aktivitas yang selama 9 bulan terakhir ini menurun bahkan tutup bakan akan buka kembali dengan protokol baru.

Jadi anda lihat saja kalau anda memiliki rencana dilihat kapan kemungkinan ekonomi pulih dan aktivitasnya sesuai dengan anda. Misalnya saya bicara tentang kuliner, kuliner itu sebenarnya tidak menurun sekarang, cuma orang beda saja membelinya dan itu aktivitas yang bisa dikembangkan. Atau tadi berbagai hal kegiatan berhubungan dengan masyarakat yang ingin banget mereka keluar dan hidup normal, makan di resto, traveling dan berbagai hal lainnya.

Jadi kalau anda di bidang akomodasi, makanan dan minuman disiapkan untuk datangnya musim itu pada kuartal depan. Di bidang individu menjadi EO, itu sekarang harus bisa mengkombinasi suasana baru, misalnya ada fisik dan zoom, sehingga yang tadinya di undang 100 orang, yang zoom 500 orang, jadi banyak hal baru.

Kalau diberbagai negara yang menjadi penting bukan hanya masalah keuntungan tapi melakukan aktivitas yang bermakna untuk orang lain, di berbagai negara itu coaching itu penting, dengan adanya zoom orang bisa melakukan berbagai aktivitas produktivitas misalnya kalau anda suka menulis, novelnya laku banyak anda bisa bagaimana cara menulis novel. Atau bagaimana cara bikin ayam kalkun yang enak, kalau saya tidak jadi menteri keuangan nanti saya bisa jadi coaching makanan, saya akan melakukan banyak hal yang saya sukai yang mungkin saya punya banyak waktu pada saat tidak menjadi pejabat.

Saya menganggap kalau anda melakukan setiap hari dan sesuatu itu membuat anda positif, membuat anda memiliki semangat dan itu bisa dikomersilkan, karena masyarakat itu koneksinya melalui digital, jadi ide nggak boleh berhenti di situ. Misalnya pasif investor beli saham pasti akan lihat, kalau kemarin terkoreksi sekarang sudah naik. Tapi tetap hati-hati, cari instrumen sesuai selera dan risiko.

Dan cari instrumen dilihat institusinya, track record-nya, dan lihat di OJK, apakah mereka kelompok yang sudah di supervisi OJK. Karena banyak orang kasih iming-iming sekarang saja kalau anda lihat SMS anda setiap hari dapat 5-10 BPKB anda, pinjaman mudah atau segala macam, sampai investasi kebun kurma lah, jadi tolong hati-hati. Gunakan uang anda untuk investasi yang baik, dan jangan hanya memburu wah ini kayanya dapat keuntungan banyak tapi anda tidak melihat dari sisi keamanannya, itu tanggung jawab kita sendiri meski tahu ada OJK yang mengawasi tapi kita harus tetap menjaga dari seluruh yang anda miliki secara baik.


(hek/eds)