ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus

Mengenal William Sunito: Pengusaha Bahan Kue RI yang Masuk 30 Under 30 Asia

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 06 Mei 2021 07:30 WIB
William Sunito/Dok Tokowahab
Foto: William Sunito/Dok Tokowahab

Bagaimana penjualan Tokowahab.com selama pandemi?

Kita bersyukur ada kenaikan. Kalau dirata-ratakan ada 50% per tahun. Tapi memang waktu awal pandemi di bulan Maret 2020 itu kita terpukul karena masih awal PSBB kan. Itu kita tetap adaptasi. Kemudian di bulan berikutnya drop tapi beberapa bulan kemudian langsung naik.

Jadi secara online pun masih bisa naik 20% lebih. Kita bersyukur tahun ini di kuartal I makin membaik dibandingkan kuartal sebelumnya. Permintaan sampai sekarang juga masih tinggi. Tapi yang jadi masalah adalah produknya yang berkurang karena 70-80% masih produk impor.

Seperti mentega, keju itukan masih impor. Kendalanya dari importir di Indonesia tidak stok terlalu banyak. Karena pandemi tahun lalu mereka sempat over stock dan sekarang belum kembali normal. Lalu masalah shipping container yang memang sedang bermasalah di seluruh dunia. Lalu shipping cost yang tinggi membuat pasokan jadi tidak konsisten.

Bagaimana strategi Tokowahab.com menghadapi masalah tersebut?

Sebenarnya kita kan Tokowahab.com ini lebih ke B2B, jadi kita berupaya untuk menjaga stok dan memastikan ke customer jika barang tersedia. Untuk customer reguler yang sudah biasa belanja di kita akan kita dahulukan. Sebisa mungkin kita tidak menaikkan harga secara tiba-tiba. Itu strategi kami. Tapi kalau ada customer baru biasanya mereka akan masuk ke tier kedua. Kalau produk tidak begitu banyak ya sorry to say mereka tier kedua dan mereka pesan tidak ada.

Karena itulah Tokowahab.com tetap bisa berkembang, karena kita itu lebih ke perusahaan service dan menurut kita relationship terhadap customer itu sangat penting banget. Lalu customer kita itu pasti beli lagi, beli lagi karena kita ada kebijakan itu

Menurut Anda seberapa penting UMKM kuliner untuk perekonomian Indonesia?

Sangat penting karena saya lihatnya begini, sekarang UMKM Indonesia itu mayoritas di kuliner. Kalau dari pengamatan misalnya pergi ke PIK atau Kepala Gading, pasti di kiri kanan banyak tempat kuliner. Mayoritas itu kuliner itu yang membuat perekonomian Indonesia itu berkembang. Karena menurut saya sangat penting karena di Indonesia ini UMKM nya itu masih paling banyak di makanan.

Anda masuk ke Forbes Under 30 Indonesia, tahun ini masuk ke Under 30 Asia. Bagaimana perasaan Anda?

Bangga sekali, di satu sisi kan ini bukan hanya membawa nama harus perusahaan. Tapi membawa harum nama Indonesia juga gitu. Karena yang masuk di e-commerce di Indonesia kalau dicek kalau gak salah sih saya saja dari Indonesia e-commerce B2B ecommerce dan hanya fokus di bakery dan pasty.

Kalau yang lain-lain kan bukan di bidang seperti ini gitu. Nah itu yang membuat saya bangga dan mendapatkan banyak apresiasi juga dari perusahaan-perusahaan nasional dan internasional buat bahan-bahan pangan. Ini artinya orang-orang bisa melihat oh di Indonesia ada perusahaan e-commerce yang fokus pada bahan pangan yang perusahaan-perusahaan luar pun makin berani masuk ke Indonesia.

Berapa target UMKM yang akan diajak menjadi mitra Tokowahab.com?

Kita sih menargetkan kapan sampai bisa achieve lebih 100 ribu UMKM bahkan kalau 1 juta UMKM yang di bidang kuliner belinya dari kita. Itu yang bener-bener kita fokuskan. Sekarang kita masih kecil banget 3.200 sedangkan di Indonesia itu ada berapa juta UMKM jutaan itu gede banget.

Tapi saya tidak mau melihat UMKM buka satu tahun tutup satu tahun tutup. Itu kan sedih banget ya. Saya dengan tim lagi berfikir banget bukan hanya mensuplai secara produk tapi mensuplai secara edukasi juga biar mereka menjadi satu perusahaan yang sustainable yang bener-bener besar gitu sih.

Besar di keluarga penjual bahan kue, apakah Anda hobi membuat kue?

Saya sebenarnya hobinya itu adalah di bidang keuangan, finance. Awal mulanya itu saya finance dan hobi sampingan saya itu mengetahui soal ekonomi dan teknologi.

Jadi cari tahu aja di Indonesia ekonominya gimana, teknologinya gimana. Pas saya balik dari Amerika wah ini ada potensi yang gede banget nih di bahan kue di e-commerce jadi dari situlah dan disisi ini menjadi hobi saya.Hobi membuat kue lebih ke kakak saya, kakak saya kan chef jadi saya kerjanya cuman supply saja.

Kerjanya nyobain produk baru ada apa coba coba saja. Nah dari situ menjadi hobi di sisi tersebut adalah hobi bisnisnya dan hobi utama saya buat Toko Wahab ini bukan karena saya hobi mikir tapi karena saya karena saya merasa ini ada masalah yang perlu saya solve deh di UMKM ini gitu.

Makanya saya selalu berharap banget pemerintah bisa melihat hal tersebut gitu biar bisa disupport. Kan saya juga manusia biasa, perusahaan biasa ya gak bisa lah sendirian untuk mendongkrak pasar tersebut yang besar banget. Ratusan jiwa di Indonesia dan UMKM makin membesar setiap kali anak lulus sekolah bikin apa? Cafe, bakery. Dan hal-hal tersebut kan yang harus bisa kita bantu lah gitu.

Sempat ada kendala penolakan dari orang tua, bagaimana akhirnya meyakinkan mereka?

Awal mulanya saya bikin e-commerce TokoWahab.com ini. Orang tua saya itu cuman kasih saya budget saya untuk gaji satu kali saja. Karena saya backgroundnya bukan coding. Saya sudah minta ya udah saya nggak usah digaji. Saya 2 tahun pertama tidak menerima gaji apapun. Saya tidak mengambil untuk seperti perusahaan start up yang lain meraup funding.

Saya nggak akan seperti itu karena menurut saya tes dulu lah ada marketnya nggak. Udah dikasih gaji 1 engineer saya kerja sama dia aja berdua. Setelah itu bikin website nya selama 2 bulan akhirnya launching. Saat itu bener-bener nggak ada kompetitor sama sekali dan masalahnya beneran ada. Akhirnya ada orang yang beli tanpa ada orang marketing sama sekali. Tanpa ada budget marketing. Dia ketik produk di Google dan yang muncul kita. Dia beli dari situ kita lihat bulan ke bulan kok naiknya 2 kali lipat, 3 kali lipat. Waktu itu cepet. Saya beruntung banget sih, saya boleh dibilang salah satu yang paling beruntung di Indonesia untuk bikin perusahaan seperti ini

Saya itu hoki banget. Kalau sekarang belum tentu saya bisa seperti itu. Saya selalu cerita bukan hanya pinter menurut saya hal seperti itu 50% pinter dan kerja keras itu 50% itu hoki gitu beruntung. Karena timingnya tepat, kalau sekarang contohnya kita masukin di Google itu nggak muncul di page 1.

Kalau dulu saya masukin keluar saya di page 1 di rank 1 bahkan. Nah itu yang membuat saya bener-bener beruntung dan akhirnya berkembang. Orang tua saya melihat ini dia lagi ngelakuin apa ini kok penjualannya naik. Dia orang bikin perusahaan harus punya sales harus punya apakan. Nah dari situ orang tua saya percaya tapi orang tua saya juga sama keluarin budgetnya kecil-kecil beda dengan yang lain jadi awalnya dia keluarin budget wah ada untung, keluarin dari keuntungannya lalu masukin lagi. Nah dari situ kita berkembang. Nanti hire Customer Support yang buat live chat. Lama-lama berkembang sekarang sudah full team dan saya sekarang yang urusin strategi dan kebanyakan manusianya sih.

lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "Isyana, NIKI hingga TWICE Masuk 30 Under 30 Asia Forbes"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT