Blak-blakan Jusuf Hamka: Kartel Krematorium hingga Bank Syariah Zalim

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2021 17:00 WIB

Ada berapa sih yang disebut kartel itu yang bapak tahu? mungkin nama nggak usah tetapi jumlahnya berapa?

Kurang lebih ada sepuluhan kali.

Itu di wilayah Jakarta Utara, Jakarta Barat?

Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Dan yang saya sesalkan mereka lupa, mereka izin sementara lho dikasih sama pemerintah daerah, mbok manusiawi lah, dikasih izin sementara. Nanti kalau nggak dikasih izinnya bagaimana lagi kan. Coba bantu negeri yang sedang berduka, bantu pemerintah daerah yang sedang susah, jangan seperti economic animal, ajimumpung, mbok toleransi, cari makan juga jangan dari tempat orang yang berduka, dari orang yang meninggal, ntar karma lho.

Kasusnya akan sampai ke ranah hukum nggak itu?

Alhamdulillah bang Hotman Paris ternyata meminta Kapolri untuk bawa ke ranah hukum dan saya dengar si penulis yang kemarin korban keluarganya kena yaitu saudara Martin semalam sudah didatangi kepolisian untuk diperiksa di BAP di rumahnya sebagai saksi dia menulis. Itu kan mula-mula Martin menulis karena keluarganya diperas dan kemudian Martin telpon saya terus semua telpon saya, akhirnya saya terpanggil karena saya berasa di luar nalar saya gitu, kok ada orang yang tega-teganya.

Nah sekarang mereka berasumsi bahwa rumah dukanya yang mahal atau apa. Tadi pagi saya juga bilang sama krematorium Cilincing 'bagaimana caranya murah menyiasati?' 'nggak usah ke rumah duka'. Oke, buat saudara-saudara yang jenazahnya COVID keluarganya kalian nggak perlu ke rumah duka tapi saya kasih bukan rumah duka, rumah transit yaitu di krematorium Cilincing ada rumah abunya, tempat transit kalian 1-2 jam kemudian bakar gitu. Jadi nggak usah pakai rumah duka, nggak usah buang-buang duit lagi rumah duka. Rumah duka nyewa satu hari bisa Rp 5-6 juta, buat apa itu ya kan. Cuma mau nggak? sebab kan ada adat istiadat dari mereka nunggu keluarganya datang atau apa gitu. Cuma kalau saya bilang ya sudah meninggal ya kita kasih tempat transit selanjutnya dikremasi selesai gitu ya kan.

Di Cilincing kapasitasnya berapa sih?

Saat ini tungkunya baru ada sekitar 10 tungku pembakaran yang pakai kayu, yang pakai mesin cuma satu. Alhamdulillah saya dapat 6 mesin ini, ini satu mesin Rp 750 juta. nggak minta lho, saya nggak minta sumbangan ke mana-mana, ada orang yang kucuk-kucuk datang. Bahkan saya kemarin dapat 4 ribu APD. Saya bilang buat apa APD, oh iya saya bilang udah buat orang-orang yang pekerja-pekerja melayani jenazah COVID. Terus tadi juga ada satu warga datang ke rumah saya, warga di Menteng kirim satu amplop bahwa dia mau donasi. Saya juga belum hubungi. Cuma buat saya, ini bentuk donasi, sedekah dari keluarga kakak saya dan keluarga Babah Alun gitu kan. Kita aja belum selesai nih sedekahnya ini. Tapi kalau ada orang mau ikutan ya udah kita tampungin ini semua. Makanya saya juga ingin dibantu dituliskan di sana bahwa kami tidak pernah buka rekening untuk sumbangan, tidak pernah bikin proposal dan tidak pernah minta bantuan untuk pembangunan, untuk apa semua di krematorium Cilincing itu tidak ada, bukan kami sombong tapi kami tidak membenarkan orang menggunakan nama kami untuk mencari-cari sumbangan. Kalau ada yang mau nyumbang langsung datang kemari, tidak ada proposal, tidak ada nomor rekening. Sumbanglah kami apa saja, mau beras boleh, mau nyumbang APD kita kasih ke Cilincing, udah. Kalau mau kasih duit ya udah kita beliin barangnya. Tapi kita nggak mengharapkan apa-apa. Ini supaya ditekankan itu aja.

Kemarin kan masyarakat kita kesulitan oksigen. Pak Jusuf sendiri sempat ikut terlibat nggak untuk membantu masyarakat yang kesulitan oksigen?

Saya cuma membantu teman minta oksigen untuk yang tabung 6 kilo atau apa saya kenalkan, kadangkala minta sama teman-teman 'eh ada nggak?' bantu-bantu akhirnya teman saya yang dapat juga dapat yang 1 kilo-2 kilo, ada juga yang buat saya sedih dia meninggal. Aduh saya kadangkala kasihan juga ya. Jadi makanya kita lupa bahwa bikin pabrik oksigen sendiri. Kita cuma bikin tempat krematorium. Mudah-mudahan nanti. Oksigen saya pikir pabriknya udah ada dari Allah Subhanahu wa ta'ala setiap hari kita hirup. Tapi kita nggak pernah bersyukur. Begitu tahu-tahu dikasih oksigennya kurang, 1 tangki aja kita bersyukurnya setengah mati. Selama ini terbuka begini kita lupa bersyukur. Makanya 'Syukuri lah nikmat-Ku maka niscaya engkau akan Ku tambah. Tapi bila kau kufur dan lupa ingatlah adzab-Ku teramat pedih' kalau nggak salah hadist-nya gitu kan.

Pak Jusuf kalau malam-malam saya dengar kabar suka keluyuran, ikut-ikut razia sama walikota, khususnya selama PPKM Darurat ini katanya kan ya, pedagang kaki lima gitu kan. Apa yang dilakukan sebetulnya?

Jadi gini, saya juga sedih dan marah waktu itu. Minggu lalu ya, dua minggu lalu kalau nggak salah bahwa teman-teman Satpol PP waktu menggerebek di Gowa itu dia katanya ada wanita yang dipukul sedang hamil. Itu sama saya sedih, saya baru panggil terus saya kan kenal teman-teman Satpol PP di DKI, Saya telepon komandannya 'bos anak buah jangan sampai begitu bos, caranya lebih manusiawi'. 'Gimana caranya?' saya bilang 'udah ntar malem ntar lihat aja Bagaimana caranya'. Saya telepon Walikota Jakarta pusat 'pak wali, PPKM kemana?' 'Nggak nih, monitor'. 'Pak yuk kita jalan' 'jalan kemana?' 'ke kampung di Jakarta Pusat yang paling termarjinalkan' 'wah Johar Baru' katanya. 'Yuk jadi' saya bilang.

Kita nggak tahu, kita nggak buat proposal, nggak buat apa pokoknya 'mau ngapain pak Jusuf?'. Saya ceritain sama Pak Walikota 'pak kita harus ketatkan PPKM ini. Tapi kita nggak boleh merugikan orang'. 'Caranya bagaimana?' 'Udah pak, PPKM jam 8 mereka suruh tutup supaya nggak ada keramaian. Tetapi kalau dagangan mereka nggak habis mereka pasti nggak mau disuruh pulang. Jadi dagangannya kami borong'. 'Lho pemerintah daerah nggak ada duit' katanya. 'Oh bukan pemerintah daerah, pak ini duit pribadi keluarga Babah Alun' saya bilang begitu. 'Oh benar? terus bapak mau makan makanannya?' 'oh bukan, saya nggak kepengin makan'. 'Bapak mau sedekahin?' 'bukan juga pak, kalau sedekahin buat fakir miskin dan kaum dhuafa, itu oke kalau ada kelebihan, yang pertama adalah warga yang kena isoman'. Itu kan susah keluarganya bukan orang kaya semua yang kena penyakit COVID. 'Oh ya, terus caranya bagaimana?' 'Satpol PP harus ikut saya pak supaya bagaimana dia melihat tindakan yang manusiawi, yang win-win solution'. 'Oh ya' katanya. Saya kasih contoh. Kita juga nggak tahu caranya tapi kita sedang mencari bentuk.

Saya bawa Pak Wali ke Johar Baru, ada Bu Camat, ada Pak Satpol PP, udah ikut. Saya bilang saya beli, Pak Wali instruksikan, borong, tutup, terus makanannya kalian ambil dimasakin semua kalian bawa ke warga isoman. Satpol PP yang bawa. Jadi kita kerja sama, Satpol PP, Walikota, pengusaha. Akhirnya kita semua kita beliin, terus ada komidi putar kita lihat waduh anak-anak kita pada main senang banget bersuka-cita, cuma ini bahaya anak-anak kita menjadi klaster baru dekat sekali. Saya bilang 'pak boleh izin pak ini ditutup tapi jangan dirugikan'. Akhirnya kita tanya 'kamu berapa buka?' 'wah kita biasa sampai jam 12 malam dapat Rp 400 ribu'. 'Sekarang sudah dapat berapa?' 'Rp 150'. 'Oke saya kasih Rp 250 ribu lagi jadi Rp 400, kamu tutup sekarang ya'. 'Benar nih?' 'benar'. Akhirnya mereka mau tutup. Jadi everybody happy. Pedagang UMKM happy, yang warga isoman happy, warga kaum dhuafa dan fakir miskin di daerah setempat happy, Satpol PP nya juga happy karena nggak perlu benturan fisik. Dan ternyata is small money, jadi uang kecil tapi meaningful, orang berasa di wongke, memang kadangkala ada kayak pedagang jagung biasa saya tahu di tempat jagungnya cuma ada 50. Saya bilang 'berapa nih?' 'wah saya masih punya lagi di bawah'. Di bawah ternyata cuma 2-3 biji. 'Saya bawa 80', oke, saya nggak mau ribut ya kan.

Saya kan ngertinya Pak Jusuf bisnisnya hanya di bidang tol gitu meskipun mungkin pasti ada puluhan jenis usaha lain yang di handle sama Pak Jusuf. Nah ini pandemi 1,5 tahun hampir, bagaimana, tertanggung nggak? seberapa besar gangguannya?

Pasti terganggu terutama putra saya yang di Gili dia punya hotel. Hotelnya boleh bilang semi tutup lah karena nggak ada tamu. Terus tapi Alhamdulillah putri saya yang punya hotel di Jakarta okupansinya masih 80%. Saya tanya kenapa bisa 80%? 'nggak tahu pak rejeki anak sholehah' katanya 'ya udah itu rezeki kamu sendiri' karena kamu ada tempat makannya juga. Terus bahkan saya bilang sama anak-anak saya coba deh inovasi cari buat menampung teman-teman kita mungkin yang mau isoman atau apa di hotel di Gili, liburan, tapi bilang ga bisa, ya sudah akhirnya kalau bisnis-bisnis pasti semua terdampak terutama jalan tol, jalan tol berdampak. Tetapi tidak sebesar perhotelan maupun restoran ya karena jalan tol itu orang yang isoman pun kepengin keliling jalan-jalan ya kan. Orang yang nggak bisa nongkrong di restoran juga pengen muter-muter, jalan-jalan di atas tol. Akhirnya turun kurang lebih 50% sih kalau jalan tol. Tapi dalam menghadapi situasi ini kebenaran Citra Marga Group holding ini kita kebenaran ada likuiditas, ada Rp 6 triliun waktu itu. Lalu saya bilang gini 'anak-anak perusahaan masih banyak utang di bank'. Saya bilang 'holding mendingan ambil over utangnya karena kalau bank-bank sekarang itu kejam'. Kalau lagi panas kita dikasih payung istilahnya. Begitu hujan payungnya diambil, kagak boleh dipakai sama dia dan saya sudah pernah ngalamin berkali-kali, jangan sampai nanti kita kena kolektibilitas. Masalah kolektibilitas ini menyangkut nama baik ya. Saya sudah bikin merajut nama ini selama 64 tahun, jangan sampai gara-gara mandek kita susah. Sebab bank-bank ini ya maaf-maaf saja, bank ini seperti kata Ustaz Yusuf Mansur, jangankan bank konvensional, bank syariah lebih kejam, lebih kejam itu benar saya nyatakan itu bank syariah lebih kejam.