Blak-blakan Jusuf Hamka: Kartel Krematorium hingga Bank Syariah Zalim

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 23 Jul 2021 17:00 WIB
Jakarta -

Pengusaha jalan tol sekaligus Pembina Yayasan Daya Besar Krematorium Cilincing, Jakarta Utara, Jusuf Hamka membeberkan praktik kartel krematorium jenazah korban COVID-19 yang mematok biaya mencapai Rp 80 juta.

Dia geram atas adanya oknum penyedia layanan kremasi yang memanfaatkan bencana pandemi virus Corona demi meraup untung tak masuk akal.

"Saya banyak mendapatkan keluhan dari saudara-saudara kita umat Buddha, umat Kristen, umat Hindu bahwa sekarang ini mahal sekali, paling murah kalau ada Rp 20 juta-25 juta, itu pun harus cepat, kalau nggak diambil orang slot-nya. Terus kemudian bisa naik Rp 30-40-50 sampai Rp 80 juta," kata Jusuf Hamka kepada Tim Blak-blakan detik.com, Kamis (22/7/2021).

Tak cuma itu, dia juga mengungkapkan pengalaman buruk yang dialaminya dari bank syariah. Perkara membayar utang, Jusuf Hamka malah dikerjai oleh pihak bank. Dia juga mengalami upaya pemerasan Rp 20 miliar.

"Benar-benar sindikat, berusaha memeras dengan Rp 20 miliar, Rp 20,4 miliar apa Rp 20,6 miliar ganti rugi. Saya nggak rela saya bilang. Its not the matter of money tapi the matter of ethic," jelas Jusuf Hamka.

Bagaimana cerita selengkapnya? Baca hasil wawancara detikcom dengan Jusuf Hamka di halaman selanjutnya.

Terkait heboh dalam 2-3 hari terakhir ini ketika banyak kaum muslim kesusahan juga untuk memakamkan kerabatnya, ternyata saudara-saudara kita yang non muslim juga yang terkena COVID mengalami kesulitan untuk melaksanakan krematorium dan di tengah kesulitan itu ada yang mencoba mengambil untung dengan mematok tarif sampai puluhan juta. Kalau laporan yang masuk ke Pak Jusuf seperti apa kondisi di lapangan sebetulnya? Kita tuh punya berapa sih di Jakarta krematorium itu?

Kalau yang izinnya permanen cuma satu, yaitu krematorium Dr Aggi Tjetje Sarjana Hukum yang di Cilincing. Itu cuma satu yang permanen, yang lain itu adalah izin sementara karena kita punya izin tahun 75 zamannya Pak Ali Sadikin, itu kakak saya punya. Jadi kakak saya meninggal terus saya diangkat sebagai dewan pembina yayasan karena itu yayasan keluarga gitu. Jadi makanya saya waktu hari Jumat dan Sabtu Minggu lalu kemarin saya membaca tulisan dari beberapa orang kepada saya bahwa ada kartel.

Terus saya banyak mendapatkan keluhan dari saudara-saudara kita umat Buddha, umat Kristen, umat Hindu bahwa sekarang ini mahal sekali, paling murah kalau ada Rp 20 juta-25 juta, itu pun harus cepat, kalau nggak diambil orang slot-nya, terus kemudian bisa naik Rp 30-40-50 sampai Rp 80. Ini di luar nalar saya. Saya bilang kenapa jadi mahal begitu, dan saya sedih dan saya marah tapi saya ya nggak mungkin kita marah terus suruh mereka turunin harga, mungkin mereka menganggap ini adalah bagian bisnis tetapi kita lupa negara kita ini kan sedang berduka. Semua ini kita sedang susah, jangan lah mengail di air keruh, mengambil kesempatan dalam kesempitan, toleransi lah sedikit. Coba lah saya bilang berpikir kalau punya uang terus yang lain pada mati, uang ini bisa dipakai buat apa ya kan? kita berpikir sejenak seperti itu lah.

Nah, akhirnya saya ingat oh iya saya punya keluarga, yayasan ada krematorium, saya telpon pengurusnya. Waktu itu hari Sabtu atau Minggu malam saya telpon. Saya bilang 'kamu melakukan pemerasan atau apa?' 'oh nggak pak' katanya 'kita nggak terima pasien COVID sampai saat ini' 'lho kenapa nggak terima?' kita nggak berani pak 'kenapa nggak berani?' 'ya soalnya ini protokolnya mesti pakai APD atau apa' 'Oke' saya bilang 'segera beli APD, segera bicara dengan Dinas Pemakaman' saya bilang 'dan terima pasien COVID malam ini juga dan jangan sampai memeras' saya bilang. 'Berapa harga?' 'Pak boleh nggak saya hitungin 15 menit' katanya, 'oke hitung'. Dia bilang 'pak yang bisa jenazah yang tidak COVID kita antara Rp 4 juta yang pakai kayu pembakaran, kalau yang pakai gas Rp 5 juta'. 'Terus ini yang untuk COVID bagaimana?' 'pak kalau untuk COVID kita harus pakai desinfektan, terus kita harus pakai APD, kemudian juga yang kerja itu harus malam, malam itu gajinya rata-rata double, lembur' katanya. 'Oke, lu kasih tahu saya berapa kira-kira?' pak kalau Rp 10 juta bagaimana?' 'kemahalan, saya nggak mau. Akhirnya dia bilang 'Rp 8 juta pak?' 'Nggak mau, nggak wajar' saya bilang, terus Rp 7 juta, saya tanya 'kalau Rp 7 juta masih ada margin profit nggak?' 'ada sedikit pak buat operasional, buat dana cadangan atau apa'. 'Oke make it Rp 7 juta'. 'Orang lain Rp 80 juta kamu Rp 7 juta dan tidak boleh lebih dari itu'. Nah dia bilang 'tapi soal pembelian guci atau membuang abunya ke laut itu di luar tanggung jawab kita' oke nggak apa-apa, yang penting kamu nggak usah cawe-cawe yang lain, kamu cukup di biaya krematorium'

Nah akhirnya saya bilang mulai malam itu juga terima jenazah COVID dan saya umumkan. Saya sebenarnya sudah capek hal itu, saya sedih, saya dengar itu sampai saya 'apa yang saya harus buat'. Waktu itu Senin malam saya ingat, besoknya Idul Kurban. Saya bilang saya besok rencana mau keliling ke teman-teman, saya mau lihat di mana ada pemotongan sapi yang penting saya cuma mau lihat saja, saya nggak mau turun dari mobil. Tetapi ternyata jam 8 malam itu mendadak entah gerak Allah itu, saya terpanggil 'udah dah buat video apa yang saya omongin tadi sore' saya bilang sama staf saya, saya bilang saya umumkan deh supaya orang juga nggak bisa pelantar-pelintir calo semua nggak bisa main-main, akhirnya saya bikin video, itu saya sudah ngantuk-ngantuk dan saya udah marah, sedih semua berkecamuk jadi satu, akhirnya nyonya saya, saya bilang 'tolong kamu bikin video saya singkat'. Bikin video makanya itu saya udah pakai baju tidur, saya lapis lagi pakai baju merah supaya agak sopan gitu. Akhirnya saya keluarkan statement saya begitu. Saya langsung bagikan ke 4-5 orang tokoh-tokoh Buddhis, tokoh-tokoh Hindu, sama tokoh-tokoh Kristen supaya mereka aware bahwa mereka tidak sendiri. Saya bersama teman-teman umat Nasrani, umat Buddha dan umat Hindu saya bilang dan langsung saya buat saya nggak ngerti tahu-tahu banyak telepon ini, jadi viral saya bilang 'lah ini kan nggak, maksudnya kan cuma memberitahu lu kalau kesusahan lu datang ke gua aja, gua beresin di sini. Kalau lu nggak mampu gua juga kasih gratis bawa surat keterangan lurah bahwa kamu nggak mampu'.

Ternyata Masyaallah saya rupanya besoknya Lebaran Haji saya kasih sapi tahu-tahu orang-orang nelpon saya dapat 6 mesin kremasi gratis orang sumbangan. Itu hikmahnya. Jadi 4 yang di dalam buat di ruangan, yang 2 adalah yang di dalam kontainer. Jadi saya bilang, Ya Allah Ya Robbi, kita berbuat baik begini aja tahu-tahu kita nggak minta sama orang-orang, ada yang ngasih, ada yang nyumbang, ada yang memberikan.

Sumbangan dari luar apa dari teman-teman di dalam negeri?

Dari luar, yang empat orang ngasih uangnya 3 miliar 88 juta, mungkin seorang ibu ya, itu seorang ibu, itu dia bawa uangnya dia bilang 'tolong beliin mesin kremasi untuk ditaruh di Cilincing'. Waktu itu dia sumbang ke Klenteng. Terus yang 2 lagi tengah malam saya diuber, saya dicari orang sampai adik saya. Adik saya dia lagi di Amerika telepon 'lu dicariin lu sama yang punya, itu Pak Umar' katanya. 'Mau ngapain?' 'Itu dia mau nyumbang mesin'. Oh ya, saya coba telpon 'kenapa Pak Umar?' 'Saya mau nyumbang 1'. Terus nggak lama di belakangnya rupanya backsound-nya ada anaknya, 'saya juga 1 papah' katanya. Jadi 2, nah saya bilang rejeki anak sholeh. Kagak minta kita, kita nggak minta bantuan.

Setelah semua sekarang masalah kremasi saya beresin, saya menyiapkan lahan saya di Rorotan ada 10 hektare. Kalau nanti memang diperlukan teman-teman Muslim kita juga kesulitan untuk pemakaman jenazah COVID, saya akan wakafkan itu tanah untuk diberi kepada saudara-saudara kita yang ini. Tetapi waktu saya bilang wakafkan, tim saya bilang 'pak jangan wakafkan. terima aja dengan harga yang wajar, biaya operasional. kalau bapak wakafkan siapa yang galinya atau apanya, nggak terkoordinir. misalnya bapak jual 1 kuburan Rp 5 juta atau Rp 7 juta udah sangat membantu' katanya. 'Oke' saya bilang tetapi dengan izin Gubernur, Dinas Pemakaman, saya pasti akan ngomong tapi kalau sampai sekarang ini pemakaman ini sulit untuk saudara-saudara kita yang Muslim.

Yang soal kremasi sudah beres, sudah berjalan dan semua harga sudah turun, kartel-kartel juga tidak berani lagi. Bahkan saya tadi pagi saya datang ke krematorium Cilincing jam 6, saya lihat di sana. Lalu ada beberapa stasiun TV datang ke sana. Saya sampaikan pesan saya 'kalau tidak mereka taubat kartel-kartel memeras saudara-saudara kita yang non Muslim ini, saya akan kasih krematorium ini gratis total karena saya sudah dapat komitmen dari Citra Marga dia akan membayar semua, siapa yang meninggal dibayarin. Terus dari Klenteng Petak Sembilan. Terus dari Artha Graha Peduli, terus dari kelompok Salim. Saya dapat komitmen. Tapi Insyaallah cukup dari Klenteng Petak Sembilan dan CMNP cukup kita kasih gratis semua dan kita banting semua orang gratis.

Nah, makanya saya bilang krematorium krematorium yang ada di ibukota ataupun di pinggiran kota kalian berhak hidup, kalian berhak cari makan di situ. Tapi tolong yang manusiawi.