Wawancara Khusus CEO Youtap

Kepak Sayap Bisnis Salim Group: Dulu Mie Instan, Kini Fintech

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Selasa, 02 Nov 2021 09:38 WIB
Dok YouTap
Foto: Dok Youtap

Dari Youtap, bisa terima pencatatan, terima pembayaran, sampai ke supply chain. Jadi sebenarnya apa inti bisnis dari Youtap?

Youtap ini sendiri keberadaannya cukup unik. Sampai saat ini kita juga belum menemukan perusahaan apple to apple yang juga punya Point of Sales (POS), payment, bahkan layanan loyalty untuk merchant. Kita sendiri menyebut diri kita sebagai penyedia solusi digital lengkap untuk pelaku usaha.

Ada yang menyebut Youtap sebagai penyedia aplikasi kasir. Ada juga yang menyebut kita penyedia pembayaran non tunai. Bahkan ada yang bilang Youtap sebagai solusi yang berkaitan dengan marketing, seperti layanan yang kami berikan di McDonald's untuk loyalty e-voucher nya.

Pada intinya, karena semua solusi digital yang kami buat adalah untuk merchant, maka kami menyebut diri kita sebagai merchant centric company.

Awalnya Youtap bergerak di bidang apa?

Youtap pada awalnya membantu mendigitalisasi cashless payment di McDonald's. Dari situ, kami melebarkan solusi ini ke seluruh merchant UMKM menggunakan Aplikasi Usaha. Dengan beragam solusi hingga Belanja Stok dan PHP, kita ingin terus memudahkan semua orang dalam menjalankan usaha.

Bagaimana Youtap melihat UMKM Indonesia?

Kita tahu bahwa UMKM Indonesia merupakan penggerak majority economy, data dari Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan jumlah UMKM saat ini mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07% atau senilai 8.573,89 triliun rupiah. Dari situ kita bisa tahu bahwa keberadaan UMKM amatlah potensial. Di sisi lain, belum banyak perusahaan yang benar-benar fokus memberikan solusi end to end di sisi merchant-nya. Di sinilah kami ingin coba tap-in.

Masalah UMKM Indonesia apa sih dan relevansinya dengan Youtap? Lalu, apa untungnya masuk ke ekosistem Youtap?

Kalau berbicara tantangan yang dihadapi para UMKM Indonesia, mereka kadang-kadang belum memahami apa saja tantangan yang mereka punya. At the end ketika kita gali lebih dalam, baru lah mereka menyadari bahwa kadang bisnis tetap berjalan namun tidak tumbuh.

Di Youtap kami kerap melakukan riset melalui survei langsung ke pelaku usaha. Dari situ, kami bisa tahu bahwa pain point-nya adalah mereka merasa usahanya nggak berkembang dan gitu-gitu aja karena tidak adanya pencatatan. Laporan keuangan pun nggak ada. Meskipun ada yang melakukan pencatatan, mayoritas juga masih manual pakai buku.

Akibatnya, uang hasil penjualan digunakan untuk beli barang lagi yang akhirnya tidak ada margin penjualan. Sisa uangnya bahkan hanya untuk hidup dan tidak ada sisa untuk menyisihkan uang untuk modal mengembangkan usaha selanjutnya.

Selain itu, mereka juga merasa bahwa jam kerja seperti berat karena tidak bisa meninggalkan usahanya. Mayoritas memang para pelaku usaha menjalankan usahanya sendiri. Dia yang beli stok, dia juga yang jaga tokonya. Semua itu sebenarnya adalah tantangan dalam membuat usaha berkembang.

Bersambung ke halaman selanjutnya.



Simak Video "Wawancara Khusus: Di Balik Serangan Rusia di Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]