ADVERTISEMENT

Pandu Patria Sjahrir Ungkap Fakta Unik Pertemuan Elon Musk dan Jokowi

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 20 Mei 2022 15:42 WIB

Kalian ketemu itu nge-dealin pertemuan dengan pak Jokowi kemarin?

Nah setelah itu malah sudah agak lupa, pak Luhut yang ngomong. "Eh ini mau ada US ASEAN Summit, bisa nggak?". "Ayolah, saya ubah deh schedule saya untuk bisa menyambut bapak," jawab si Elon.

Jadi menurut saya itu cepat banget decision dibuat dan dia udah ngerti dan tahu bahwa "saya ketemu dengan orang-orang yang rupanya well prepared," Saya juga ngomong sama beliau "Eh Indonesia sekarang sangat fokus untuk menyiapkan EV ecosystem. Bukan di atas hanya soal nikel tapi juga kaya motor listrik seperti di Electrum. Jadi itu kan semua kita mau buat seluruh Indonesia,". Jadi dia kaget juga "Oh kayak gitu,". Jadi bukan hanya B2B melainkan all the way ke customer itu semua sedang disiapkan.

Elon Musk melihat Indonesia seperti apa?

Potensi pasar. Dia bisa menciptakan bisnis yang end to end yang dia suka cara pemikirannya bukan hanya jual nikel bahwa bukan hanya jual baterai, tapi juga membangun giga factory untuk menjual Teslanya untuk di ekspor.

Takutnya kan dia melihat kita sebagai pasar yang potensial, ya dia bikin barang di India dan di ekspor ke kita?

Ya nggak lah. Itu yang paling utamanya cuman satu, karena kan isu terbesarnya adalah harga nikel yang sporadik, kalau misalnya harga nikelnya bisa teratur, tapi kamu harus bawa value added ke Indonesia, bangun hulu ke hilir. Kalau nggak doesn't make sense.

Mungkin nggak itu dia merealisasikannya?

Kalau dari omongan terakhir yang saya tau, pembicaraan terakhir yang saya tau pembicaraan terakhir ketika pak presiden bertemu dengan dia ya memang begitu arahnya. konsisten kok.

Dan saya senang karena semua meeting ini konsisten, karena kita kesana sebenarnya bukan soal Elon Musk, soal G20 dan sangat support soalnya Michael Bloomberg mau datang ke Indonesia, Michael Milken mau ke Indonesia juga habis itu World Economic Forum juga mau ke Indonesia, jadi ini semua besar-besar mau masuk ke Indonesia itu sinyal yang bagus.

Nama Pandu pertama kita dengar itu di masa pandemi deh kayaknya, dengan salah satu platform yang warnanya oranye, eh ternyata dia juga ada di yang hijau. terus ngurus batu bara juga, mau bikin motor listrik juga. Sebenarnya cita-citanya apa?

Sebenarnya hanya dua, bisnis saya dari awal di energi dan digitalisasi. Agak nyambung juga di saya karena kan sekarang energinya berubah dari cangkul jual sekarang kita malah berubah bagaimana kita membuat elektrifikasi melalui electric vehicle. Makanya Toba Bara itu kita ubah jadi TBS Energi Utama. Fokusnya hanya dua renewable energy dan juga electric vehicle. Dan electric vehicle ini campuran juga ada digitalisasi karena kita bakal main swapping battery, swapping baterainya itu bakal banyak informasi yang kita dapat dari situ.

Kita mau tarik mundur bagaimana awal mulanya Pandu? Anda sekolah di Amerika ya?

Sekolah di Amerika, lahir di Boston, karena ayah ibuku itu kan dua-duanya sekolah S3 di sana. Aku lahir disana habis itu aku balik (ke Indonesia). TK sampai SD di Pangudi Luhur, waktu SMA aku balik ke Amerika aku harus belajar bahasa inggris lagi, TOEFL. Jadi SMA aku pindah lagi kesana karena menurut ayahku aku terlalu bandel.

Jadi waktu TOEFL itu hasilnya bagus aku masuk di Andover. Aku sendiri sekolah bingung, kompetitif banget orang Amerika. Satu yang aku lihat, umur segini 13-14 tahun sudah kompetitif banget dan aku tinggalnya di kampus, jadi mandiri. Mandiri semua, semua dikerjakan sendiri dan belajar kompetitif.

Ayah dan Ibu itu sama-sama pengajar ya, akademisi. Nggak diarahkan untuk jadi akademisi?

Pengen jadi PhD tapi dulu kurang pinter. Jadi waktu aku S1 ayahku bilang untuk pindah ke Chicago. Kenapa? karena paling banyak nobel prize winners di economics, yang ngajarin makroekonomi ayah juga seorang nobel winner. Nah dia bilang "rata-rata di kelas dapatnya C, kalau kamu dapat C atau B you're gonna be a good investment banker,"

kalau dapat A kamu ikut ayah. B+ kamu jadi PhD. 100 orang nih, eh saya dapat B-. Wah kayaknya saya bukan disini nih. Dan disana saya belajar, ekonomi itu matematika semua jadi dari situ saya bilang "kayanya saya nggak bisa" cuman disana nilai ekonomi bagus, rata-rata 2.9-3.0. Semua orang bilang kamu will be good investor, jadi investment banker, tapi kalau jadi PhD kayanya susah. Habis itu S2 ke bisnis.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT