Menyulap Kilang-kilang Unggulan
Kamis, 01 Feb 2007 11:18 WIB
Jakarta - Salah satu penyebab rendahnya produksi minyak Indonesia adalah karenabelum maksimalnya kilang-kilang milik Pertamina yang ada.Akibatnya, target produksi minyak 2006 yang ditetapkan dalam APBN sebesar1.050.000 barel per hari juga sedikit tidak tercapai.Pertamina pun kini berupaya keras melakukan investasi kilang dan memperbaiki kilang-kilang lama. Pendanaan diharapkan tidak menjadi masalah setelah Pertamina merampungkan laporan keuangan 2004 dan 2005 dan 2006.Untuk mengetahui rencana Pertamina 'menyulap' kilang minyaknya menjadikilang unggulan, Tim detikFinance Maryadi, Irna Gustiawati dan Alih Istik Wahyuni, mewawancarai Dirut Pertamina Ari H Soemarno di ruang kerjanya Gedung Pertamina, Jalan Medan Merdeka Timur 1A, Jakarta, Selasa (2/1/2007).Masalah produksi minyak sering tidak tercapai karena salah satunya kondisi kilang yang tidak maksimal. Bagaimana target produksi 2007 apakah bisa tercapai dengan kilang yang ada sekarang?Untuk hulu harus tercapai. Makanya saya minta hulu berjuang mati-matian agar tercapai dengan segala effort. Tapi supaya itu berlaku dengan cepat, hulu butuh teknologi. Butuh keterampilan, skills, sumber daya manusia, dan uang yang besar. Dari keempat faktor ini yang paling gak masalah bagi kita adalah uang. Uang bisa kita cari karena revenue kita gede.Tapi dari segi teknologi, skills, dan sumber daya manusia, ini yang jadi masalah. Nah, inilah mengapa kita kerjasama dengan orang-orang yang memang punya itu, ya perusahaan-perusahaan besar. Itu yang kita tekankan. Makanya sekarang kita mengutamakan kerjasama dengan perusahaan tingkat nasional (di dunia). Kaya Star Oil dari Norwegia, perusahaan paling gede nomor 40 di dunia. Dengan Sinopec dari Cina, Cina itu perusahaan minyak nasional yang paling gede. Di daftar Fortune 500 itu nomor 20 yang paling besar, kita juga kerjasama dengan Petronas.Jadi kita saling tukar pengalaman, saling ngisi, karena perusahaan (yangberstatus) nasional lebih punya perasaan yang sama untuk saling mengisi dibanding perusahaan multinasional, seperti ExxonMobile, Shell, BP dan lainnya mereka kan 100 persen tujuannya untuk profit. Sedangkan perusahaan minyak nasional seperti Petronas, Star Oil, itu lebih punya pengertian terhadap kita, karena mereka lebih punya posisi yang sama dengan kita. Nah, kita sudah mengadakan beberapa nota-nota kesepahaman yang kita sekarang sedang kerjakan untuk eksplorasi-eksplorasi di hulu.Untuk peningkatan produksi, apakah ada pola-pola untuk mengubah Technical Assistance Contract (TAC) ?Bukan, gini semua yang ada sekarang, Pertamina punya wilayah kerja 140 km persegi di Indonesia dan itu termasuk juga TAC-TAC yang ada 33 itu. Ya kan? Pola TAC itu, terus terang saja diberikan karena katanya Pertamina jangan mengolah sendiri, bagi-bagi sama yang lain. Untuk mengembangkan potensi nasional apakah segala macam. Sekarang potensi minyak itu, siapa sih yang paling tahu minyak selain Pertamina? Kok diberikan ke orang lain yang kurang tahu, itu saja polanya sudah tanda tanya. Nah, itu saya gak tahu. Sebelum zaman saya kan.
(ir/qom)











































