Wawancara Khusus Presdir Allianz
Manisnya Pasar Asuransi Unitlink
Kamis, 01 Feb 2007 12:15 WIB
Jakarta - Minat masyarakat Indonesia untuk berasuransi masih minim. Meski demikian hal itu tidak membuat pelaku industri ini putus asa. Perusahaan asuransi pun berlomba-lomba membuat produk yang inovatif untuk menarik masyarakat mencintai asuransi. Terbukti dengan produk unitlink (asuransi sambil investasi) yang menjadi magnet baru bagi perusahaan asuransi mencari nasabah. Untuk melihat kondisi pasar asuransi terutama asuransi jiwa di Indonesia, repoter detikfinance Ardian Wibisono mewawancarai Presiden Direktur Allianz Life Indonesia, Jens Reisch di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Rabu (31/1/2007). Bagaimana kondisi industri asuransi di indonesia saat ini ? Saya lihat tahun 2006 adalah tahun yang cukup sukses, kita lihat untuk asuransi jiwa. Saya yakin meski data-data belum final pertumbuhannya mencapai di atas 20 persen, prediksi saya bisa 22-25 persen. Sampai di kuartal ketiga sudah bagus, sudah 24 persen pertumbuhannya tapi di kuartal keempat belum final. Promotor pertumbuhan ini adalah unitlink, saya lihat porsinya lebih besar. Pada kuartal keempat suku bunga sudah turun single digit untuk deposito. Experience di tahun lalu, kalau suku bunga turun muncul alternatif-alternaitf investasi baru atau switching antara lain ke unitlink. Di Allianz sendiri porsi unitlink dari semua unit baru sudah besar sekali mungkin 93 persen jadi mayoritas asuransi jiwa sudah unitlink. Untuk industri semuanya saya yakin rata-rata 40-50 persen adalah unitlink. Masih ada juga penjualan konvensional tapi trennya ke unitlink. Tahun 2007, suku bunga trennya masih turun, saya lihat kondisi dan minat untuk investasi jauh lebih baik dibanding tahun lalu karena tahun lalu mungkin ada trauma BBM. Jadi saya lihat tahun 2007 sudah banyak perbaikan dan kondisi ekonomi serta pasar kita di asuransi jiwa sudah optimistis. Tahun 2007 saya yakin pertumbuhan industri bisa 20-30 persen atau mungkin juga bisa di atas 30 persen. Porsi unitlink juga bisa naik di atas 50 persen, pertama kali di Indonesia dengn turunnya suku bunga. Saat ini banyak pembenahan yang dilakukan otoritas, dari Allianz ada masukan hal-hal yang perlu dibenahi Pembenahan yang dilakukan otoritas itu sudah bisa meningkatkan industri asuransi ? Saya di Indonesia sudah 3,5 tahun, selama itu sudah banyak regulasi, enforcement-nya sudah cukup bagus. Pertama, dinilainya dari risk base capital (RBC) artinya kesehatan perusahaan sudah naik 120 persen. Saya yakin mayoritas kondisi perusahaan di pasar kita sudah oke. Saya juga lihat kualitas promosi dari industri di Indonesia sudah baik. Tahun lalu kita ada insurance day di seluruh Indonesia. Kita juga sudah implementasikan licency agen-agen, cukup kompleks di indonesia ada 120 ribu agen. Untuk unitlink juga sudah ada perbaikan untuk produknya dan disclosure sehingga kondisi industri sangat sehat. Bagaimana dengan pencapaian kinerja Allianz di tahun 2006 dan target 2007 ? Tahun 2006 adalah tahun paling bagus untuk kita, Allianz Life Indonesia sudah beroperasi 10 tahun di Indonesia dan tahun kesepuluh paling bagus untuk kita. Pertumbuhan klita lebih cepat dari pasar, di atas 50 persen. Semua segmen kita naik, di asuransi jiwa, kesehatan dan program karyawan naik 100 persen. Aset kita tahun ini juga nearly double. Hasil ini karena mitra bisnis kita lebih banyak terutama bank-bank seperti Standard Chartered Bank, Bank Danamon, Bank Permata dan Bank NISP. Kita juga ada sales force yang cukup kuat namanya Allianz Agency yang beroperasi di 44 kota. Saya juga senang produk syariah yang dibangun tahun lalu di bulan April. Penjualan delapan bulan saja sudah double target, dulu kita prediksinya seribu polis atau Rp 5 miliar premi tapi kita mencapai 2.600 polis dengan Rp 12 miliar premi. Promosi juga mendukung Allianz karena sangat membantu kita di Piala Dunia tahun lalu. Sekarang banyak orang juga lebih banyak lihat website kita. Faktor promosi dan komunikasi juga jauh lebih baik. Untuk ekspansi tahun 2007 apa yang akan dilakukan Allianz, ada inovasi atau ada rencana akuisisi ? Untuk pertumbuhan organik kita mau ekspansi lagi. Allianz Agency kita mau buka di beberapa kota lagi dengan sistem franchise sekarang, tidak harus menunggu keputusan kantor pusat untuk buka cabang, sehingga sistem franchise sangat bagus untuk ekspansi. Di bankassurance saat ini pertumbuhannya cepat, last year double untuk premi tahun ini juga double di bank assurance. Kita kerjasama dengan dua bank besar Bank Danamon dan Bank Permata, sekarang kita masih all out ke cabang-cabang hasilnya luar biasa di tahun lalu mencapai Rp 70 miliar. tahun ini bisa double lagi mencapai Rp 150 miliar di bankassurance. Prediksi tahun ini kita tumbuh lagi 50 persen. Untuk non organik, kita sedang lihat beberapa perusahaan. Kalau portofolionya match, kulturnya match, dan kalau ada opportunity. Tapi realisasi kapan kami belum bisa bicara, kalau tidak cocok banyak effort yang harus keluar dan tidak efisien. Dari kantor pusat kita dan Singapura melihat Indonesia sangat positif untuk growth karena penetrasinya baru 2 persen. Pasar juga sudah lebih stabil. Kami siap untuk pertumbuhan organik dan non organik, juga Allianz di Jerman siap untuk investasi di Indonesia. Bentuk investasinya untuk akuisisi perusahaan harus ada modal dari Jerman untuk perusahaan besar. Tapi kalau bisa self finance lebih baik lagi.
(ir/qom)











































