ADVERTISEMENT

The Sultan, Tetap Survive Setelah Lepas dari Hilton

- detikFinance
Rabu, 14 Feb 2007 15:41 WIB
Jakarta - Banyak kalangan pesimistis tentang kelangsungan The Sultan setelah tak lagi menyandang nama Hilton. Namun nyatanya, The Sultan maju terus dan sukses melepaskan diri dari bayang-bayang Hilton.Bagaimana The Sultan pasca 'perceraiannya' dengan Hilton? Berikut penuturan Direktur Keuangan Singgasana dan Resident Manager The Sultan Hotel Jakarta, I Nyoman Sarya dalam wawancara khusus dengan detikFinance di kantornya, Selasa (13/2/2007).Latar belakang hotel Sultan lepas dari Hilton ? Tadinya hotel ini di-manage oleh Hilton International kurang lebih sampai tahun 1999. Sejak 1999 sampai 2006 kita hanya memakai namanya saja. Terhitung sejak 17 Agustus 2006 kita rebranding menjadi Sultan Jakarta. Sebetulnya Hilton ada tiga di Indonesia, satu di Jakarta, terus di Bali dan Surabaya. Nah, karena Hilton pull out semuanya, rebranding yang di Jakarta menjadi The Sultan Jakarta. Yang di Bali menjadi Ayodya dan yang Surabaya menjadi Singgasana Surabaya. Jadi kalau fully manage dan memkai nama Hilton hanya sampai tahun 1999 tapi sejak itu kita hanya memakai nama Hilton. Bisa dibilang kita hanya membayar royalty fee. Jadi sejak kapan Singgasana mulai mengelola hotel Hilton?Tahun 1996, owning company membuat joint venture dengan Hilton International bernama PT Kelola Santana Graha. Diharapkan joint venture ini yang akan mengelola hotel-hotel Hilton di Indonesia. Tapi karena sesuatu hal dalam perjanan tersebut dari 1996 sampai 1999 joint venture ini tidak berjalan secara semestinya. Tapi nama Hilton ketika itu belum bisa dicabut karena ada license agreement tapi managemen Hilton International pull out. Sehingga owning company membentuk cikal bakal Singgasana untuk mengelola Hilton. Kemudian diputuskan untuk di-manage sendiri tahun 2006 secara official dengan Singgasana. Bagaimana bisnis selepas dari Hilton ?Bisnis sejauh ini tetap bagus, ada beberapa yang bertanya bagaimana setelah Hilton berganti nama menjadi Sultan? Ini dijawab dengan bisnis kita yang tidak turun. Beberapa tamu yang saja ajak ngobrol juga tidak concern kalau cuma ganti nama, yang penting produk dan layanannya bagus. Selain itu memang hotel ini memiliki lokasi yang strategis. Ini bisa dilihat dari acara-acara di Sultan yang berskala internasional. Tahun lalu Java Jazz diadakan di Hilton tapi tahun ini di Sultan, tempatnya sebetulnya sama. Surabaya juga tidak ada masalah. Bali sempat turun karena memang kondisi setelah booming pariwisatanya turun. Untung rugi dari pelepasan nama Hilton ?Untungnya kita tidak perlu bayar royalty fee. Biayanya lumayan fee-nya 7,5 dari BOP. Kerugiannya ya paling nama kita tidak ada di Hilton directory. Tapi kita tetap memiliki akses internasional seperti melalui internet. Perubahannya apa saja sejak lepas dari nama Hilton, apa upaya untuk mlepas image Hilton?Hilton kan sudah 30 tahun di Jakarta , perubahannya tidak hanya nama saja. Kita kembalikan ke konsep Sultan, Sultan ini memperkenalkan lebih ke tradisi-tradisi Indonesia, traditional hospitality, ada improvement product juga yang mendukung royal Javanese tradition. Kalau di bali namanya Ayodya, namanya beda-beda karena disesuaikan dengan local culture. Kalau Singgasana Surabaya yang ditonjolkan budaya Jawa Timur. Di Makassar juga begitu. Renovasi juga dilakukan didaerah ?Betul, di Surabaya berjalan, di Bali lumayan besar renovasinya, gardennya, kamar-kamarnya. Cukup besar investasinya. Surabaya untuk renovasi sampai sekarang sekitar Rp 3 miliar kalau Sultan yang sudah di-spending sekitar Rp 5,5 miliar. Sumber pendanaannya dari internal. Strategi dan target kedepan Singgasana dalam mengelola hotel-hotelnya ?Kalau kita bicara strategi, yang pertama adalah brand awareness. Kita lakukan dengan iklan yang terus-menerus. Ada media yang kita gunakan, kebanyakan di media pariwisata dan Garuda inflight. Kalau di Bali juga ada di jalan-jalan. Kalau ada acara yang diiklankan di Koran menggunakan tempat kami juga sudah pakai Sultan seperti Java Jazz atau Sultan dalam kurung ex Hilton. Pemilihan nama Sultan juga karena menggunakan dua suku kata sama seperti Hilton, jadi saya optimis nama ini akan cepat dikenal. Target dalam lima tahun kedepan akan jadi hotel company seperti apa ?Kalau kita bicara Singgasana, kami me-manage beberapa properti. Jadi jangka pendek kita fokus me-manage hotel-hotel yang dimiliki owning company. Jangka menengah kalau sudah settle baru kami ekspansi keluar owning company. Target market dan positioning Singgasana seperti apa, apa sama seperti Hilton ? Singgasana me-manage beberapa hotel, convention centre dan golf. Kalau Sultan target market tetap sama yaitu bisnis dan MICE termasuk perusahaan multinational. Kita dengan sumber daya lokal kita tetap mentargetkan pangsa pasar yang sama, bisnis dan MICE yang tidak hanya lokal. Kalau Bali sudah pasti leisure, Ayodya masih memiliki pegawai ekspatriat. Surabaya dan Makassar sama seperti Jakarta untuk meeting dan bisnis. Secara industri, bisnis hotel terutama segmen bisnis dan MICE seperti apa ?Saya sudah cukup lama diperhotelan. Saya sangat optimis, bisnis ini sangat dinamis. Apalagi untuk meeting di Jakarta, Surabaya dan Makassar. Makassar menjadi tempat meeting untuk wilayah Indonesia timur, Surabaya kota bisnis kedua setelah Jakarta. Jakarta sudah pasti pusat, apalagi kita berdekatan dengan DPR, dengan SCBD kita juga punya tunnel ke convention center. Jadi masih optimis. Market share untuk Singgasana Sultan dan MICE ? Untuk Sultan kita jumlah kamar kedua terbanyak setelah Mulia, dengan tingkat okupansi 65 persen. Untuk MICE sekitar 30 persen. Kalau MICE spending semua di hotel untuk kamar dan makanan. Karyawan sudah banyak yang lokal, standarnya seperti apa ?Owning company jauh-jauh hari sudah semaksimal mungkina mengunakan sumber daya lokal. Kalau di hotel chain lain ekspatriat bisa 10 sampai lima belas. Kalau di hotel kami waktu di-manage Hilton paling banyak tiga. Sekarang pengurangannya signifikan. di Sultan semuanya local, Surabaya dan Makasar juga, Bali masih ada satu, JCC masih ada dua ekspatriatnya. Ini tantangan dan kami akan buktikan kami tetap berusaha memberikan layanan professional yang semaksimal mungkin. Di Sultan jumlah karyawan untuk hotel, residence dan executive club yang permanen 1350 kalau kalau plus outsource ada 1800 an. Kalau total dengan yang didaerah jumlah karyawan kami kurang lebih empat ribu.. sekian adalah pekerja lokal karena hanya tiga ekspatriat. Kami ingin membuktikan dengan pekerja lokal kami bisa memberikan layanan yang berkualitas internasional. Ciri khas hotel-hotel Singgasana group yang ditawarkan ? Ciri khas kami adalah total. Tidak hanya bangunannya yang kita nama dan renovasi tapi juga sumber dayanya. Misalnya dari welcoming dengan konsep budaya jawa, ini juga tidak kami buat sendiri. Kita minta bantuan ahli dari UI. Demikian juga di Bali , jadi tidak setengah-setengah. Okupansi rate tahun 2006 dan target 2007 ? Untuk tahun 2007 yang sudah tercapai 65 persen dan target untuk Sultan 70 persen. Okupansi tahun 2006 rata-rata 50 persen dan aterget 2007 rata-rata 65 persen untuk grup Singgasana. Secara umum performance di 2006 bagus tapi memang ada penurunan dari 2005 karena kondisi makro dan JCC ada KAA. Kalau JCC tahun 2006 tetap bagus walaupun ada competitor. Di Bali penurunan karena makro, karena ada bom sehingga 2006 payah. Makasar growing karena banyak pembangunan infrastruktur. Surabaya stabil. Jadi totalnya 2006 turun lebih dari 10 persen. Residence bagus, diatas 70 persen. Rencana ekspansi kedepan jangka pendek dan jangka panjang ke properti lain seperti apa ? Untuk Sultan kita punya lokasi dan ruang terbuka yang luas sehingga kita fokus juga ke out door wedding yang bisa menampung cukup besar sehingga bisa memberikan kontribusi, peluang di wedding out door saat ini juga bagus. MICE tren bisnis dan kondfisi makro sekarang banyak organisasi, asosiasi dan olahraga melakukan kegiatan belum lagi conference dari perusahaan besar. Kita juga berencana akan ekspansi ke perhotelan apartemen dan golf sesuai keahlian kita. Kita konsentrasi me-manage yang sudah ada dulu paling tidak lima tahun mendatang kalau pijakan kita sudah kuat.

(qom/ir)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT