ORI Belum Kalahkan Deposito

Wawancara Khusus (3)

ORI Belum Kalahkan Deposito

- detikFinance
Kamis, 01 Mar 2007 17:07 WIB
ORI Belum Kalahkan Deposito
Jakarta - Masyarakat masih lebih memilih untuk menyimpan dananya dalam bentuk deposito dan tabungan ketimbang portofolio investasi. Jumlah dana masyarakat di deposito nilainya mencapai Rp 1.200 triliun. Sebagian sudah mengalihkan dananya ke Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Pada tahun 2006 ORI yang diterbitkan pemerintah mencapai Rp 3,2 triliun, padahal targetnya hanya Rp 2 triliun. Jadi ada kelebihan pesanan ORI.Penarikan dana besar-besaran di reksa dana (redemption) juga membuat masyarakat memilih untuk mencicipi investasi baru yang ditawarkan pemerintah itu.Untuk mengetahui lebih lanjut perilaku berinvestasi masyarakat detikFinance mewawancara Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (1/3/2007).Berikut petikan wawancaranya.Apakah sudah ada peralihan dari deposito ke ORI ?Deposito kan jumlahnya besar sekali sehingga kalau beralih hanya Rp 3 triliun itu kan gak kelihatan, nggak terlalu signifikan. Saya kira umumnya yang beli ORI adalah deposan, karena dulu ada reksa dana banyak yang redemp, uangnya ditaruh di bank, kembali ke ORI. Saya kira ada sebagian besar nasabah yang mengalihkan dananya ke ORI.Apa bisa dibilang bahwa ORI akan mengancam deposito ?Tidak, deposito sudah Rp 1.200 triliun, ya kecil lah ORI tidak sebanding. Enggak mungkin.Setelah setahun merilis ORI, apakah pemerintah sudah merasa sukses menerbitkan ORI ?Sangat sukses dong, terlihat dari jumlah account yang masuk 17.400 sekian, tentu itu luar biasa, yang kedua adalah proporsi investor dari Ibu rumah tangga , wiraswasta, pegawai negeri itu cukup besar.Yang ketiga oversubscribe, dari Rp 2 triliun menjadi Rp 3,2 triliun. Yang paling penting ORI sudah menjadi household name, sudah jadi nama rumah tangga. Dari ibu rumah tangga, pelajar, pegawai negeri, wiraswasta, karyawan BUMN. Semua perlakuannya sama. Mau jenderal, mau Menteri Keuangan kalau mau beli sama, harus lewat agen penjual.Bagaimana likuiditas ORI 001 di pasar ?Harganya naik terus karena suku bunga terus menurun, sekarang 105 persen. Harganya naik terus sementara volume dan frekuensi perdagangan turun tapi mendatar. Itu kenapa? karena supply ORI masih kecil masih Rp 3,2 triliun, jadi dianggap belum cukup deep untuk bisa membuat perdagangan menjadi semakin meningkat baik dari sisi volume maupun frekuensi perdagangannya. Untuk tahun ini kita akan menerbitkan ORI tiga kali.Sekarang masalahnya kurang supply saja. Jadi sebetulnya kalu kita lihat dari stabilitas harga dan jumlah yang diperdagangkan itu kan stabil tidak menurun. Itu menujukkan setiap hari ada yang memperdagangkan, minatnya cukup besar.Apa pemerintah bisa menerbitkan lagi ORI dengan seri yang sama ?Bisa tapi kan agak sulit karena kita nanti menjual harus dengan premium. Sekarang kan harganya 105 persen. Nah masyarakat apa mau itu? Mereka kan belum well educated, kok bayarnya jadi lebih mahal? Jadi protes. Jadi masalahnya sosialisasi. Kalau sudah well educated itu mungkin nanti oh kuponnya tinggi gak apa-apa saya beli pada harga premium. Tapi kalau sekarang harganya Rp 1 juta tapi disuruh membayar Rp 1 juta lebih kan males. Lain dengan investor institusi, kalau kita jual pada harga premium kalau dia melihat barang ini bagus ya dia beli. (ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads