Mike, si Bule Perintis Bali Soap
Kamis, 08 Mar 2007 11:51 WIB
Jakarta - Mike Walsh tidak pernah menyangka kecintaannya terhadap Bali bisa berbuah manis. Berangkat dari rasa cintanya pada pulau Dewata, Mike pun merintis bisnis Bali Soap.Sabun bermerek Bali Soap yang diproduksinya laris manis di luar negeri, dengan kapasitas produksi 30 ribu batang sabun per bulan, Bali Soap terkadang kesulitan memenuhi banyaknya permintaan. "Kalau ditanya lima tahun lalu, saya tidak pernah terpikir untuk jadi tukang sabun," kata Mike yang ditemui detikFinance saat mengikuti pameran Furnicraft di Kemayoran, Jakarta dan berakhir Rabu (6/3/2007) kemarin.Bule asal Amerika ini datang ke Bali empat tahun hanya karena alasan suka dan ingin tinggal di Bali. Ia mengaku sempat luntang lantung hidup di Bali dan sempat mengeluh sulit mencari pekerjaan. "Disini susah mencari pekerjaan, awalnya saya hanya menghabiskan tabungan kemudian saya memulai usaha ekspor impor kecil-kecilan, sempat jadi pelatih tennis di hotel di Bali juga," ujarnya. Mike, yang mengaku tidak punya latar belakang apapun sebagai tukang sabun, masuk ke bisnis sabun natural dua tahun lalu karena ajakan temannya. Didirikan dengan skala kecil, perlahan Bali Soap meningkatkan produksinya karena permintaan dari luar negeri terus naik. Bagaimana persisnya perjalanan bisnis Mike? Simak wawancara khusus kali ini:Bisa diceritakan mengenai Bali Soap, bagaimana muncul ide untuk membuat Bali Soap ?Saya dan teman saya John Aubuchon memulai usaha ini dua tahun lalu sekitar bulan April 2005. John sebelumnya bekerja di perusahaan handycraft di Bali di PT Sumiati. John juga banyak mengikuti pameran dan mendengar bisnis sabun natural berkembang baik di Thailand tapi harganya terlalu mahal. Kami tertarik dan mencari tahu bagaimana memproduksinya di Bali, disini kami bisa membuatnya kompetitif. Harga bahan baku minyak kelapa dan minyak kelapa sawit berasal dari Indonesia jadi di sini lebih murah. PT Sumiati juga awalnya memproduksi sabun sendiri tapi kemudian melakukan outsourcing, jadi mereka juga memberikan pelanggannya ke kami dan menjadi pemegang saham minoritas di Bali Soap. Kenapa mengambil merek Bali Soap ?Nama Bali Soap muncul begitu saja. Orang asing terutama Amerika senang sekali dengan nama Bali, nama Bali terkesan eksotis dan alami. Bagaimana perkembangannya sampai saat ini ?Bisnis tumbuh, lambat tapi terus tumbuh. Awalnya kami berorientasi ekspor, 80 persen produk kami untuk ekpor. sekarang kami menjual lebih banyak untuk pasar domestik di Bali, untuk hotel, vila dan lainnya. Berapa banyak produksi ketika memulai bisnis usaha ?Kami memulai dengan skala kecil, di tahun pertama kami memproduksi sekitar 15 ribu batang sabun 100 gram per bulan. Sekarang kami bisa memproduksi di atas 30 ribu batang sabun per bulan. Kapasitas produksi kami hampir sampai puncaknya sehingga kami berencana untuk mencari tempat yang lebih besar dan meningkatkan kapasitas tahun depan. Sudah break even untuk investasinya ?Investasinya mulai kembali setiap bulan, tapi kami menuju arah yang tepat. Tahun depan, berapa besar kapasitasnya akan ditingkatkan ?Tergantung ruang pabrik kami, saat ini kami hampir mencapai kapasitas penuh. Kami akan menjalankan kapasitas penuh tahun ini dan berencana untuk berinvestasi ke pabrik yang lebih besar sehingga bisa tingkatkan kapasitas menjadi dua kali lipat sampai tiga kali lipat. Berapa banyak karyawan saat ini ?Ada 15 orang yang mengerjakan produksi sampai pengemasan semuanya asli penduduk Bali. Bali Soap diekspor kemana saja ?Keseluruh dunia, ke Eropa, Australia, Selandia Baru dan Afrika. Aaat ini rekan saya sedang ke Amerika mengadakan pameran untuk meningkatkan penjualan kami. Pelanggan terbesar kami dari Inggris, kami juga mendapat pesanan besar dari Jerman dan Spanyol. Untuk penjualan domestik bagaimana ?Mayoritas 20 persen penjualan domestik kami dilakukan di Bali, tapi kami juga menjual di Jakarta. Kami berencana untuk berekpansi ke Jakarta dan surabaya, terutama ke hotel-hotel. Bagaimana strategi untuk perluasan daerah penjualan? Kami mengikuti pameran pameran dan berharap bisa mendapat jaringan distributor dan masuk ke pasar lain. Ada rencana untuk perluasan jenis produk ?Tahun depan kami berencana untuk berekspansi ke jenis produk selain sabun batangan. Seperti sabun cair, lotion dan minyak untuk mandi. Tapi tahun ini kami masih akan fokus ke sabun batangan. Ada berapa varian produk Bali Soap ?Kami ada 12 jenis wewangian utama, kami juga memiliki wewangian ekstra. Kalau pelanggan ingin wewangian khusus kami bisa membuatnya berdasarkan pesanan. Kami juga memiliki gift set sehingga total sekitar 60-an produk. Produk Bali Soap reatif cukup murah dibanding produk sejenis, bagaimana strateginya ?Ketika pertama memulai bisnis ini kami berusaha untuk tetap membuat produk kami cukup murah sehingga kami menjaga agar produksi tetap efisien. Kebanyakan sabun kami berbentuk kotak berbeda dengan sabun lain yang menggunakan cetakan untuk membuat desain-desain menarik. Kami tidak menggunakan cetakan karena mahal. Karena pasar kami masih kecil kami masih fokus berusaha menjual lebih banyak dari sisi volume, untuk itu kami berusaha bekerjasama dengan distributor besar. Sudah ada tawaran dari perusahaan besar untuk membeli merek atau bekerja sama ?Belum, tapi kami bersedia mendengarkan tawaran.
(ard/qom)











































