Chairul Tanjung Sulap Perusahaan dari Nothing ke Big Thing
Rabu, 25 Apr 2007 17:50 WIB
Jakarta - Sebelum krisis ekonomi tahun 1997 bisnis pengusaha Chairul Tanjung belum apa-apa. Bak si Raja Midas, kini Chairul dikenal sebagai pengusaha sukses yang mengubah perusahaan memble menjadi cemerlang.Sebut saja Bank Mega yang semula disebut Chairul nothing kini menjadi big thing. Juragan media Kompas Gramedia Group Jacob Oetama pun mempercayakan separuhnya sahamnya di TV 7 dilepas ke Chairul. Dua kendaraan bisnisnya yakni Bank Mega dan Trans TV bisa dibilang menjadi tambang emasnya. Namun di luar itu Chairul pun memiliki bisnis yang oke seperti properti di bawah bendera Para Group.Chairul juga pernah dimasukkan dalam jajaran orang terkaya di Indonesia oleh Majalah Forbes versi Indonesia di urutan ke-18 dengan kekayaan US$ 310 juta. Bagaimana rencana Chairul terhadap Bank Mega untuk menjadikannya sebagai bank besar di Indonesia? Berikut petikan wawancaranya di Lobi Menara Bank Mega, Jalan Kapten Tendean, Jakarta, Rabu (25/4/2007). Dalam peta Arsitektur Perbankan Indonesia (API) 2010 Bank Mega mau jadi seperti apa?Ya harus menjadi makin besar, karena ketika diambil alih sepuluh tahun lalu yaitu 1996 modalnya (Bank Mega) kecil, sekarang sudah menjadi besar dan 10 tahun mendatang harus menjadi semakin besar (sambil tertawa). Kalau dulu dari nothing to something, ke depan harus jadi big thing.Untuk menjadi bank besar itu, apa ada rencana akuisisi bank lain?Belum, pada prinsipnya kita tidak menutup diri untuk mengakuisisi bank lain, kecuali kalau sizing bank itu signifikan. Karena kalau kecil kita membutuhkan effort yang besar, akuisisi, menggabungkan, membuat sinergi, itu membutuhkan effort yang besar, dan itu tidak seimbang dibandingkan dengan growth internal Bank Mega sendiri.Maksudnya seperti apa penjelasan di atas?Jadi misalnya bank kecil itu nilai asetnya Rp 1 triliun, masa kita mengambil alih bank dengan aset Rp 1 triliun, sementara growth internal Bank Mega sudah Rp 10 triliun per tahun, jadi tidak whorted (sambil tertawa lagi). Jadi tenaga yang dikeluarkan tidak seimbang dengan hasil yang akan didapat.Bagaimana dengan pembiayaan jalan tol lainnya setelah Bank Mega membiayai jalan tol di Makassar?Untuk jalan tol kita membuka kesempatan pada semua pihak. Untuk jalan tol yang tentunya layak untuk dibiayai pasti kita biayai.Mengenai Trans TV, setelah akuisisi TV 7 apakah akan mengakuisisi stasiun televisi lain?Prinsipnya kita membuka diri pada siapapun, namun untuk industri TV ini sangat berbeda dengan bank. Kepemilikan televisi itu sangat berpengaruh dengan ego pemilik perusahaannya, jadi tidak gampang untuk mengambil alih suatu stasiun TV lain, dan tidak gampang stasiun televisi lain diambil alih oleh stasiun televisi lainnya walaupun dia merugi. Ya kita membuka tapi sifatnya pasif.Dana untuk akuisisi bank dan stasiun televisi ini sudah ada?Alhamdullilah ada (sambil tertawa).
(ir/ddn)











































