RI Bertahan di IMF & Bank Dunia

Wawancara Paskah Suzetta (1)

RI Bertahan di IMF & Bank Dunia

- detikFinance
Kamis, 03 Mei 2007 09:45 WIB
RI Bertahan di IMF & Bank Dunia
Jakarta - Dua institusi finansial terbesar dunia, IMF dan Bank Dunia sedang dalam sorotan tajam. IMF mulai ditinggalkan negara-negara setelah sejumlah resepnya dianggap membuat 'pasiennya' lebih sakit.Setelah ditinggalkan para anggotanya, IMF makin merana. IMF kini diambang defisit yang cukup besar hingga Rp 1,5 triliun dalam tahun fiskal 2007, setelah para eks 'pasiennya' membayar utang.Sementara Bank Dunia tengah mengalami kegoncangan menyusul skandal yang dilakukan Presidennya, Paul Wolfowitz. Langkah mantan arsitek perang Irak untuk menaikkan gaji pacarnya, Shaha Riza telah membuat situasi di Bank Dunia 'panas'. Dewan Bank Dunia kini tengah mempersiapkan sejumlah langkah apakah akan mencopot Wolfowitz atau mempertahankannya.Skandal itu terasa tragis ditengah upaya Bank Dunia untuk menghilangkah bau-bau korupsi dalam sejumlah proyek yang didanainya.Berbagai hal tersebut membuat sejumlah negara melancarkan kritikan yang tajam terhadap IMF dan Bank Dunia. Langkah lebih revolusioner bahkan ditempuh Vanezuela, yang akhirnya memilih cabut dari IMF dan Bank Dunia karena merasa kecewa.Bagaimana sikap Indonesia terhadap dua institusi tersebut. Untuk mengetahui persisnya sikap Indonesia terhadap dua institusi tersebut, reporter detikFinance secara khusus mewawancarai Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta dikantornya, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Rabu (2/5/2007).Lembaga internasional seperti Bank Dunia dan ADB itu sedang refomasi, bagaimana posisi pemerintah Indonesia ?Kita mendorong reformasi di World Bank, paling tidak kemarin didiskusikan. Pertama, Bank Dunia memberikan alokasi itu kita harapkan yang prioritas itu program nasional, sudah begitu kita minta pinjaman lunak ODA (Official Development Assistance) diperbanyak. Dalam beberapa tahun ada pengurangan ODA kepada kita.Kenapa World Bank mengurangi ODA ?Kita kan sudah naik kelas dari low income countries ke middle income countries.Venezuela kemarin menyatakan keluar dari Bank Dunia dan IMF, Indonesia ?Walaupun kita sudah mengakhiri program CGI, presiden kan menegaskan bukan artinya kita menutup kerja sama internasional, justru kita ingin memanfaatkan kerja sama untuk pembangungan kita. tinggal bagaimana kita untuk meningkatkan. Di Bank Dunia kita kan member, di ADB, IMF, IDB kita member. Kita juga pemegang saham di world bank, di ADB juga. Jadi kerja sama internasional harus ditingkatkan. Presiden waktu itu bilang bukannya kita membuat tirai bambu dengan mengakhiri CGI. Kita jelaskan kepada dunia internasional karena selama ini pembicaraan dalam CGI itu terkadang sudah keluar dari pembicaraan yang harusnya fokus ke pembiyaan. Pembiayaan program misalnya jadi macem-macAm ke soal HAM dan ini dilakukan oleh kreditor kecil. Saya rasa presiden sudah tepat dengan mengakhiri program. Pembicaraan sudah bukan ke fokus lagiJadi pemerintah belum ada niat keluar ?Tidak ada pemikiran kita akan keluar dari WB, ADB, IMF, IDB justru kita akan memanfaatkan lembaga-lembaga internasional ini untuk memberikan konstribusi terhadap pembangunan kita. cuma setiap pinjaman harus dilakukan secara hati-hati.Soalnya hubungan kita bukan sekedar minjem. tapi juga soal penanganan MDG, penanganan kematian ibu melahirkan. jadi bukan hanya pinjam meminjam, kalau pinjaman lebih banyak saat pertemuan bilateral.Beberapa kalangan menilai, kita selama ini dirampok oleh Bank Dunia dan lembaga multilateral lain ?Kalau saya lihat dari sisi lain memang kita perlu hati-hati. Bahkan saya mulai review terhadap perjanjian internasional supaya lebih menguntungkan kita seperti dengan WB, ADB.Review seperti ?Substansi perjanjian, seperti tadi saya katakan, program prioritas nasional harus lebih diutamakan daripada kehendak kreditor itu antara lain. Dulu pernah terbetik bahwa semua itu didiktekan, sekarang sudah ada perbaikan. Itu yang harus kita review.Jadi posisi tawar RI sudah naik ?Ya, di forum komite spring meeting sudah dilakukan, dan juga beberapa hal menyangkut monitoring dan evaluasi. Saya rasa kita tidak terlalu apriori keberadaan kita di badan-badan internasional.Justru bagaimana kita bisa memanfaatkan untuk pembangunan di indonesia, karena bukan hanya soal pinjam, tapi asistensi program. Artinya saya ingin sesuai tugas saya untuk bisa membatasi utang luar negeri. Menghitung bencana dengan metode enclave diasistensi oleh lembaga internasional sehingga kita bisa mendapatkan data yang akurat. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads