Wawancara Paskah Suzetta (2)
Rasio Utang RI di Bawah 40% PDB
Kamis, 03 Mei 2007 10:41 WIB
Jakarta - Indonesia terus berjuang mengurangi porsi utangnya. Di tahun 2007 ini, rasio utang Indonesia akan turun menjadi sekitar 40 persen dari PDB. Porsi tersebut berarti turun dibandingkan rasio utang di tahun 2006 yang sebesar 46 persen.Berapa persisnya porsi utang Indonesia. Bagaimana strategi pemerintah mengelola utangnya agar tidak membuat anggaran kembang kempis?Untuk mengetahui rancangan utang Indonesia, detikFinance mewawancarai Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di ruang kerjanya, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Rabu (2/5/2007).Bagaimana strategi utang luar negeri pemerintah ?Ada beberapa hal yang saya perlu sampaikan sehubungan dengan country borrowing strategy. Pertama kita sudah punya peraturan pemerintah No 2 tahun 2006 tentang tata cara pembiayaan luar negeri.Kita nanti bisa mengecek data tentang berapa utang kita, kedua kalau kita mau memakai pembiayaan luar negeri baik itu pinjaman, hibah, kredit ekspor. Itu secara selektif dan prioritas, sehingga dalam pembiayaan luar negeri kita lebih terbuka. Itu yang berkaitan dengan PP.Terus sekarang utang luar negeri berdasarkn RPJM 2004-2009, rasio utang tahun 2009 31,8 persen PDB. Tahun 2004 rasio utang kita 54 persen PDB, tahun 2006 rasio sudah 46 persen dari PDB, tahun 2007 ini di bawah 40 persen, tahun 2009 nanti 31,8 persen.Sedangkan posisi utang kita secara kuantitatif memang terus menurun. Tahun 2006 utang kita Rp 650 triliun, nanti tahun 2007 Rp 550 triliun. Ini utang luar negeri, tidak utang dalam negeri, dan ini utang pemerintah bukan utang swasta.Jadi makin hari terus menurun, bahkan dalam strategi pemanfaatan pinjaman dalam APBN tahun 2007 lah kita ambil contoh kita narik utang Rp 40 triliun tapi kita membayar sekitar 56 triliun. Jadi rasio utang turun terus.Utang ini kan karena terjadi defisit, untuk 2007 kita perkirakan dari 1,1 persen yang disepakati dengan DPR dibiayai antara lain dari pinjaman. Memang defisit akan meningkat karena bencana alam jadi 1,5-2 persen.Pembiayaan defisit ini harus melalui persetujuan DPR, yang baru disetujui hanya US$ 4 miliar, US$ 1,75 miliar akan ditarik dari pinjaman, nanti dikombinasikan dengan SUN. Sekarang ini untuk menutup defisit APBN tidak semata-semata dengan pinjaman luar negeri.Kita juga ingin optimalisasi belanja engan efisiensi. Belanja sektor itu berdasarkan kinerja dan tupoksinya. jadi ini kombinasinya, tidak hanya dibiayai dari luar negeri.Memang banyak pertanyaan kenapa tidak mengoptimalkan pinjaman saja ke World Bank dengan bunga 5 persen dibanding obligasi bunga 9 persen. Akan tetapi sesuatu yang berbeda. Kalau kita menjual obligasi harus dilakukan transparan karena yang menyerap pasar. Pasar itu akan melihat kinerja, walaupun pinjaman juga kalau kita meminjam juga akan dilihat kinerja juga makanya ada country borrowing strategy, tapi penjualan SUN itu sendiri kalau SUN kita likuid disamping ada transparan berarti ada trust dari pasar. Kalau mau gampang ya kita optimalkan negosiasi dengan World Bank.Jadi lebih memilih World Bank daripada SUN ?Nggak, kita kombinasikan semua, kita ambil yang paling murah. SUN ini hal yang lain kalau likuid berarti ada kepercayaan bahwa kita mengelola fiskal dengan baik. Jadi kita kombinasikan lah. Kalau kita langsung terus semua dibiayai oleh pinjaman juga tidak memberikan pendidikan yang baik. Jadi optimalisasi belanja, penerbitan SUN, dan ketiga baru kita pinjam. Makanya dari US$ 4 miliar ini yang akan melalui pinjaman US$ 1,75 miliar yang sumbernya dari World Bank, ADB dan Jepang.Upaya untuk meningkatkan penyerapan utang yang akan diperoleh itu ?Monitoring dan evaluasi oleh bappenas dan Depkeu, akan kita perketat, bahkan kita akan membuat seminar tanggal 10 Mei dalam rangka pembiayaan luar negeri.LSM sering berteriak supaya pemerintah menyetop utang luar negeri ?Untuk menutup defisit sepenuhnya tidak melalui pinjaman, kita kombinasikan, karena dalam rangka pembatasan pinjaman luar negeri. Dan pinjaman luar negeri kita tidak seperti yang lalu, program CGI dihentikan, tidak jor-joran, maka kita fokuskan pembiayan defisit itu dari 3 lembaga keuangan yaitu dari Bank Dunia, ADB, dan Jepang.Jadi yang biasanya kita minta hibah yang jumlahnya kecil-kecil kita hindari. Kemarin Pak Wapres juga marah ketika dilihat dalam rencana blue book saya ada permintaan hibah 100.000 dolar AS.Kok ditolak, kan aneh hibah kok ditolak ?Kalau hibah 100.000 dolar AS kita kan sama dengan mengemis, nanti untuk biaya adminstrasinya juga lebih besar.
(qom/ir)











































