Utang Swasta Belum akan Dibatasi

Wawancara Paskah Suzetta (3)

Utang Swasta Belum akan Dibatasi

- detikFinance
Kamis, 03 Mei 2007 11:28 WIB
Utang Swasta Belum akan Dibatasi
Jakarta - Bank Indonesia (BI) sudah mengeluarkan peringatan soal besarnya utang luar negeri swasta yang bisa mengancam perekonomian. Namun tampaknya pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak akan berusaha membatasi utang luar negeri swasta.Bagaimana pemerintah menanggapi besarnya utang luar negeri swasta tersebut? Dan mengapa pembiayaan dalam negeri masih belum diminati ?Untuk mengetahuinya, detikFinance mewawancarai Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di ruang kerjanya, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Rabu (2/5/2007).BI kemarin mengkhawatirkan besarnya utang luar negeri swasta, menurut BI akan mengganggu neraca pembayaran ?Memang ini ada dua hal yang ingin saya sampaikan, utang swasta ini, masuknya utang swasta ini di satu sisi ada indikasi kepercayaan terhadap program atau proyek dalam negeri. Yang kedua, utang swasta kalau tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan krisis sperti 1998 sehingga pemerintah harus mem-bail out utang. Makanya, pemerintah saat ini hanya akan melakukan monitoring dan evaluasi supaya tidak terjadi lagi kejadian seperti lalu.Tapi pemerintah berhak untuk mengetahui besaran dari utang dan penggunaan dari dana tersebut. cuma pemerintah tidak akan membuat birokrasi seperti izin, dan pemerintah belum berkesimpulan untuk membatasi utang swasta, tapi pemerintah berhak tahu untuk apa, kalau untuk hal program proyek atau investasi yang negatif ya mungkin kita akan melakukan monitoring di situ.Pembiayaan dalam negeri saya akui tidak bisa on top, sampai saat ini pemerintah belum akan mengatur dengan izin utang luar negeri swasta, tapi kalau nanti sudah taraf membahayakan, terutama untuk investasi yang negatif, tapi memang kita akan utamakan untuk yang berpotensi ekspor.Apakah pemerintah berniat memberikan insentif bagi swasta untuk ngutang dalam negeri ?Di dalam negeri perbankan nasional kita belum maksimal, baik itu dari sisi pembiayaannya..ya belum bisa on top, paling tidak ada kombinasi luar dan dalam negeri. Mungkin ini karena bunga yang nggak menarik. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads