Wawancara Khusus Dirut Indosat (2)
Tak Terganggu Tuntutan Buy Back
Rabu, 13 Jun 2007 13:10 WIB
Jakarta - Menjadi orang nomor satu PT Indosat Tbk tidak melulu mengerjakan masalah-masalah teknis dan target kinerja. Menjadi Dirut Indosat juga harus siap-siap pasang badan menanggapi tuntutan permintaan buy back saham Indosat. Bukan apa-apa, karena publik memang lebih banyak bertemu dengan manajemen ketimbang pemegang saham. Sehingga wajar jika direksi kerap ditanyai masalah buy back saham Indosat dari Singapore Techologies Telemedia (STT).Lalu bagaimana Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam menghadapi tuntutan tersebut?Berikut wawancara khusus reporter detikFinance Irna Gustia, Dadan Kuswaraharja dan Achmad Rouzni Noor II dengan Johnny yang berlangsung santai di ruang kerjanya, Gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (12/6/2007).Saat ini banyak pihak yang menginginkan Indosat kembali jadi perusahaan negara melalui buy back. DPR juga mendesak hal yang serupa. Bagaimana Anda menghadapi tekanan eksternal seperti ini ?Kalau menurut saya dari posisi manajemen, masalah buy back itu masalah antara pemegang saham. Sedangkan posisi saya di sini sebagai manajemen, bagaimana membuat perusahaan ini lebih baik, siapa saja pemegang saham kita harus bekerja membangun. Kalau terlibat di sana nanti kita tidak fokus dalam pengembangan Indosat, dan memang itu di luar wewenang kita.Walaupun publik tahu masalah buy back adalah urusan pemegang saham STT dan pemerintah, tapi tetap saja kan Anda ikut ditanyai ? Saya normal-normal saja, tapi apa yang bisa saya lakukan. Saya harus beli? Darimanalah bukan saya yang punya. Ha ha ha.Apakah tuntutan buy back saham Indosat yang terus menerus itu sampai menganggu kinerja perusahaan ?Menurut saya itu hanya suatu dinamika dalam organisasi, normal-normal sajalah hal-hal seperti itu.Jadi soal buy back saham Indosat biasa saja menanggapinya ?Yang penting kita fokus bagaimana membawa Indosat ini lebih baik begitu. Jangan jadi kita ikutan terlibat politik. Tidak ngerti karena saya bukan orang politik. Tapi tidak buta poltik kan ?Lho iya, jangan buta banget. Yang penting kita bisa menjelaskan, apa yang ingin kita capai, bagaimana kinerjanya sampai saat ini, bagaimana pelayanan supaya bisa lebih baik.Anda memperkirakan sampai kapan tekanan publik soal buy back seperti ini ?Menurut saya kalau perusahaannya makin lama makin bagus, makin maju, lama-lama hilang sendiri. Yang penting adalah masyarakat, karena ini adalah perusahaan yang ada di Indonesia, bisa melayani dengan baik, bisa menunjukkan hasil yang baik, membuka lapangan pekerjaan. Setelah Anda menjadi Dirut Indosat, apakah ada perubahan kebijakan misalnya dari budaya kerja ?Kalau dari kegiatan karena seperti yang saya jelaskan tadi saya bagian dari manajemen yang lama. Target segala macam kita bangun secara bersama, jadi menurut saya karena saya sudah involve (terlibat) dari dulu sama dengan direksi yang lain.Kita akan meneruskan apa yang sudah dicanangkan bersama, yang perlu kita highlight adalah setelah kita integrasi jaringan, masalah perangkat teknis, merger itu kan, sekarang saya saya akan fokus di masalah orangnya.Kemarin semua orang sibuk dengan masalah jaringan, urusan ini itu. Sekarang bagaimana, kan dari berbagai macam perusahaan dengan berbagai budaya, bagaimana kita sekarang membangun dengan budaya Indosat. Jadi lepaskan baju-baju lama mereka apakah mereka itu eks Indosat, eks Satelindo, eks IM3 Satu baju Indosat itu memang keinginan Anda ?Iya. Jadi sekarang sudahlah, sekarang kita semua bajunya Indosat.Apakah itu kiat untuk menjalin harmonisasi di antara karyawan ?Iya, menurut saya harus tercipta supaya kerjanya semua enak gitu kan. Itu biasa kalau perusahaan yang berasal dari berbagai macam kultur, pemegang sahamnya ada berbagai macam, itu biasa tapi bagaimana kita menjadikan itu kultur Indosat.
(ir/qom)











































