Wawancara Khusus Dirut Indosat (3)
Lebih Suka Garap Pasar Lokal
Rabu, 13 Jun 2007 14:46 WIB
Jakarta - Di bawah bendera Singapore Techologies Telemedia (STT), mestinya PT Indosat Tbk bisa mengepakkan sayap bisnisnya di pasar luar negeri dengan mudah, seperti pesaingnya Telkom yang sudah melirik pasar Equador.Namun rupanya Indosat tidak terlalu ngoyo menggarap pasar asing. Alasannya, pasar domestik jauh lebih besar dan lebih menarik.Dengan sejumlah inovasi baru, Indosat mencoba terus menerebos persaingan yang makin ketat di tanah air.Apa yang dilakukan Indosat agar tetap menjadi pemain besar di tanah air? Lalu apa yang akan menjadi produk andalannya selain seluler?Berikut wawancara khusus reporter detikFinance Irna Gustia, Dadan Kuswaraharja dan Achmad Rouzni Noor II dengan Dirut PT Indosat Tbk Johnny Swandi Sjam, yang berlangsung secara santai di ruang kerjanya, Gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (12/6/2007) sore.Indosat dengan membawa bendera STT tentu punya peluang besar menggarap pasar luar negeri, kenapa itu tidak dilakukan ?Lho pasar domestik saja masih besar. Orang luar saja masuk Indonesia untuk mengambil pasar Indonesia, boro-boro kita mau kesana. Tapi ada peluang kan untuk menggarap pasar di luar negeri ? Ya peluang ada saja, tapi kita lihat peluangnya besar dimana Indonesia atau di sana. Boleh-boleh saja kalau kita lihat mana peluangnya yang lebih menarik. Yang saya pelajari di Indonesia, penetrasi pasarnya masih tumbuh tinggi, ngapain kita pusing-pusing cari keluar kalau di Indonesia pasarnya masih besar. Orang di luar saja cari ke sini, Malaysia dan Singapura dia berani masuk ke luar negeri karena peneterasi di dalam negerinya sudah tinggi 80-100 persen, jadi dia memang kalau mau memperluas pasar harus ekspansi.Punya target masuk Fortune 500 company dunia ?Kalau dibilang target, kita tidak pernah dikatakan harus begini menjadi 500 perusahaan terbaik dunia (oleh pemegang saham). Tapi keinginan kita sebagai manajemen sebagai karyawan di sini bagaimana membuat perusahaan ini lebih baik. Jangankan 500 kalau bisa yang lebih baik begitu ya. Itu tugas kita bagaimana membawa ini lebih baik, tetapi kalau ditanyakan pernah ditargetkan enggak (oleh pemegang saham), dia memberi kebebasan kepada kita, yang penting bagaimana value perusahaan ini meningkat menjadi lebih baik, dapat melayani masyarakat dengan baik. Sekarang kompetisi antar operator semakin ketat. Cara memenangkannya bagaimana ?Kompetisi itu menarik, kalau saya sangat menyukai kompetisi, itu membuat kita menjadi jauh lebih kreatif, jauh lebih dinamis, kalau tidak banyak saingan kita juga jadi lambat, tidak kreatif juga. Kalau sekarang kan kita harus inovatif, wah disana bikin itu, kita bikin apa ya. Supaya market share kita tidak turun, supaya kita berkembang, jadi lebih menarik.Tidak khawatir dengan kompetisi sekarang, apalagi pesaing lain sudah mengincar posisi kedua yang dipegang Indosat ? Kalau menurut saya sih normal-normal saja, setiap perusahaan pasti ingin menjadi nomor 2, lalu kita nomor dua ingin jadi nomor satu, yang nomor satu tetap ingin nomor satu. Itu kan suatu hal yang normal, yang penting bagaimana kita dalam suasana kompetisi ini terus tumbuh, kalau bisa tumbuhnya kita itu melebihi kecepatan pertumbuhan mereka.Selain mengandalkan bisnis seluler, apalagi keunggulan Indosat untuk memperbesar pasar domestik ? Kita kan punya tiga main business. Pertama seluler ini yang memberikan kontribusi revenue cukup besar sampai triwulan I-2007 sebesar 77 persen. Kemudian kita punya jasa bisnis yang lama IDD (International Direct Dial), termasuk didalamnya ada StarOne itu fixed voice yang kontribusinya sekitar 7 persen. Sisanya adalah yang kita sebut MIDI (multimedia interactive data communication).Nah kita lihat yang kedua ini menjadi feature kalau IDD, yang akan kita kembangkan lebih banyak adalah di StarOne. Bagaimana kita bisa membangun suatu jaringan komunikasi yang baik, fixed wireless.Yang ketiga ini akan tumbuh lebih cepat, karena kita tahu peneterasi internet masih rendah Indonesia. Tapi kalau kita bisa bangun akses jaringan yang lebih banyak pilihannya kepada pelanggan. Apakah itu jaringan fiber optik yang kita bangun untuk perkantoran, apakah kita bangun juga kepada residential market, baik itu melalui 3,5G kita.Yang penting bagaimana membangun akses yang lebih banyak bagi masyarakat untuk mengakses internet. Kalau kita bisa membangun itu saya pikir pertumbuhan internet akan lebih pesat, karena semua orang sudah bisa mengakses dimana-mana.Di Indonesia problem masih rendahnya peneterasi karena infrastruktur aksesnya yang belum mendukung. Sekarang kita membangun infrastruktur dari jaringan yang sudah kita miliki. Apakah jaringan GSM, jaringan CDMA yang kita punya, atau jaringan korporat yang kita punya.Soal pengembangan StarOne kenapa sangat lambat, kalah dengan operator CDMA lainnya ?Ini kan masalahnya begini, kalau teman tahu sejak 2 tahun lalu, di Jakarta kita harus pindah dari frekuensi 1.900 ke 800 MHz. Dan baru diumumkan alokasi kita di 800 Mhz pun baru akhir tahun lalu. Nah pada saat periode tersebut, kalau kita agresif, ini kan akan repot. Karena akhirnya kita harus menambah kapasitas-kapasitas dan nantinya tidak bisa dipakai lagi, itu yang pertama.Masalah kedua pelanggan sudah membeli handset 1.900, akhirnya juga harus kita kompensasi, jadi kita menunggu. Sekarang frekuensinya sudah ada kita lagi proses migrasi Insya Allah September selesai, Oktober kita mulai memanfaatkannya.Kalau baru mulai Oktober apa tidak terlalu lama karena pesaing lain bergerak sangat cepat ?Kenyataannya kita baru terima tahun lalu, dan migrasinya butuh waktu. Bukan karena kita tidak serius, kita makin agresif juga makin pusing kita karena peralatannya harus diganti juga.Target pelanggan StarOne sampai akhir tahun berapa ?Sekarang kita punya sekitar 500.000 pelanggan, kita harapkan mungkin sampai akhir tahun 800 ribu sampai 1 juta pelanggan. Kalau market lebih besar di Jawa.Bagaimana Anda melihat bisnis seluler saat ini? Pertumbuhan yang tinggi sekarang bisa bertahan sampai kapan? Menurut saya ketika market peneterasinya sekitar di atas 40-50 persen, mungkin pertumbuhannya agak lambat. Sekarang kan sampai akhir tahun lalu yang GSM itu penetrasinya baru 27 persen kalau sama CDMA jadi sekitar 31 persen.Nah barangkali masih punya waktu sekitar 2 tahunan lah dia masih akan tumbuh tinggi. Habis itu tumbuhnya pelan bukan stagnan tapi tumbuhnya lebih pelan.Soal operator baru seluler yang masuk, apakah masih bisa menikmati pasar saat ini yang sudah dipenuhi banyak operator?Itu tergantung strategi masing-masing, kalau bisa sih, pasti bisa-bisa saja. Cuma kalau dari pengalaman di negara lain, satu negara itu tidak banyak operatornya paling 3 atau 4. Akhirnya setelah penetrasinya tinggi mencapai 40-50 persen tumbuh merger-merger.Setelah pertumbuhan seluler melambat yang menonjol kedepan apa ?Dengan akses yang semakin banyak dinikmati masyarakat, berikutnya yang akan tumbuh kembang adalah industri konten seperti detikcom. Menurut saya sih sekarang sudah mulai banyak ya konten, cuma kalau kita tahu berdasarkan pengalaman di luar negeri konten yang laku itu adalah konten lokal, hanya sayangnya disini konten lokal belum banyak. Kalau kita lihat yang maju itu Jepang dan Korea, dalam konten 3G, itu karena konten lokalnya banyak. Kita contoh saja yang banyak, ring back tone itu kan yang dipakai orang kebanyakan kan musik lokal. Konten lokal bukan konten asing. Kita harapkan ada detikcom, ada jam ada menit dotcom. Ha ha ha.Kalau itu banyak masyarakat yang terjaring banyak, industrinya akan berkembang. Itu dari segi berita barangkali ya, ada game, seperti yang terus kita sosialisasikan kepada masyarakat. Kita ajak konten provider mengembangkan game, macam-macam lah.Akhirnya kalau menurut saya kedepan yang berkembang itu adalah konten, detikcom is already on the right track menurut saya.Kenapa Indosat tidak masuk bisnis konten, kan kedepan prospeknya sangat bagus ?Ya kita punya kompetensi masing-masing, kita bangun jaringannya, teman-teman bantu kontennya lah, he he he.
(ir/qom)











































