Menjadikan Buyer Sebagai Raja

Wawancara Kepala BPEN:

Menjadikan Buyer Sebagai Raja

- detikFinance
Selasa, 13 Nov 2007 16:17 WIB
Menjadikan Buyer Sebagai Raja
Kuala Lumpur - Pembeli adalah raja. Itu harga mati. Kalau mau dagangan laku keras, perlakukan pembeli layaknya raja. Itulah konsep yang diadopsi oleh Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk menggaet sebanyak mungkin para buyer produk Indonesia dari luar negeri.Sementara untuk para eksportir, BPEN juga akan membantu untuk meningkatkan kualitas dan produk pemasarannya. Semua itu dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan ekspor sebesar 20% pada tahun 2007.Untuk mengetahui strategi khusus BPEN yang merupakan lembaga dibawah Departemen Perdagangan, reporter detikFinance Arin Widiyanti melakukan wawancara khusus dengan Kepala BPEN Bachrul Chairi.Wawancara dilakukan disela-sela kesibukan Bahcrul mengurusi pameran produk ekspor dan pariwisata 'Trend Indonesia 2007' di Kuala Lumpur, Malaysia yang berlangsung 10-13 November 2007. Anda baru saja dilantik menjadi Kepala BPEN setelah sebelumnya posisi ini vakum selama beberapa tahun, apa target anda dalam memimpin BPEN ?Visi saya membawa BPEN bermanfaat bagi dunia usaha. Untuk itulah pembenahan didalam dikonsentrasikan BPEN menjadi fasilitator khususnya kompetensi sebagai market intelligence. Seperti informasi pasar karena promosi bagian akhir dari pengembangan. Info inilah yang dipakai untu menyesuiakan diri kemudian pilih tempat tujuan ekspor yang tepat, setelah itu dicarikan kontak dagang.Market intelligence harus kuat, info akurat, tepat waktu dan bisa disebarluaskan. Buyer yang datang harus dikelola, kita bikin jadi raja di negara kita, kita kasi dia red carpet treatment. Selama ini kita tidak tahu siapa saja yang datang, siapa tahu nyasar atau ditipu di taksi. Kalau buyer datang ke BPEN, kita langsung temukan dengan para produsen. Perbaikan ini yang harus terlihat di tahun kdepan, sebagai pendongkrak eksporBagaimana kondisi ekspor kita saat ini ?Saat ini partner dagang terbesar nomor satu RRC US$ 5,8 miliar, kedua Uni Eropa US$ 5,5 miliar, Jepang US$ 4,6 miliar, USA US$ 3,4 miliar, Singapura US$ 2,89 miliar, malaysia US$ 1,5 miliar dan Malaysia US$ 1,5 miliar.Dampak oil boom ada 2 hal, dampaknya terasa dalam 3 bulan terakhir 2007. Karena dengan kenaikan harga minyak turut mendongkrak harga komoditas seperti CPO dan karet. 2007 ini target tertinggi 20 persen dan target medium 14,5 persen, kemungkinan akan tercapai 20 persen karena data BPS sudah ada pertumbuhan 19%. Untuk 3 bulan ini belum tahu. Untuk itu kita harus segera terobos negara non tradisional itu.Apa saja strategi peningkatan ekspor ?Kenaikan harga minyak dunia punya dampak, pasar ekspor Indonesia di negara maju mengalami slowing down seperti Amerika, Eropa dan Jepang. Untuk itu untuk mengkomposite penurunan ekspor tersebut dengan membidik negara non tradisional yang akan menjadi pusat pertumbuhan baru khususnya produsen minyak yang mendapat windfall profit seperti Rusia, Kazakhstan, Malaysia dan Nigeria agar expenditure-nya dibelanjakan untuk produk asal Indoensia.Indonesia cenderung mengekspor lebih banyak bahan baku ketimbang produk olahan, apa langkah BPEN untuk mendorong peningkatan ekspor produk yang memiliki value added di dalam negeri ?Pemerintah sudah mulai menyadari penghapusan PPN produk primer bukan merupakan suatu kehilangan pendapatan, tapi opportunity penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Untuk itu perlu segera realisasi dan perluasan penghapusan PPN produk primer.Saat ini sumber daya alam memang masih dominan untuk itu perlunya sumber daya alam tersebut diolah didalam negeri tapi dengan adanya UU penanaman modal telah membuat iklim investasi asing kian kondusif dengan adanya beberapa insentif. Dalam kerangka ASEAN, komponen otomotif menjadi kekuatan kita situ kekuatan kita. Gencar perbaikan infrastruktur agar kelancaran arus barang ekspor dapat terwujud.Bagaimana hubungan dagang RI-Malaysia pasca beberapa konflik yang terjadi antar dua negara ?Rata pertumbuhan perdagangan antara Indonesia-Malaysia dari tahun 2002-2006 mencapai 24,62% per tahun. Tahun 2006 total perdagangan Indonesia-Malaysia mencapai US$ 7,3 miliar. Angka ini naik 30,9% dibanding tahun 2005 sebesar US$ 5,6 miliar. Dalam periode Januari-Juni 2007 total perdagangan bilateral kedua negara sudah mencapai US$ 4,8 miliar.Tingginya angka perdagangan tersebut menjadikan Malaysia sebagai partner perdagangan Indonesia terbesar keenam. Lima produk utama Indonesia yang diekspor ke Malaysia adalah produk elektronik, produk kimia, produk pulp and paper, komponen kendaraan bermotor dan bahan tambang seperti batubara dan nikel.Investasi Malaysia ke Indonesia juga terus tumbuh. Tahun 2006 lalu nilai kumulatif dari investasi sektor swasta Malaysia di Indonesia mencapai US$ 2,1 miliar dengan 165 proyek seperti perkebunan, properti dan pendidikan. Wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia juga tergolong tinggi. Malaysia masuk dalam kelompok 10 besar negara asal wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.Namun surplus Indonesia dalam balance of trade kedua negara mengalami penurunan setelah impor minyak dari Malaysia terus naik dalam 5 tahun terakhir. Dari yang sebelumnya hanya US$ 246 juta sekarang mencapai US$ 1,5 miliar ada kenaikan hingga 50 persen. Meski demikian ekspor non migas terus meningkat.Target pertumbuhan ekspor 2008 ?2008 kembali lagi harus melihat pergerakan harga minyak, pencetus kenaikan harga minyak akibat tensi di Turki apabila sudah mereda harga minyak akan normal kembali, dan roda perekonomain dunia kembali pulih. Ada kekhawatiran di tahun depan apabila harga minyak turun harag komoditi ikut turun tapi disatu sisi kita sudah menyiapkan iklim investasi yang kondusif dalam rangka peningkatan value added di dalam negeri.Tahun depan kita belum bisa berikan berapa target ekspor, karena kita belum selesai menghitung, denagn mempertimbangkan dampak kenaikan minyak dunia dalam 3 bulan terakhir 2007. (arn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads