Meski sempat ikut terseret krisis subprime mortgage di AS pada awal Agustus, IHSG cepat memulihkan diri. Rekor tertinggi terus tercapai meski sesekali terantuk oleh lesunya bursa-bursa utama dunia.
Sementara porsi partisipasi investor lokal juga tak bisa diremehkan lagi. Investor lokal secara perlahan mulai mengambil porsi investor asing di pasar saham.
Jumlah investor pun kini sudah mencapai 1 juta. Bursa Efek Indonesia (BEI) yang merupakan gabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) meyakini pada tahun 2008 investor akan mencapai 2 juta.
Untuk mengetahui bagaimana perkembangan lantai bursa selama tahun 2007, detikFinance mewawancarai Dirut BEI Erry Firmansyah. Wawancara dilakukan di kantor BEI, Gedung BEJ, Jakarta, Kamis (27/12/2007) sore.
Di awal tahun indeks ditargetkan hanya naik 20% menjadi 2200, sekarang sudah 2600 bagamana Anda melihatnya?
Alhamdulillah indeks sudah naik 60% ini suatu kondisi yang sangat memuaskan kita. Tidak hanya indeks naik tapi juga likuiditas meningkat signifikan dari rata-rata Rp 1,8 triliun menjadi Rp 4,2 triliun. Jadi kita lihat indeks ditopang oleh likuiditas yang cukup tinggi. Itu berati ada confident yang tinggi terhadap pasar kita baik oleh foreign maupun lokal.
Satu hal yang juga menggembirakan di tahun 2007 ini adalah meningkatnya partisipasi investor lokal, kalau kita lihat dulu 65% adalah asing sekarang mungkin 50:50. Jadi kita lihat masyarakat sudah melihat investasi dipasar modal sudah menarik dan menantang meski ada resikonya. Apa yang kita lakukan sudah mulai kelihatan hasilnya walaupun masiih jauh dari yang kita harapkan misalnya partisipasi dari investor ritel. Memang yang kita harapkan adalah investor ritel masuk dan belajar malalui reksadana.
Sekarang jumlah investor sudah berapa?
Kalau saya boleh klaim mungkin sudah satu juta investor. Itu semua, di saham, reksadana, unit link dan ORI (Obligasi Ritel Indonesia).
Berarti target 2 juta investor akhir 2008 akan tercapai?
Insya allah.
Sejak bulan agustus kapitalisasi pasar bursa sudah melebihi dana pihak ketiga di perbankan, bapak melihatnya bagaimana ?
Ini berarti ada pertumbuhan yang cukup signifikan dipasar modal kita. Pasar modal sudah menjadi tempat investasi menarik bagi investor. Ini juga memberikan sinyal positif bahwa pasar modal seperti perbankan sudah bisa memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dan kita tidak mlihat bank sebagai kompetitor melainkan komplemen satu sama lain. Kita membangun ekonomi secara bersama-sama, pasar modal dan perbankan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Dibanyak negara juga seperti itu.
Dari daerah, seperti Jawa Timur banyak investornya?
Cukup banyak. Waktu 2003 kita buka PPM (pusat pasar modal) di Malang hanya 6 anggota bursa dan rata-rata hanya Rp 77 miliar per bulan, sekarang sudah Rp 1 triliun per bulan dan 13 anggota bursa. Akhir bulan kita relokasi ke Jember karena Malang sudah cukup mapan, kta juga bisa monitor dari Surabaya. Kita pilih jember karena disana pertumbuhan ekonominya baik, potensinya cukup baik karena meng-cover Banyuwangi yang banyak pabrik perikanan, Probolinggo yang memiliki pelabuhan Jember sendiri juga ada tembakau dan lain-lain. Banyak pesantren juga untuk garap produk
syariah. (qom/ir)











































