Merger kedua bursa ini lebih cepat dari jadwal semula 2008. Namun proses penyatuan operasional dan sumber daya manusia tidak secepat pelaksanaan mergernya.
BEI masih saja berkutat untuk mensinergikan operasional dan SDM-nya. Untuk mengetahui sejauh mana perjalanan bursa hasil merger dalam sebulan ini, berikut wawancara dengan Dirut BEI Erry Firmansyah di gedung BEJ, Kamis (27/12/2007).
Sejak merger efektif sudah ada evaluasi dari sisi efisiensi dan perdagangan?
Merger kan baru sebulan ini, kita masih berkutat dengan operasi di dua hal. Kita sudah mencoba melakukan efisiensi dari tempat kerja dan sistemnya. Kalau ditanya hasilnya, ya sebulan belum kelihatan apa-apa.
Yang kita akan lakukan pertama adalah struktur organisasinya, harapannya kita akan meeting di akhir bulan ini untuk strukturnya kita finalkan. Kadiv-kadivnya kita finalkan, setelah itu baru bisa berjalan dengan lebih efisien di 2008.
Yang kedua adalah office, kita sudah pindahkan IT kesini semua pada hari Natal kemarin dari kantor Bapindo kesini semua.
Operasi saya berharap sudah pindah kesini semua walaupun tempatnya masih kecil, tapi tidak apa-apa sambil menunggu office di lantai 6. Tujuannya bukan hanya efisiensi biasa tapi efisiensi operasi dan komunikasi, monitoring dan supervisinya juga lebih mudah kalau disatu gedung. Saya targetkan semua selesai akhir Februari, karena tidak mudah punya operasi tiga dengan yang di Surabaya.
Apakah kantor yang di Surabaya akan ditutup?
Enggak, saya baru dari Surabaya kemarin. Surabaya kita pikir perlu dikembangkan sebagai sentra Indonesia Timur. Banyak peluang yang bisa digarap, untuk edukasi mahasiswa, calon investor dan calon emiten serta masukan input mengenai capital market.
Seperti apa blue print dari BEI?
Blue print yang finalnya belum ada, tapi blue print awalnya akan menjadi bursa pemain regional, berstandar dunia dan menjadi tempat berinvestasi yang paling menarik di kawasan.
Butuh berapa lama realisasinya dan langkah-langkah seperti apa yang akan
dilakukan?
Itu cita-cita, untuk mencapai itu bukan hal mudah. Pertama, kita harus konsolidasi internal. Kedua, kita harus siapkan aturan mainnya. Ketiga, kita siapkan produknya seperti apa. Mungkin dalam waktu 3-5 tahun kita bisa menjadi pemain regional.
Dengan pembukaan PPM didaerah apakah berarti BEI tetap akan meneruskan misi BES memfasilitasi emiten UKM?
Apa yang dilakukan BES kita akan teruskan, UKM memang menjadi salah satu hal yang kita fokuskan. Tapi UKM tidak semudah yang kita bayangkan karena UKM itu dengan nilai IPO yang katakanlah hanya Rp 25 miliar ditelikung satu orang selesai.
Problem UKM juga adalah harus ada market maker, peraturan market maker belum ada. Biasanya setelah listing saham UKM tidur karena kurangnya promosi, kurangnya pemahaman mereka dengan pasar modal. Kalau kita lihat problem di Malaysia juga sama , mereka punya seribu emiten dimana 50-60% adalah UKM yang tidak likuid. Belajar dari sana, kita ingin bursa tetap terbuka untuk semua usaha dari besar sampai yang kecil, tapi jangan sampai setelah masuk bursa sahamnya tidak likuid. Buat mereka dan buat kita hanya kaan menjadi beban, kita tidak mau. Kita carikan nanti jalan keluarnya. Kita ingin mereka bisa mendapatkan juga dana murah untuk mengembangkan usahanya.
(qom/ir)











































