Ingin Jadi Bursa Saham Favorit

Wawancara Dirut BEI (3)

Ingin Jadi Bursa Saham Favorit

- detikFinance
Jumat, 28 Des 2007 10:28 WIB
Ingin Jadi Bursa Saham Favorit
Jakarta - Setelah merger, Bursa Efek Indonesia (BEI) ingin menjadi tempat investasi favorit di kawasan regional. Untuk itu, manajemen BEI terus berbenah sembari merampungkan proses mergernya.

Manajemen BEI akan memacu jumlah emiten yang lebih banyak sambil menarik investor lokal berlomba menginjak lantai bursa.

Untuk mengetahui persiapan BEI menjadi bursa idola berkelas regional, berikut wawancara Dirut BEI Erry Firmansyah di gedung BEJ, Kamis (27/12/2007).

Dalam cetak birunya BEI ingin seperti apa?

Dalam blue print awalnya akan menjadi bursa pemain regional, berstandar dunia dan menjadi tempat berinvestasi yang paling menarik di kawasan.

Butuh berapa lama realisasinya dan langkah-langkah seperti apa yang akan dilakukan?

Itu cita-cita, untuk mencapai itu bukan hal mudah. Pertama, kita harus konsolidasi internal. Kedua, kita harus siapkan aturan mainnya. Ketiga, kita siapkan produknya seperti apa. Mungkin dalam waktu 3-5 tahun kiota bisa menjadi pemain regional.

Tantangan untuk menjadi bursa berkelas regional seperti apa?

Problem dikita banyak, seperti bagaimana kita bisa menarik masyarakat sendiri menjadi investor di dalam negeri. Inikan perlu sosialisasi yang cukup. Mungkin sekarang pasarnya sudah bagus, tapi mungkin masih jauh, karena saya perlu investor yang cukup banyak untuk menopang kekuatan kita sendiri. Kita berharap investor asing meningkat tapi kita berharap peningkatan investor domestik yang jauh lebih besar dari itu sebagai buffer. Jadi masih perlu sosialisasi yang banyak dan dalam. Dengan jumlah penduduk 230 juta, kita tidak bisa berpuas diri.

Kedua, jumlah emiten potensinya banyak tapi kendalanya transparansi. Suport menteri keuangan juga cukup banyak dalam memberikan insentif tapi tidak cukup hanya dengan insentif . Bagaimana kita membuka wawasan dari pengusaha untuk bisa transparan dan meraih dana dari pasar modal.

Kalau tahun-tahun lalu target emiten tidak tercapai, itu saya ingin menunjukkan ada problem di negeri kita bahwa pengusaha enggan masuk k pasat modal. Saya bisa revisi target, tapi saya tidak mau karena saya ingin berikan warning ada masalah dan ternyata respons menkeu sangat positif.

Tahun ini cukup lumayan, tahun depan juga responnya cukup bagus. Yang ketiga adalah peraturan yang harus kita benahi agar pasarnya lebih likuid dan lebih menarik abik berkaitan dengan Bapepam maupun dengan BI. Ini yang kita coba benahi karena kita tidak bisa jalan sendiri, misalnya margin, bank dilarang memberikan pinjaman kepada sekuritas, ini kan tidak bisa tumbuh likuiditas tidak bisa naik. Untuk membuka cabang sekuritas juga bermasalah karena harus ada yang punya license, akhirnya tidak akan buka cabang di daerah.

Menariknya, ada aturan baru BI yang membebaskan bank membuka dan menutup cabang dengan bebas, dulu kan harus seizin BI. Kita pasar modal seharusnya lebih tanggap dari itu. Bagaimana kita bisa bersaing dengan bank, kita tidak punya outlet, tidak punya channeling distribusi didaerah. Akhirnya orang tergiur dengan SPI yang bodong-bodong itu yang memberikan return 4-5%. Kita harusnya melihat ini sebagai potensi.

Jadi banyak hal yang harus kita perbaiki. Kita tidak bisa berpuas diri indeks naik likuiditas naik, sebenarnya potensi bisa jauh lebih besar dari itu. Kalau dibanding dengan Singapura, kita transaksi sekitar Rp 4 triliun per hari, mungkin dia Rp 15 triliun. Sebenarnya kita bisa lebih besar dari itukalau kita bisa melakukan gebrakan. Dari kita sendiri juga ada kendala dari man power kita. Dengan penggabungan kita harapakn bisa memiliki resources yang cukup dan melakukan gebrakan yang lebih strategis ke daerah-daerah.

Selain kita ini juga tanggung jawab broker karena yang punya nasabah adalah broker seharusnya mereka yang rajin melakukan sosialisasi. Kendala mereka adalah dari sisi man power dan size mereka. Kalau diandalkan dari SRO, kita juga tidak mampu. Kita harapkan, bersama dengan broker dan asosiasibisa melakukan penetrasi pasar yang lebih komprehensif dan terpadu. Kita coba kerjasama dengan broker lokal seperti Danareksa, Bahana, Valbury, Sarijaya. Kita juga cukup ekspansif dengan e-trading, dengan online.

Kalau saya wawancara di radio responsnya cukup banyak, disitu kita bisa lihat potensinya. Tapi ada kendala komunikasi bagaimana kita bisa bertemu dengan mereka.

Apakah ada kerjasama dengan diknas untuk memasukkan kurikulum pasar modal?

Itu target kita untuk bisa memberikan pembelajaran pasar modal sejak dini, kalau bisa sejak dari SD. Sebenarnya kita sudah kerjasama dengan Depdiknas untuk SMA, kita ada pendidikan untuk guru-guru SMA dan kurikulum. Kita akan lebih intensif di tahun-tahun mendatang. Yang kedua, di kampus, kita banyak melakukan sosialisasi dengan Pojok BEJ, kita juga ada kerjasama dalam hal kurikulum. Tapi ada keterbatasan misalnya pengajarnya sendiri juga tidak seperti yang kita bayangkan, pemahamannya masih terbatas. Ini yang akan kita benahi kedepan. Karena pemahaman lebih dini lebih baik.

Mungkin kita akan terbitkan buku-buku, mulai untuk anak SD. Di Thailand ada buku yang memberikan pemahaman mengenai pasar modal untuk SD, kita juga akan coba. Dulu masalahnya adalah biaya dan waktu, tapi sekarang biaya bukan halangan, kita coba cetak buku-buku seperti itu.


(ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads