Gaet Investor dengan Produk Baru

Wawancara Dirut BEI (5)

Gaet Investor dengan Produk Baru

- detikFinance
Jumat, 28 Des 2007 11:23 WIB
Gaet Investor dengan Produk Baru
Jakarta - Selain produk konvensional seperti saham dan obligasi, Bursa Efek Indonesia juga akan giat membikin produk-produk baru. Tujuannya untuk menjaring investor agar 'berlama-lama' investasi di bursa.

Produk yang akan diterbitkan ituΒ  seperti derivatif dan ETF Exchange Traded Fund (ETF) atau reksa dana yang diperdagangkan di bursa.
Β 
Bagaimana kesiapan BEI untuk menerbitkan produk-produk baru itu, berikut wawancara dengan Dirut BEI Erry Firmansyah, Kamis (27/12/2007).

Produk-produk baru yang akan diterbitkan guna menunjang likuiditas pasar 2008 apa saja?


Selain produk konvensional kita perlu juga produk-produk derivatif. Kita lihat ETF baru di launching tapi masih perlu sosialisasi karena memang dikeluarkan diujung tahun dimana masyarakat sudah tidak terlalu fokus kepada itu.

Kedepannya kita akan membangun produk derivatif seperti structured warrant, yakni warran yang dikeluarkan oleh non emiten. Mungkin bosan mendengarnya tapi tahun depan kita akan fokus untuk itu. Kita dari direksi sudah sepakat meski belum difinalkan harus structured warrant.

Nanti tinggal stock option atau single stock futures akan kita kaji mana yang akan diutamakan. Kita juga akan membuat indeks bonds futures. Tidak terlalu banyak tapi kita ingin produk derivatif yang kita keluarkan sukses.

Kita sudah merasakan pahitnya produk derivatif tidak sukses. Di Bursa Efek Surabaya (BES) kita coba perbaiki LQ45. Ini merupakan suatu pelajaran buat kita bahwa meluncurkan produk tidak segampang yang diharapkan. Partisipasi dari teman-teman Anggota Bursa (AB) juga kita harapkan lebih konsisten.

Kita melihat ketika kita meluncurkan produk derivatif adalah awalnya committed tapi ternyata karena sahamnya tumbuh signifikan AB tidak mau pusing untuk berusaha mensosialisasikan derivatif ke nasabah. Tapi asing melihat pasar kita tidak punya hedging product, sehingga kalau indeks turun, bisa turun lebih dalam karena tidak ada hedging-nya. Ini yang akan kita benahi supaya kalau terjadi koreksi tidak menghantam terlalu dalam ke indeks.

Selama ini apa yang menjadi kendala bagi produk derivatif?

Pertama, dulu ada dikotomi, siapa yang boleh mengeluarkan, BEJ atau BES. Sehingga akhirnya kita gamang dan rebutan pasar. Akhirnya tidak 100% total untuk produk itu. Yang kedua, komitmen dari AB. Ketiga, sosialisasi yang akan kita perbaiki kedepannya.

Bagaimana evaluasi ETF?

Belum karena baru seminggu, tapi potensinya bagus sekali. Cuma memang perlu pemahaman dan sosialisasi. Bagi investor yang risk profile-nya rendah bisa masuk ETF.

Secara umum bagaimana dukungan pemerintah ke BEI, sudah cukup atau masih perlu insentif atau aturan yang mendukung?

Perhatian dari pemerintah khususnya menkeu baik sekali. Menkeu sangat care dan memiliki keinginan untuk membangun pasar modal. Karena implikasinya kalau pasar modal tumbuh bisa mendorong pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi. Buat pemerintah, dari sisi perpajakan bisa meningkatkan penerimaan dari sektor swasta. Menkeu mau memberikan insentif dan bertemu dengan calon emiten untuk mendengarkan keluhan mereka, itu sinyal yang kondusif bagi pasar modal. Kita todak berarap pemerintah mau mengeluarkan uang, tapi dengan perhatian seperti itu kita sudah terbantu.
Pemerintah juga sadar pasar modal menjadi harapan mereka untuk tumbuh.

Memang selama ini orang dengan gampang bilang indeks tumbuh tapi sektor riil tidak tumbuh. Tapi kita lihat sekarang, Telkom capex nya berapa, Astra capexnya berapa, tumbuh enggak sektor riil? Lihat saja berapa banyak orang pakai handphone.Β  Motor, tempat cuci motor tumbuh, bengkel juga tumbuh. Itu sektor riil. Orang tidak sabar. Kita juga harus lihat emiten di BEI baru 380-an dibandingkan dengan ribuan perusahaan yang belum masuk bursa, jangan dikatakan bisa langsung menunjukkan pertumbuhan sektor riil. Pertumbuhan sektor riil dari pasar modal pasti ada, tapi indeks tumbuh 50% sektor riil juga tumbuh 50% tidak mungkin. Tapi jangan diingkari kontribusi pasar modal ke sektor riil.

Seberapa signifikan pengaruh insentif pajak?

Itu juga banyak ditunggu calon emiten, merekaΒ  berharap yang 5% bisa diterapkan di 2008, tapi implikasinya kan 2009. Itu bisa mendorong lebih banyak.

Jadi insentif apalagi yang dibutuhkan dari pemerintah?

Seperti REITs, masih perlu dukungan pemerintah untuk perpajakan. Saat ini secara umum dukungan dari menteri sudah cukup tapi detilnya perlu koordinasi yang lebih bagus. Peraturan Bapepam mengenai REITs keluar tapi kalau tidak dibarengi dengan perpajakan tidak akan jalan.

Jadi insentif apalagi yang dibutuhkan dari pemerintah?

Seperti REITs, masih perlu dukungan pemerintah untuk perpajakan. Saat ini secara umum dukungan dari menteri sudah cukup tapi detilnya perlu koordinasi yanglebih bagus. Peraturan Bapepam mengenai REITs keluar tapi kalau tidak dibarengi dengan perpajakan tidak akan jalan.

Bagaimana BEI menyikapi wacana pengenaan pajak ganda ke reksa dana pendapatan tetap ?

Kita sudah koordinasi dengan pemerintah dan DPR bahwa reksa dana penting untuk sebagai sarana mengumpulkan dana jangka panjang. Sehingga perlu insentif yang menarik. Karena di Indonesia tidak ada long term financing. Bank kita berbasis deposito 1-3 bulan, bagaimana bisa biayai pembangunan jalan tol atau pabrik yang memakan waktu 3-5 tahun. Harusnya investasi di reksa dana diberikan insentif yang memadai karena investasi di reksa dana bukan hanya sebulan dua bulan paling tidak 3-5 tahun.

Bagaimana penegakan hukum pasar modal kedepannya?

Bapepam sekarang sudah fokus ke arah sana dan kita lihat itu juga sejalan dengan apa yang kita lakukan di bursa sendiri sebagai garis depan. Tapi memang mungkin perlu kerjasama yang bagus juga dengan pelaku pasar modal yang lainnya. Karena tanpa mereka kita juga tidak bisa apa-apa. Para pelaku pasar juga harus melihat kita ingin membangun pasar yang bagus dan kita hidup dari sini, mari kita bangun bersama.

Law enforcement
tidak hanya bisa diandalkan dari Bapepam dan SRO. Bapepam sudah menjalankan tugasnya dengan bagus, berani dan lebih tegas dalam memberikan denda sehingga memberikan efek jera. Orang mungkin melihatnya hanya denda, tapi memang tidak mudah. Saya sampaikan untuk bisa mendeteksi insider trading itu tidak mudah, karena biasanya putus di tengah jalan, orangnya yang orang yang disuruh pasang badan. Jadi kalau kita kasih ke penyidikan, kejaksaan atau kehakiman mentok juga. Orang melihatnya, hanya segitu saja, tapi tidak semudah yang dibayangkan, karena kita yang
melakukan pemeriksaan awal bisa melihat ini putus, karena kita punya keterbatasan maka kita tindak lanjuti ke Bapepam tapi ternyata memang putus.

Apa koordinasi soal penegakan hukum akan lebih dimantapkan dengan Bapepam?

Kita tetap koordinasi sebulan sekali dengan Bapepam. Kita hanya diberi wewenang pemeriksaan awal, kalau ada masalah kita lanjutkan ke Bapepam, tapi kalau tidak ada masalah kita stop. Koordinasi ini sudah kira lakukan dengan bagus sehingga Bapepam bisa memakai pemerikasaan yang kita lakukan sebagai dasarnya. Tapi di Bapepam sendiri ada biro teknis ada biro PP, hal ini memang memakan waktu bila perlu ditindaklanjuti dari biro teknis ke biro PP. Karena mereka yang bisa memanggil AB dan investor.

Ada berapa aturan baru yang dikaji dan dikeluarkan tahun depan?

Kebutuhannya akan kita lihat, tidak bisa ditargetkan akan buat 4-5 peraturan. Itu dengan Bapepam, yang kita sedang lihat sekarang adalah alokasi untuk IPO. Investor retail sekarang mengeluh bahwa tidak dapat porsi yang cukup. Tapi memang susah, saat bearish tidak ada yang mengambil, sehingga harus diadsorb oleh underwriter. Tapi begitu bullish meeka minta, underwriter yang keep karena mereka kompensasi begitu bearish mereka yang tanggung jawab sendiri. Kita coba bicarakan dengan Bapepam bagaimana mengatur ini untuk menunjang partisipasi retail dan likuiditas yang lebih baik. Tapi investor retail juga memang terbiasa menjual di hari pertama, sehingga perlu pendidikan. Jadi kedepan banyak peraturan yang akan kita perbaiki. (ir/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads