Kenaikan harga komoditi dipicu oleh meningkatnya permintaan secara tajam disamping nilai tukar dolar AS yang terus melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia terutama euro. Dengan melemahnya dolar AS, makaΒ harga komoditas pun menjadi semakin murah.
Dirjen Mineral, Batubara, Panas Bumi Departemen ESDM Simon Sembiring mengatakan, kenaikan harga komoditi tidak terhindari karena permintaan yang menjulang dari China dan India. Dan Indonesia, tidak akan bisa menikmati kenaikan harga itu jika tidak siap menghadapi kehausan dua negara yang meraksasa itu.
Berikut wawancara detikFinance dengan Dirjen Minerbapabum Departemen ESDM Simon F Sembiring di kantornya, Rabu (2/1/2008) sore mengupas apa sebeanrnya yang terjadi sepanjang tahun 2007 di sektor pertambangan mineral dan batubara.
Tahun 2007 bisa dikatakan tahun yang cemerlang untuk sector pertambangan. Dampaknya terasa sampai ke lantai bursa. Apa sebenarnya yang terjadi, apa hanya karena kenaikan harga komoditi semata?
Ada dua hal. Pertama memang tingkat konsumsi dunia memang naik. Sehingga terjadi hukum supply dan demand. Supply kan nggak bisa langsung ada, harus ada persiapan dulu. Seperti kita sekarang sudah mulai bicarakan mau produksi berapa tahun ini. Dengan begitu, kita jadi bisa menyesuaikan diri, makanya boom.
Perlu dilihat, kemarin naiknya ada dua hal, harga naik, dan volume juga naik. Kalau minyak kan harganya saja yang naik, tapi produksi turun. Yang namanyaΒ pertumbuhan, harga naik, produksi juga naik, jadi tumbuh. Tapi kalau produksi turun, harga naik, tidak ada pertumbuhan disitu. Minus.
Apa yang menyebabkan kenaikan harga komoditi minerba? Apa karena minyak mahal jadi banyak orang yang beralih ke batubara misalkan?
Itu salah satu, banyak factor. Pertambahan kebutuhan dunia naik. Penduduk tiap tahun bertambah. Seperti handphone, sekarang sudah sampai ke desa-desa. Di seluruh dunia. Artinya, disitu tembaga dll. Kebutuhan dunia memang sudah naik. Otomatis harga sudah naik dong karena hukum supply demand. Memang boom disamping factor India dan China.
China kan memang menganut policy impor semua. Punya dia didiamkan. Mungkin karena koleps terus tambangnya. Banyak orang mati disana. India sekarang manufacturingnya bagus. Pabrik baja, dll. Penduduk China dan India saja sudah setengah penduduk dunia. JadiΒ bisa dibayangkan. Sementara produsen nggak bertambah. Seperti produsen tembaga, kan itu-itu saja, Indonesia, Papua Nugini, Chili, dan Peru.
Kalau produksinya juga naik, berarti kan suplainya cukup, harusnya harganya bisa ditekan dong?
Kan kenaikannya tidak sebesar demandnya.Β Dunia ini kan punya stok sepeti di LME (London Metal Exchange). Kalau stoknya berkurang, dunia mulai gonjang-ganjing. Harga mulai naik. Jadi tergantung stok yang ada juga. LME umumkan tiap hari stok mereka. Seperti dulu Amerika punya stok timah 90 ribu ton. Yang mengontrol harga justru Amerika. Begitu harga naik, dia bisa lempar stoknya. Jadi kebutuhan itu tidak langsung untuk kebutuhan sehari-hari, ada stoknya. Jangan dikira demand yang dimakan tiap hari saja. Yang di gudang juga demand.
Komoditi apa yang paling kinclong di 2007?
Hampir semua logam harganya naik. Copper, nikel, emas, bauksit, timah, hampir semua. Apalagi batubara. Itulah trend dunia, jadi bukan hanya karena harga minyak naik. Itu memang men-drive juga, tapi tidak ada hubungannya antara minyak dengan logam-logam ini sebenarnya.
Kalau tembaga dan timah, begitu ada perang baru ada hubungannya. Seperti untuk peluru, senjata. Makin banyak bam bum bam bum makin banyak yang pakai. Makin banyak perang, harga bagus. Tapi bukan berarti saya doain perang, kita maunya damai. Tapi namanya perang siapa yang bisa menghindari. Lihat saja Pakistan sekarang?
Dunia ini bukan hanya suplai dan demand, tapi juga politik. Pasti ada pengaruhnya. Kalau Iran diancam, ladang minyak di bom, bisa-bisa negara lain buru-buru beli minyak untuk stok. Jangan dikira kebutuhan hanya untuk dipakai, tapi ada juga untuk jaga-jaga.
Kenaikan harga komoditi sejauh ini berdampak positif, tapi apa kira-kira yang terjadi jika tidak ada kenaikan harga komoditi? Apa targetnya tetap bisa tercapai?
Kebutuhan kan tetap tumbuh. Makanya butuh keseimbangan. Kalau harganya turun pun gak sedrastis langsung 50 persen, pasti ada slow-nya. Naiknya juga begitu. Kebutuhan telekomunikasi, China untuk Olimpiadenya. Transportasi, berapa yang jatuh. Sekarang penduduk tambah, pesawat tetap harus diproduksi untuk melayani mereka. Adam Air beli peswat, yang lain juga. Kan butuh bauksit tembaga. Ini lah catur dunianya. Belum lagi seperti tekstil, kulit. Ada yang alamiah ada yang buatan. Itu dari minyak.
Jadi apa yang terjadi di 2007 tanpa dampak kenaikan harga minyak?
Pasti tetap naik. Mengelola ini semua butuh energi. Cost energi naik, struktur cost naik. Tapi berapa persen? Porsi energy kan tidak 100 persen. Memang naik, tapi gak mutlak karena dia. Jadi wajar saja.
(lih/qom)











































