Saatnya RI Mendikte Pasar Timah

Wawancara Simon Sembiring (5)

Saatnya RI Mendikte Pasar Timah

- detikFinance
Kamis, 03 Jan 2008 12:02 WIB
Saatnya RI Mendikte Pasar Timah
Jakarta - Indonesia merupakan salah satu produsen timah utama dunia. Pengaruh Indonesia terhadap harga timah dunia begitu besar. Misalnya yang terjadi beberapa waku lalu saat tambang-tambang liar ditertibkan, harga timah dunia langsung melejit.

Dan tahun ini, pemerintah akan membatasi produksi timah nasional demi menjaga harga timah di pasaran. Kini saatnya Indonesia mendikte harga timah dunia.

Berikut wawancara detikFinance dengan Dirjen Mineral, Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon F Sembiring di kantornya, Rabu (2/1/2008) sore mengenai bagaimana Indonesia merajai pasar timah global.

Apa benar Indonesia membatasi timah?

Kita batasi produksi, supaya stabil harganya, kita harus lihat kebutuhan dunia. Kita berkesimpulan sementara ini produksi timah nasional di 2008 akan sekitar 90 ribu-100 ribu ton. Karena Kalau produksinya segitu, kan kita harapkan ekspornya maksimal begitu juga. Supaya maintain harga. Kalau dibanjiri juga harganya bisa turun.

Pertanyaannya kemudian, dari siapa saja. Maka kita ketemuan, saya, Depdagri dan Gurbenur. Kesimpulan rapat waktu itu ok, kita bicara kuota, tapi coba pemda approach para pengusaha untuk membagi diri. Timah berapa, Koba Tin berapa. Yang keluarkan ijin kan Bupati. Supaya kita jangan jor-joran. Perhatikan lingkungan juga.

Jangka panjang kita juga harus bermerek. Kita sudah bicara dengan LME. Bermerek supaya jangan sampai dijual ke Malaysia atau Thailand, kemudian dilebur lagi disana. Pak Eko gak terlalu salah. Bahasanya kuota, tapi sebenarnya itu produksi. Split of tangue saja di dalam SK nya.

Bedanya pembatasan produksi dan kuota?

Kalau produksi 10, kuota kan bisa saja cuma 5. Kan bisa distok sisanya. Ekspor itu bisa lebih, bisa kurang dari produksi. Kan bisa saja ekspor itu produksi ditambah stok.

Tapi kita sudah urus lagi , supaya SK-nya diperbaiki, yang mengatakan kuota-kuota itu. Tapi gampangnya kalau Thailand dan Penang masih melebur, mereka dapat dari mana? Berarti kan masih ada kebocoran.

Kita juga harus lihat strategis, karena termasuknya langka. Hanya diproduksi oleh lima negara. Indonesia, China, Thailand sedikit, Australia, Kongo, Peru. Secara teknologi, satu-satunya yang bisa mensubtitusi hanya emas. Tapi timah biasanya kan dipakai untuk solder, kalau pakai emas kan mahal. Tapi 25 tahun kedepam, timah masih berperan penting. Mana mungkin kita nyolder pakai emas. Makanya jangan jor-joran, jadi kita bisa kontrol harga. Kedua kalau harganya bagus, kan kita juga bisa kembangkan yang di laut. Bisa jadi ekonomis juga. Kalau harga turun, cost-nya jadi mahal.

Harga berapa sih yang diinginkan?


Sekarang sudah bagus. US$ 15.000. Kita maintain disitu. Karena kalau terlalu tinggi bisa-bisa Selandia Baru buka tambang lagi, jangan terlalu tinggi juga. Bisa over supply lagi. (lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads