Menurut Dirjen Mineral Batubara dan Panas Bumi Departemen ESDM Simon F Sembiring, pengembangan panas bumi saat ini mengalami dilema.
Disatu sisi investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan panas bumi begitu mahal sehingga menghasilkan listrik dengan harga yang tinggi. Tapi di sisi lain PLN sebagai satu-satunya pembeli mengaku tidak sanggup beli listrik dengan harga mahal karena harga listrik yang dijual juga tidak naik.
Bagaimana pemerintah menyelesaikan masalah ini? Berikut petikan perbincangan Simon dengan detikFinance di ruang kantornya, Rabu (2/1/2008) sore.
Potensi panas bumi Indonesia mencapai 27.00MW, sedangkan baru 900MW yang dikembangkan. Apa sebenarnya yang dilakukan pemerintah?
Panas bumi itu kan nggak bisa dipindah-pindah. Kalau minyak bisa dibawa-bawa, ini harus diolah disitu. Bikin tenaganya disitu. At all cost harus diterima. Kalau yang di Garut sih bagus. Bisa dicapai. Tapi kalau yang di Sarulla, masuk gunung, nggak ada fasilitas apa-apa.
Karena yang popular jadi listrik, mereka (investor) pingin tahu berapa sih harganya.
Memang UU kita monopoli, pembeli hanya PLN. Kalau kita sudah bicara kesitu, PLN nya angkat tangan. Alsannya, harga listriknya saja tidak berubah-ubah, murah. Kalau itu kan bukan urusan investor dong, urusan Jalan Banteng (Departemen Keuangan). Jangan paksa developer untuk jual murah. Merengeknya ke Jalan Banteng , tolehkan kepalanya kesana. Jangan kita yang ribut. Kasarnya begitulah keadaan sekarang.
Lalu solusinya bagaimana mekanismenya?
Makanya sekarang kita atur ada plafonnya. Jadi misalkan ada beberapa kategori, tiap kategori ada plafon atasnya. US$ 8 sen/kwh misalkan. Nanti itu dilelang, siapa yang bisa tawarkan lebih murah, dia yang menang. Tapi ini baru ancar-ancar tarif. Nanti kalau sudah eksplorasi, dia hitung, jadi tahu kan berapa bangun ini dan itu, baru diitung lagi semua. Bisa saja dalam ketentuan, kita bilang ini nggak boleh lebih mahal dari harga hasil lelang. Kurang boleh. Tapi kelihatannya PLN ogah. Alasannya saya nggak bisa jual listrik mahal. Kalau itu urusannya dengan,
Tapi kenyataannya memang PLN bergantung pada subsidi pemerintah.?
Ya tapi jangan merengek ke investor dong. Merengeklah ke Jalan Banteng. Jadi harganya di lelang, setelah dapat yang terendah, menang. Tapi nanti bisa dilihat lagi sesuai kebutuhan sebenarnya berapa. Tapi gak boleh lebih tinggi dari harga yang menang lelang itu. Siapa tahu lebih rendah. Apalagi kalau dapat CDM (clean development mechanism). Bisa lebih murah lagi.
Tapi PLNnya bilang, meskipun harganya lebih rendah tapi jual listriknya kan nggak bisa naik.
YahâĻmakanya saya bilang, itu urusannya Pak Purwono (Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi J Purwono) lah. Listrik kan urusannya Pak Purwono. Kalau nggak ada harga patokan nggak ada yang mau.
Sekarang kondisinya bagaimana?
Sekarang harga patokannya sudah mau keluar, sedang dikerjakan Pak Purwono. Harga patokan untuk lelang, yang paling murah yang dimenangkan. Kalau nggak ada patokan nggak ada yang mau.
Kapan lelang bisa dilakukan?
Kan sudah kita serahkan ke daerah, tinggal nunggu Pak Purwono aja nih. Dengan harga itu kita juga bisa tenukan kriteria pemenang. Dengan harga terendah.
Harga ekonomisnya berapa?
Nggak bisa begitu, ada satu sumur bisa 40 MW seperti di Wayang Windu milik Star Energy, ada juga yang 40 MW harus 8 bor. Makin banyak bornya kan investasinya makin mahal. Gak bisa ada pegangannya. Ciri khasnya gak bisa dibawa kemana-mana.
Lalu prospek pengembangan panas bumi di 2008 bagaimana?
Prosppeknya sih bagus. Apalagi kalau dapat CDM. Makanya kita kerjasama dengan Bank Dunia untuk memperlancar CDM nya.
Kerjasama seperti apa?
Mereka fasilitasi kita untuk melakukan appraisal, bantu ajukan CDM, karena CDM itu kan dari bank dunia.
Ini dilematis, kecuali UU kit agak monopoli, ada pihak lain yang boleh jual listrik, kita kan ada hanya PLN. Padahal kalau dibandingkan dengan minyak yang harganya 15 sen, jadi kalau ini 9 sen murah banget. Dia bandingkan dengan batubara. Kenapa sih getol sekali pakai minyak?
Rencananya mau dikembangkan sampai berapa 2008 ini?
Sampai 2025 kita mau kembangkan 9.500MW. 2008 kita bagi rata-rata saja. Yang simple aja lah.
(lih/qom)











































