Kalau bisa memilih, begitu kata Junino, ia akan memilih tetap di KPK. Tapi karena pemerintah menugaskan dirinya bercokol menjadi Direktur Utama Peruri, sebuah BUMN yang kerjanya mencetak uang dan security printing, mau tidak mau ia melakoninya. Ia resmi menjabat sebagai Direktur Utama Peruri menganggantikan Kusnan Martono, 3 Januari silam.
Lalu Apa yang membuat Junino lebih kerasan bekerja di KPK dibanding di BUMN yang gajinya jauh lebih besar? Dan mengapa ia ingin membuat perubahan besar di tubuh BUMN tersebut?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini KPK bikin gebrakan dengan membongkar sejumlah kasus korupsi kelas kakap, misalnya kasus penangkapan jaksa Urip. Bagaimana perasaan anda?
Saya sangat senang tentu. Yang menangkap jaksa Urip adalah bekas anak-anak buah saya di bagian intel KPK. Mereka saat itu menelepon ke saya. Karena memang hingga sekarang saya dan teman-teman di KPK masih sering kontak dan berbagi informasi.
Dengan gebrakan KPK yang sekarang, apakah berarti menepis sikap pesimis sebagian kalangan terhadap Antasari Azhar, sebelumnya?
Saya kira, sebenarnya hanya segelintir orang di KPK yang meragukan kepemimpinan Antasari. Tapi kita sudah memberikan penjelasan kepada mereka berikanlah kesempatan buat Antasari. Dan Bang Antasari saat melakukan pembicaraan dengan kita, saya lihat punya komitmen yang kuat dalam menjalankan tugas-tugas KPK. Dia juga sebelumnya sempat minta pendapat kepada saya tentang kasus-kasus yang akan menjadi tugasnya.
Yang juga perlu diketahui, di KPK siapapun pimpinanya tidak akan bisa macam-macam. Sebab sistem yang dibuat oleh pimpinan KPK sebelumnya sudah bagus sehingga penerusnya tinggal jalan saja. Kalau ada pimpinan atau penyidik yang cawe-cawe, semua orang di KPK sudah bisa membaca. Sebab tidak ada satu pun karyawan yang tidak mengetahui apa yang terjadi di KPK. Misalnya siapa yang masuk, kasus apa, dan kalau tiba-tiba bersih, karyawan KPK tahu semua.
Jadi Antasari tinggal jalan saja?
Iya. Misalnya kasus BI, Rusdihardjo, dan satu kasus besar lagi yang dalam waktu dekat ini akan meledak. Semuanya sudah matang dan siap digarap istilahnya.
Apakah satu kasus besar yang disimpan itu bagian dari kasus jaksa Urip?
Bukan. Sebaiknya jangan diungkapkan dulu lah. Sebab kasus ini pasti bakal banyak menyedot perhatian publik. Sebab ini kasus high profile.
Kalau kasus jaksa Urip itu hanya pengembangan dari pengaduan masyarakat baru-baru ini. Sebab KPK tidak pernah menggampangkan pengaduan masyarakat, sekalipun hanya berupa surat kaleng atau SMS. Semua akan kita selidiki. Tapi yang benar-benar bisa diseret ke pengadilan yang akan kita seriusi.
Dibilang tebang pilih ya memang benar. Sebab KPK hanya menangani kasus-kasus yang gampang-gampang saja, ibaratnya sudah matang. Sebab kalau menangani yang rumit-rumit bisa memakan banyak waktu dan anggaran. Sedangkan SDM kita terbatas sementara kasus yang masuk ke KPK ribuan jumlahnya.
Jadi kalau KPK sudah menangkap tidak mungkin tersangkanya bisa lepas lagi. Berbeda dengan kepolisian atau kejaksaan yang bisa melakukan SP3, sekalipun tersangkanya sudah ditahan.
Kalau bisa memilih, di lembaga mana yang menarik bagi anda. Bekerja di KPK atau BUMN, seperti sekarang ini?
Saya memilih KPK. Sebab saya meraya enjoy di sana. Saya sering bilang ke pimpinan KPK sekarang, kalau memang ada tempat saya ingin ke KPK lagi. Makanya dulu saat menjabat salah satu direktur di Indosat, saya kemudian pindah ke KPK. Tapi saya pernah bersumpah untuk mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan akhirnya saya pindah,walau berat. Memang kepindahan saya sempat mengundang rumor kalau saya pindah karena tidak cocok dengan pimpinan KPK yang sekarang. Padahal itu tidak benar.
Kenapa lebih senang di KPK dibanding BUMN. Apakah karena banyak 'ranjau'nya, seperti yang anda katakan sebelumnya?
Ha ha ha... Itu sebenarnya pidato saya waktu pelepasan tugas KPK. Dan memang di sini banyak ranjau dan baru sebulan saya bekerja di sini (Peruri) hampir kejadian. Ada salah satu suplier yang tidak dapat tender cuap-cuap ke DPR dan media, tanpa konfirmasi dulu ke kita kenapa alasannya. Akhirnya sempat ramai masalah itu.
Seberapa parah kondisi di Peruri?
Bom waktu yang siap meledak umumnya masalah penunjukan langsung. Karena memang kita terdesak waktu. Itu karena perencanaannya yang tidak benar. Makanya saya dan beberapa direksi ingin melakukan perubahan.
Berarti pemerintah menugaskan untuk membenahi kondisi di Peruri?
Kalau kondisi di dalam tidak banyak masalah. Seringnya masalah itu datang dari luar. Kebanyakan uang sogokan dari pihak suplayer. Makanya saya lebih difokuskan untuk berurusan dengan orang-orang luar tersebut. Kalau urusan di dalam Peruri sudah ada direksi lain yang mengurusi. Saya juga pernah dikirimi bingkisan dari salah satu suplier. Tapi saya kirim ke KPK karena menyangkut gratifikasi.
Kalau masalah bisnis Peruri bagaimana?
Bisnisnya sih oke-oke saja, karena captive market. Selama uang dicetak ya kita tetap bisa untung. Hanya sekarang ini kita ingin meningkatkan produksi non uang juga, yakni semua yang berkaitan dengan security printing. Setidaknya fifty-fifty. Kalau sekarang persentasenya baru 70-30. Untuk itu saya mau mengubah dan mencari peluang lain meningkatkan pendapatan dari produksi non uang (iy/qom)











































