Apa dan bagaimana rencana perusahaan baja Australia itu? Berikut penuturan Chief Financial Officer BlueScope Charlie Elias usai melakukan pertemuan dengan Menneg BUMN.
Pihak BlueScope Steel Limited datang untuk mengadakan pertemuan dengan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, di Kantor Kementerian Negara BUMN, Gedung Garuda, Jakarta, Kamis malam (8/5/2008). Hadir pula dalam kesempatan itu Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut hasil petikan wawancara Charlie Elias dengan beberapa wartawan usai pertemuan dengan Menneg BUMN:
Pertemuan dengan Menneg BUMN ini berkaitan dengan ketertarikan anda dengan Krakatau Steel?
Saya ingin katakan terlebih dahulu, saya sangat senang berada di Indonesia saat ini, merupakan sebuah kunjungan yang menarik ke Indonesia. Kami telah melakukan diskusi dan dialog yang sangat baik dengan beberapa departemen pemerintahan Indonesia untuk membicarakan mengenai progres dari proses privatisasi PT Krakatau Steel.
Seperti yang anda tahu BlueScope sudah berada di Indonesia selama 35 tahun, dan kami mempunyai hubungan yang erat dengan dengan Krakatau Steel. Oleh karena itu tentu saja kami tertarik dalam proses privatisasi Krakatau Steel dan mengetahui apa yang diinginkan dan menjadi perhatian pemerintah untuk Krakatau Steel ke depannya.
Lalu bagaimana hasil pembicaraannya, apa yang dapat anda tawarkan kepada pemerintah?
Pembicaraan tadi masih merupakan proses yang sangat awal sekali, tapi kami telah melakukan diskusi dengan sangat baik dan kami sangat menghargai proses dari pemerintah Indonesia. Saat ini masih terlalu dini dan tidak tepat untuk menyampaikan komentar lebih lanjut berkaitan dengan proses pemerintah. Kami menghargai proses tersebut dan menunggu hasil pertimbangan dan keputusan pemerintah.
Kenapa BlueScope tertarik dengan Krakatau Steel?
Seperti yang saya telah katakan tadi bahwa kami sudah 35 tahun berada di Indonesia dan mempunyai hubungan yang cukup erat dengan Krakatau Steel. Kami ingin memahami apa yang jadi keinginan pemerintah Indonesia terhadap masa depan Krakatau Steel.
Apa yang telah anda lakukan di Indonesia selama ini?
Selama 35 tahun tersebut faktanya kami telah berinvestasi secara signifikan, dan saat ini kami berinvestasi sebesar US$ 230 juta pada sebuah pabrik di Cilegon. Ini karena memang kami sangat tertarik dengan Indonesia.
Jadi apakah BlueScope akan menjalin kerjasama dengan Krakatau Steel?
Hal itu masih terlalu dini, karena kami baru melakukan pembicaraan awal. Kami tidak mempunyai ketertarikan yang spesifik, kami di sini hanya untuk memahami bagaimana proses privatisasi ini dan bagaimana kami bisa ikut berpartisipasi di dalam proses ini.
Jadi bentuk kerjasama apa yang anda tawarkan untuk Krakatau Steel?
Saat ini kami masih mempelajari untuk memahami apa yang menjadi tujuan pemerintah Indonesia. Jadi saat ini tidak ada yang dapat kami kemukakan. Kami sangat menyadari kewajiban kami untuk melakukan pelaporan dan akan menginformasikan kepada pasar bilamana ada hal-hal yang harus dilaporkan atau disampaikan.
(dnl/qom)











































