detikfinance
Perencanaan Keuangan
Aidil Akbar Madjid, MBA, CFE®, CFP®, RFC®
Wealth Planner™
Pakar Ekonomi Mikro & Keluarga
Chairman, IARFC Indonesia

Memilih Asuransi Pendidikan yang Tepat

Aidil Akbar Madjid - detikfinance
Selasa, 11/10/2011 10:25 WIB
Memilih Asuransi Pendidikan yang Tepat
Jakarta -Saya senang sekali membaca kolom tanya-jawab yang bapak asuh karena keterangan, informasi serta jawaban dari bapak sangat membantu saya. Saya memiliki sebuah pertanyaan yang saya rasa banyak dialami oleh ibu-ibu muda.

Saya seorang karyawati usia 32 tahun dengan seorang anak perempuan usia 1 tahun. Sejak saya masih hamil sampai sekarang banyak sekali agen asuransi yang menawarkan saya produk asuransi pendidikan. Apakah menurut Pak Akbar saya harus membeli produk tersebut untuk melindungi anak saya dari risiko kematian atau untuk pendidikan? Bagaimana cara memilih produk yang baik?

Terima kasih atas bantuannya.

Jawaban:

Ibu Mia yang saya hormati,

Terima kasih atas kesetiaan ibu dalam membaca kolom yang saya asuh. Sejak diluncurkannya asuransi yang disebut dengan Unit-Linked atau UnitLink banyak perusahaan asuransi dan agen-agen asuransi yang menawarkan produknya secara sangat agresif. Salah satu produk unggulan dari asuransi ini yang kemudian digabung atau dikemas menjadi asuransi pendidikan.

Jenis asuransi ini sebenarnya baru dimulai di Indonesia di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000-an. Apabila menilik dari karakternya, sebuah polis Asuransi atau asuransi jiwa secara spesifik adalah sebuah kontrak untuk melindungi resiko (resiko kematian pada asuransi jiwa) yang dapat dihitung nilai ekonomisnya.
Sementara itu, sebuah produk Unit-Linked yang kemudian dijual menjadi Asuransi Pendidikan bukanlah sebuah produk Asuransi murni. Asuransi ini mengandung unsur investasi dimana dalam kondisi ini kegunaan investasi jauh lebih tinggi dibandingkan kebutuhan asuransi ibu.

Apakah sebaiknya membeli produk ini atau tidak sangat Tergantung dari kebutuhan ibu. Secara pribadi dan dari ilmu perencana keuangan saya selalu menganjurkan untuk memisahkan antara produk asuransi dan investasi.

Pertama-tama tentukan kemana anak Ibu Mia kelak akan dikirimkan untuk bersekolah. Kemudian hitung berapa besar biaya pendidikan tersebut saat ini. Dengan menggunakan metode Time Value of Money (Nilai Uang terhadap Waktu), hitung kebutuhan dana tersebut dimasa yang akan datang sesuai dengan tahapan kapan anak tersebut masuk sekolah yang ingin dibiayai oleh Ibu dan keluarga. Banyak orang salah dalam mengartikan dan melakukan perhitungan ini. Salah satu statement saya yang sangat mengejutkan dan banyak di quote di beberapa media cetak dan online (silahkan ibu riset di internet) adalah, dengan biaya pendidikan 4 tahun kuliah di Universitas standar rata-rata fakultas FISIP atau Ekonomi saat ini sebesar Rp. 70 juta maka dengan inflasi 10% saja, dalam waktu 15-16 tahun lagi biaya tersebut akan menjadi Rp. 400 juta.

Bayangkan betapa tingginya. Perhitungan tersebut hanya menggunakan kenaikan 10%. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa inflasi rata-rata di Indonesia dalam kurun waktu 15 tahun terakhir adalah 12%-15%. Sedangkan kenaikan biaya pendidikan riil lebih tinggi dari ini bisa berkisar antara 20%-25%. Dapat dibayangkan bahwa ibu akan membutuhkan dana milyaran Rupiah untuk mengirimkan anak ibu kuliah kelak.

Kemudian hitung berapa besar premi yang harus Ibu bayarkan dan bandingkan dengan nilai tabungan pendidikan yang dapat ditarik ketika masa penarikan tiba. Dari situ dapat dilihat apakah dana yang akan diberikan cukup untuk memenuhi kebutuhan biaya-biaya sekolah anak Ibu. Hati-hati dan harus selalu diingat bahwa biasanya illustrasi dari perusahaan asuransi memberikan nilai investasi yang dapat ditarik (dibagikan) dalam nilai uang sekarang. Sebagai contoh sebuah produk dapat memberikan biaya pendidikan untuk masuk SD sebesar Rp. 5 juta nilai sekarang untuk 4 tahun lagi.

Sementara itu apabila uang pangkal untuk masuk sekolah yang sama sekarang sebesar Rp. 5 juta, dengan rata-rata kenaikan biaya pendidikan sebesar 20% per tahun, maka biaya uang pangkal untuk masuk ke sekolah yang sama 4 tahun lagi akan menjadi sebesar Rp. 10,370,000 (sepuluh juta tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah). Dapat dilihat dari ilustrasi diatas bahwa asuransi pendidikan yang dicontohkan diatas tidak dapat memenuhi kebutuhan dana pendidikan. Oleh sebab itu hitunglah dengan lebih hati-hati.

Hal lain yang harus juga diperhatikan adalah seberapa fleksibel nilai tunai atau tahapan dana pendidikan tersebut bisa ditarik. Banyak dari tahapan biaya pendidikan tidak bisa ditarik kecuali pada tahun-tahun yang telah ditentukan seperti tahun ke 7 untuk masuk SD, tahun ke 12 untuk masuk SMP dan seterusnya. Adapun dengan bertambahnya gizi dan semakin cepatnya anak-anak kita bersekolah maka ada kemungkinan dana tersebut tidak dapat ditarik sebelum saatnya.

Sangat disarankan untuk menghitung dengan teliti, melakukan perbandingan, meminta advice atau rekomendasi dari Perencana Keuangan (Financial Planner / Advisor) yang berpengalaman dan mengerti produk sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk asuransi pendidikan.



(qom/qom)

Baca Juga


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Yuk, Menabung Saham Jumat, 13/11/2015 09:22 WIB
    Yuk, Menabung Saham
    Kemarin Wakil Presiden Jususf Kalla (JK) meluncurkan kampanye menabung saham. Seperti apa bentuknya dan bagaimana caranya?


“Mau berinvestasi di pasar modal ? Mega Online Trading adalah solusinya”

www.megaonlinetrading.com

Info Lebih Lanjut